Fruity Loops Edisi macOS sudah Tersedia

Ini udah agak lama sih sebenernya. Gue aja yang telat tahu. Tahunya juga gara-gara Instagramnya Saykoji. Dulu pas menimbang-nimbang soal Logic Pro X, gak jadi milih FL Studio alesannya karena FL Studio gak ada di Mac. Selain itu, kudu beli VST banyak kayaknya. Harganya sama persis $199.

Anyway, setelah coba download versi trialnya, kayaknya emang kurang nyaman juga sih FL edisi macOS. Kaya ke-zoom gitu User Interfacenya.

Tapi wishlistnya tetep Ableton lah. Cuma harganya gak karu-karuan. Maklum, gue cuma pehobi aja.

Pengemudi BlueBird: Dari Jam 3 Pagi Sampai Malam, Saya Baru Dapat Segini, Mas!

Semalam saya akhirnya naik taksi lagi, karena butuh cepat, kelihatan BlueBird di jalan, langsung stop, terus berangkat.

Saya sebenarnya menghindari topik pembicaraan soal demo kemarin. Takut menyinggung atau salah paham. Karena saya kurang simpatik dengan aksi mereka. Tapi tak disangka, justru pengemudinya yang duluan mengajak saya berbicara soal ini.

Pengemudi (P): Lihat berita soal demo taksi kemarin, Mas?

Saya (S): Iya. Rame banget ya. (berusaha netral)

P: Saya ikut tuh, Mas. (bangga)

S: Oh gitu, dari perusahaan emang ngutus ya? (sekalian lah, saya tanya aja)

P: Enggak sih. Itu demo paguyuban pengemudi, perusahaan gak ada hubungan. Jadi tiap pool taksi ngirim 20 orang.

S: Tapi kok di jalanan kayaknya banyak banget, Mas?

P: Ya itu yang ikut-ikutan. Kalau yang resmi itu, di tangannya diikat pita hitam. Itu yang rusuh-rusuh itu bukan yang demo resmi, Mas.

S: Tapi tetep aja pengemudi BlueBird kan?

P: Yang seragam biru dan mirip kaya kami kan bukan BlueBird aja, Mas. Orang-orang main tuduh aja.

S: Lah, videonya jelas gitu kok. Orang justru jadi kurang simpatik karena jelas banyak bukti-bukti videonya, Mas.

..hening..

S: Tapi sebenarnya kalau Mas sendiri, apa sih yang dituntut soal Uber sama GrabCar?

P: Ya ijinnya, sama tarifnya, Mas. Tarifnya kok kaya gitu. Harusnya disetarain lah sama yang lain.

S: Kalau soal ijin, mungkin ya. Saya gak paham sih soal hukum. Kalau soal tarif, kenapa pengemudi gak minta ke perusahaan buat nurunin tarif ya? Biar sama gitu dengan Uber atau GrabCar?

P: Ya mana mungkin, Mas. Kami ini rugi terus sekarang sejak ada taksi online-online ini.

S: Saya gak tahu sih kalau misal diturunin, perusahaan jadi rugi atau enggak, tapi kalau lihat laporan keuangan perusahaan BlueBird sih, akhir tahun 2015 aja, keuntungannya udah 800-an miliar loh, Mas. Itu udah untung loh, Mas. Bukan pemasukan. Apa gak mending ngurangin keuntungan perusahaan biar pengemudinya gak pusing. Kasih promo, atau bikin aplikasi yang sekelas online-online itulah gitu.

P: (hening)

Lalu si pengemudi berganti topik Read more →

Novel-Novel Thriller Indonesia

[Ilustrasi: pexels.com]

Kalau ditanya soal film, saya senang genre thriller yang penuh intrik politik, “detektif-detektifan”, mafia, perebutan kekuasaan dan plot twist yang tak terduga. Contohnya seperti film Game of Thrones, House of Card, The Godfather, The Good Fellas, Billions, Designated Survivor, The Wire, Miss Sloane, dkk. Sayangnya, di Indonesia jarang sekali ada film bergenre seperti ini. Setahu saya (film modern) Indonesia yang bergenre seperti ini paling-paling cuma film “2014: Siapa di Atas Presiden?

Karena film Indonesia jarang yang bergenre seperti ini, akhirnya saya memutuskan berganti ke novel. Ternyata novel bergenre seperti ini pun jarang ada. Saya awalnya hanya tahu 2 novel karya Tere Liye saja yang masuk kriteria saya ini: Negeri di Ujung Tanduk, dan Negeri Para Bedebah. Cukup lumayan plotnya. Saya cuma kurang cocok di gaya bahasanya yang terlalu kaku. Mungkin niatnya nyeni gitu ya. Maklumlah, saya bukan pecinta sastra yang sampai gimana gitu.

Belakangan saya tahu ada novel Indonesia berjudul Sudut Mati karya Tsugaeda. Lumayan, tapi masih kurang nendang. Akhirnya saya baca novel pertamanya, Rencana Besar. Nah ini baru sesuai ekspektasi saya. Plot twistnya saya suka. Temanya juga gak umum, corporate-thriller gitu kalau bisa saya sebut. Selain itu ada intrik politik dengan serikat buruh. Keren.

Saya masih penasaran dengan novel-novel Indonesia lain. Ternyata ada yang temanya thriller, tapi berbau IT. Read more →

Plugin WordPress Jahanam

Lama saya baru sadar kalau tulisan-tulisan lama di blog ini tidak lagi bisa diakses. Baru sadar setelah iseng-iseng baca tulisan-tulisan lama saya sendiri. Secara naluri otomatis saya menyalahkan plugin-plugin baru yang saya pasang. Termasuk menyalahkan update WordPress terbaru.

Utak-atik sana-sini, lama baru ketemu apa penyebabnya.

Ternyata karena plugin Facebook OpenGraph, Twitter Card, dkk. ūüėź

Bereksperimen dengan Logic Pro X Membuat Dance Music

Selama beberapa tahun saya terbiasa menggunakan Digital Audio Workstation (DAW) yang bernama Ableton. Ketika masih di Windows, ataupun ketika sudah berganti ke laptop Mac. Kekurangannya, hampir semua instrumen bawaan Ableton tidak pernah saya gunakan. Mentok saya cuma gunakan untuk membuat white-noise.  Jadinya sangat bergantung dengan VST.

Setelah install ulang Mac saya dengan OS terbaru (Sierra), saya memutuskan berganti ke Logic Pro X. Agak berat sebenarnya, karena Logic ini hanya tersedia di Mac. Jika suatu saat nanti saya berganti ke OS lain, otomatis program ini tidak bisa saya gunakan lagi.

Saya nyaman sekali menggunakan Ableton sebenarnya. Tapi selain kekurangan di atas, harga Ableton juga mahal, $799, kalau dikonversi ke Rupiah menjadi sekitar Rp 10 juta.

FL Studio saya tidak begitu familiar, cuma pernah coba sehari atau 2 hari jaman kuliah dulu. Harganya sama dengan Logic sebenarnya, itu sudah termasuk berbagai instrumen VST. Sayangnya FL Studio tidak tersedia untuk Mac. Dulu sih mereka pernah meluncurkan versi Betanya untuk Mac. Tapi entah mengapa gak lanjut.

Anyway, akhirnya saya akhirnya membeli Logic Pro. $199, dirupiahkan kemarin menjadi Rp2,99 jt. Tapi ini sudah dilengkapi berbagai instrumen dan sampler. Selain itu kita bisa download sekitar 80GB sound sample dan loop, gratis, free royalti, resmi dari Apple. Jadi enggak perlu beli sample sound seperti Vengeance dkk, yang harganya justru lebih mahal dari Logic.

Setelah coba-coba selama sebulanan (yes, this is my first time using Logic), akhirnya berhasil jadi 1 lagu, genrenya dance music. Saya juga gak tahu ini genre Electro House, atau apa. Saya cuma pehobi amatiran. Kalau suka silahkan didownload via situs-situs downloader YouTube itu. ūüėÄ

Gimana, enak lagunya?

Harga Gadget Tiada Batas

10 tahun lalu, kalau denger ada henpon seharga sepeda motor, orang-orang pasti komentar “Gila..!”. Orang-orang kelebihan duit aja tuh yang bakal beli segitu.

Sekarang, harga ponsel bahkan ada yang lebih mahal daripada harga sepeda motor baru. Tapi orang-orang biasa aja.

Iya, dulu sih memang ada juga ponsel harga selangit. Tapi itu karena casing-nya berlapis emas. Atau ada juga karena yang diberi hiasan berlian. Lah kalau jaman sekarang, emang ponselnya yang segitu. Harganya hampir 20 juta.

Coba aja cek harga resmi iPhone 7 dan iPhone 7 plus di Indonesia, rentang harganya di belasan juta. Tapi walaupun semahal itu, nyatanya pre-ordernya laris loh. Siapa bilang di “rezim” sekarang ekonomi Indonesia menurun? Tuh, buktinya. Mantaplah pokoknya Indonesia. Haha.

Dokter 5-Menitan

[Ilustrasi: pixabay.com]

Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta.

  1. Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit.
  2. Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik itu dokter umum, maupun dokter spesialis. Biasanya lapor dulu ke suster di poli tersebut lalu diukur berat badan dan tekanan darah. Nah di sini bisa nunggu sampa 30 menit lebih. Saya pernah sampai 1 jam lebih.
  3. Ketemu dokter, ditanya¬†apa keluhannya. Tapi ketika saya jawab, dia sibuk nulis-nulis, atau kalau rumah sakitnya udah modern, dokternya sibuk ngetik-ngetik sendiri di komputer, sambil jawab pendek “Ooh.. Hmm.. Gitu ya..” Terus lanjut disuruh¬†baring, atau “coba duduk, matanya lihat atas”, atau “coba buka mulutnya”. Dipegang bentar, atau disenter bentar, terus sudah. Kurang lebih cuma 5 menitan.
  4. Dokter balik ke mejanya. Sibuk lagi nulis, atau ketik-ketik di komputer. Bisa 5¬†menitan. Ujungnya bilang “Jadi, saya resepin ini ya.. bla..bla..bla. Diminum aja seminggu dulu, terus nanti kontrol lagi ke sini.” Sudah.
  5. Keluar ruangan, laporan ke suster. Disuruh ke kasir. Sampai kasir kadang nunggu lagi, kadang enggak. Tergantung rumah sakitnya, pengaturan kasirnya bagus atau enggak. Ada lho rumah sakit yang untuk bayar di kasirnya saya harus nunggu 30 menit lebih. Sebabnya? Karena hanya ada 1 orang kasir untuk SEMUA pasien di rumah sakit itu.
  6. Selesai bayar di kasir, ke bagian farmasi/apotek. Ada yang sudah pake sistem komputer, nomor antrian ada di layar, ada juga yang dipanggil manual satu-satu. Nah kalau obatnya racikan, siap-siaplah bawa power bank buat mainan henpon. Biasanya lama banget baru jadi obatnya. Bisa 1 jam, bahkan saya gak jarang sampe 2 jam.

Read more →

Cara Install SSH Client di Windows

Cygwin? Compile sendiri? PuTTY?

Nope.

Install Git for Windows saja bro. That’s it. Di dalamnya (C:\Program Files\Git\bin) sudah ada ssh.exe.

[Update April 2018]

Sekarang letak ssh.exe nya berubah jadi di “C:\Program Files\Git\usr\bin”.

Yes, you are welcome.

Nekat Upgrade Ubuntu Natty (11.04) ke Yakkety (16.04)

Note: Ditulis Agustus 2016 lalu, tapi baru dipublish Februari 2017. Lupa kalau ada di draft. 

Sudah lama laptop pribadi saya berganti ke Macbook. Bukan ngikut trend sih, dan bukan karena alasan banyak “tech guy” yang pake Macbook juga. Tapi karena dulu sempat mau agak serius ngulik bikin music di komputer dengan software. Kinerja perangkat-perangkat pendukung proses nguliknya (MIDI Controller, External Soundcard, dll), serta kualitas hasil prosesnya jauh lebih baik di Macbook. Mungkin karena hardware dan sistem operasi Mac memang relasinya 1:1, jadi optimasinya tinggi.

Barusan saya ngebongkar laptop lama saya, Compaq HP, sistem operasinya masih Ubuntu Linux Natty 11.04. Ubuntu Natty 11.04 ini dirilis bulan April tahun 2011 silam. Sejak sekitar awal tahun 2012, laptop ini sudah tidak pernah saya sentuh lagi.

Sekarang Ubuntu terbaru sudah keluar, 16.04 dengan nama Yakkety Yak. Nah saya mau coba upgrade dari Ubuntu 11.04 (Natty) ini ke Ubuntu 16.04 (Yakkety). Beresiko jadi kacau balau sih OS nya kayaknya. Tapi ya bodo amat lah. Toh komputer ini sudah saya jadikan VM, sewaktu-waktu kalau saya butuh masih bisa saya jalankan via VirtualBox di Macbook saya.

Secara garis besar, saya rasa kalau langsung upgrade dari Natty ke Yakkety, pasti bakal broken sistemnya. Jadi saya kan upgrade per rilis. Dari Natty ke Oneiric, Prices, Quantal, dan seterusnya, hingga ke Yakkety.

Ini proses yang saya lakukan: Read more →

Koneksi Ubuntu Server ke Wifi Hotspot dengan WPA Key

Sudah lama gak maenan dengan Ubuntu server. Ada komputer lama yang nganggur jadi mau eksperimen dijadiin server. Entah karena apa, tampilan dekstopnya error, jadi masuk ke konsol dengan Ctrl+F2.

Lalu saya bingung, gimana caranya koneksi ke WiFi di rumah dengan command line. Dulu jaman di kampus pernah sih, dengan iwlist + iwconfig. Tapi itu karena wifi hotspotnya gak berpassword. Dan ternyata iwconfig gak support koneksi ke hotspot dengan WPA Key (yang sudah jadi standar dimana-mana).

Ternyata caranya simpel saja, dikutip dari sini:

Edit file /etc/network/interfaces, isinya:

auto wlan0
iface wlan0 inet dhcp
wpa-ssid <nama hotspot wifi Anda>
wpa-psk <password wifi Anda>

*kalau nama hotspot anda ada spasi, gunakan tanda petik, misal: “Wifi Pangeran Cinta”

Setelah itu jalankan perintah untuk merestart wireless lan Anda:

sudo ifdown wlan0 && sudo ifup -v wlan0

Setelah itu coba lookup DNS:

nslookup google.com

Harusnya hasilnya kurang lebih begini:

Server:        8.8.8.8
Address:    8.8.8.8#53

Non-authoritative answer:
Name:    google.com
Address: 74.125.200.139
Name:    google.com
Address: 74.125.200.101
Name:    google.com
Address: 74.125.200.100
Name:    google.com
Address: 74.125.200.102
Name:    google.com
Address: 74.125.200.113
Name:    google.com
Address: 74.125.200.138

Selamat mencoba.