The Labana Post https://www.labanapost.com LabanaPost.com Mon, 04 Jun 2018 06:48:44 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.7 https://www.labanapost.com/wp-content/uploads/2018/03/cropped-labanux_500px-32x32.png The Labana Post https://www.labanapost.com 32 32 Fruity Loops Edisi macOS sudah Tersedia https://www.labanapost.com/2018/06/music-guitar/fruity-loops-edisi-macos-sudah-tersedia/ https://www.labanapost.com/2018/06/music-guitar/fruity-loops-edisi-macos-sudah-tersedia/#respond Mon, 04 Jun 2018 06:48:44 +0000 https://labanapost.com/?p=2299

Ini udah agak lama sih sebenernya. Gue aja yang telat tahu. Tahunya juga gara-gara Instagramnya Saykoji. Dulu pas menimbang-nimbang soal Logic Pro X, gak jadi milih FL Studio alesannya karena FL Studio gak ada di Mac. Selain itu, kudu beli VST banyak kayaknya. Harganya sama persis $199.

Anyway, setelah coba download versi trialnya, kayaknya emang kurang nyaman juga sih FL edisi macOS. Kaya ke-zoom gitu User Interfacenya.

Tapi wishlistnya tetep Ableton lah. Cuma harganya gak karu-karuan. Maklum, gue cuma pehobi aja.

]]>
https://www.labanapost.com/2018/06/music-guitar/fruity-loops-edisi-macos-sudah-tersedia/feed/ 0
Pengemudi BlueBird: Dari Jam 3 Pagi Sampai Malam, Saya Baru Dapat Segini, Mas! https://www.labanapost.com/2018/03/general/pengemudi-bluebird-dari-jam-3-pagi-sampai-malam-saya-baru-dapat-segini-mas/ https://www.labanapost.com/2018/03/general/pengemudi-bluebird-dari-jam-3-pagi-sampai-malam-saya-baru-dapat-segini-mas/#respond Thu, 08 Mar 2018 02:19:30 +0000 http://labanapost.com/?p=2125

Semalam saya akhirnya naik taksi lagi, karena butuh cepat, kelihatan BlueBird di jalan, langsung stop, terus berangkat.

Saya sebenarnya menghindari topik pembicaraan soal demo kemarin. Takut menyinggung atau salah paham. Karena saya kurang simpatik dengan aksi mereka. Tapi tak disangka, justru pengemudinya yang duluan mengajak saya berbicara soal ini.

Pengemudi (P): Lihat berita soal demo taksi kemarin, Mas?

Saya (S): Iya. Rame banget ya. (berusaha netral)

P: Saya ikut tuh, Mas. (bangga)

S: Oh gitu, dari perusahaan emang ngutus ya? (sekalian lah, saya tanya aja)

P: Enggak sih. Itu demo paguyuban pengemudi, perusahaan gak ada hubungan. Jadi tiap pool taksi ngirim 20 orang.

S: Tapi kok di jalanan kayaknya banyak banget, Mas?

P: Ya itu yang ikut-ikutan. Kalau yang resmi itu, di tangannya diikat pita hitam. Itu yang rusuh-rusuh itu bukan yang demo resmi, Mas.

S: Tapi tetep aja pengemudi BlueBird kan?

P: Yang seragam biru dan mirip kaya kami kan bukan BlueBird aja, Mas. Orang-orang main tuduh aja.

S: Lah, videonya jelas gitu kok. Orang justru jadi kurang simpatik karena jelas banyak bukti-bukti videonya, Mas.

..hening..

S: Tapi sebenarnya kalau Mas sendiri, apa sih yang dituntut soal Uber sama GrabCar?

P: Ya ijinnya, sama tarifnya, Mas. Tarifnya kok kaya gitu. Harusnya disetarain lah sama yang lain.

S: Kalau soal ijin, mungkin ya. Saya gak paham sih soal hukum. Kalau soal tarif, kenapa pengemudi gak minta ke perusahaan buat nurunin tarif ya? Biar sama gitu dengan Uber atau GrabCar?

P: Ya mana mungkin, Mas. Kami ini rugi terus sekarang sejak ada taksi online-online ini.

S: Saya gak tahu sih kalau misal diturunin, perusahaan jadi rugi atau enggak, tapi kalau lihat laporan keuangan perusahaan BlueBird sih, akhir tahun 2015 aja, keuntungannya udah 800-an miliar loh, Mas. Itu udah untung loh, Mas. Bukan pemasukan. Apa gak mending ngurangin keuntungan perusahaan biar pengemudinya gak pusing. Kasih promo, atau bikin aplikasi yang sekelas online-online itulah gitu.

P: (hening)

Lalu si pengemudi berganti topik

P: Saya ini langsung dari kampung Mas. Habis demo besoknya saya pulang kampung ke Tegal. Kemarin malem saya balik lagi, nyampe pool jam 1-an pagi. Tidur-tidur bentar, setengah tiga pagi sudah jalan. Dari jam 3 pagi tadi sampe sekarang saya baru dapat segini, Mas! Jarinya sambil menunjuk mesin argo. Disitu tertera 481 ribu. Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.30 malam.

S: Berapa kali bawa penumpang tuh, Mas?

P: Ini.. (Dia mencet tombol di argo, terus terlihat angka 11). Nih, dari subuh sampai malam gini saya baru dapat 11 kali tarikan. Duit cuma segitu. Bensin 100 persen di tanggung pengemudi. Nombok saya Mas. Bukan saya aja, semua pengemudi sekarang sepi banget, Mas. Ini kan gak adil. Kasian kami, Mas. Mau makan apa kalau kaya gini terus.

S: Kenapa kok jadi sepi, Mas?

P: Ya itu.. yang online-online itu.

S: Tapi orang-orang pada pindah ke yang online-online itu karena apa?

P: Ya itu.., tarifnya gak adil.

S: Kenapa gak tanya sama perusahaan kenapa tarifnya gak disamain?

(hening)

Lalu dia berlanjut curhat, istrinya jadi marah-marah karena penghasilan kurang dan seterusnya. Saya duduk saja mendengarkannya sampai saya tiba di tujuan.

Catatan:

Tulisan ini dibuat bulan Maret tahun 2016, tak lama setelah demo besar-besaran itu. Baru saya post sekarang (2 tahun kemudian). Entah kenapa. Sepertinya lupa publish. Saat tulisan ini dibuat, Go-Car belum ada. Aplikasi BlueBird juga masih jelek sekali.

Kondisi sekarang (Maret 2018). Aplikasi BlueBird di Android sudah bagus banget. Saya pribadi lumayan sering pakai. Terutama fitur EasyRide nya (naik taksi tanpa pemesanan online tetap bisa bayar cashless lewat aplikasinya). Lalu yang unik, BlueBird justru sudah ber-partner dengan Go-Jek.

Pemasukan BlueBird (kode saham BIRD) juga terus turun. Tahun 2015 penghasilannya sekitar 800-an miliar rupiah, tahun 2016 turun ke 500-an miliar. Sampai dengan kwartal 3 tahun 2017, pemasukannya “baru” 300-an miliar.

]]>
https://www.labanapost.com/2018/03/general/pengemudi-bluebird-dari-jam-3-pagi-sampai-malam-saya-baru-dapat-segini-mas/feed/ 0
Novel-Novel Thriller Indonesia https://www.labanapost.com/2018/03/general/novel-novel-thriller-indonesia/ https://www.labanapost.com/2018/03/general/novel-novel-thriller-indonesia/#comments Sun, 04 Mar 2018 18:35:47 +0000 https://labanapost.com/?p=2267

[Ilustrasi: pexels.com]

Kalau ditanya soal film, saya senang genre thriller yang penuh intrik politik, “detektif-detektifan”, mafia, perebutan kekuasaan dan plot twist yang tak terduga. Contohnya seperti film Game of Thrones, House of Card, The Godfather, The Good Fellas, Billions, Designated Survivor, The Wire, Miss Sloane, dkk. Sayangnya, di Indonesia jarang sekali ada film bergenre seperti ini. Setahu saya (film modern) Indonesia yang bergenre seperti ini paling-paling cuma film “2014: Siapa di Atas Presiden?

Karena film Indonesia jarang yang bergenre seperti ini, akhirnya saya memutuskan berganti ke novel. Ternyata novel bergenre seperti ini pun jarang ada. Saya awalnya hanya tahu 2 novel karya Tere Liye saja yang masuk kriteria saya ini: Negeri di Ujung Tanduk, dan Negeri Para Bedebah. Cukup lumayan plotnya. Saya cuma kurang cocok di gaya bahasanya yang terlalu kaku. Mungkin niatnya nyeni gitu ya. Maklumlah, saya bukan pecinta sastra yang sampai gimana gitu.

Belakangan saya tahu ada novel Indonesia berjudul Sudut Mati karya Tsugaeda. Lumayan, tapi masih kurang nendang. Akhirnya saya baca novel pertamanya, Rencana Besar. Nah ini baru sesuai ekspektasi saya. Plot twistnya saya suka. Temanya juga gak umum, corporate-thriller gitu kalau bisa saya sebut. Selain itu ada intrik politik dengan serikat buruh. Keren.

Saya masih penasaran dengan novel-novel Indonesia lain. Ternyata ada yang temanya thriller, tapi berbau IT. Judulnya Spammer, karya dari Ronny Mailindra. Ceritanya tentang hacker/spammer, berhubungan dengan korupsi, dan KPK. Secara tema saya suka, tapi secara plot cerita saya kurang suka. Tapi untuk berani mengambil tema seperti ini saya acungi jempol. Oh iya, satu lagi part yang cukup membuat saya kaget, penceritaannya soal hacker, spammer dan hal-hal berbau IT nya terasa detail. Setelah kepo-kepo di Google, ternyata penulisnya memang bekerja di bidang IT. Boleh juga nih.

Saat ini novel lain yang masih belum saya selesaikan adalah Koin Terakhir karya Yogie Nugraha. Ini sih kalau menurut saya ala-ala Dan Brown banget sih plot ceritanya. Ceritanya tentang agen intelijen BIN yang mendapat tugas rahasia. Di sini yang bikin saya suka, karena saya yang tadinya justru lebih familiar dengan cerita-cerita FBI, CIA, NSA, Homeland, Secret Service, dll akhirnya jadi lebih tahu tentang dunia intelejen Indonesia sendiri. Tapi plot ceritanya sih sejauh ini menurut saya masih kurang nendang. Entahlah, nanti kalau sudah selesai, kalau ada waktu, nanti saya ulas.

Novel lain dalam genre ini yang sudah masuk radar saya adalah Pendosa Suci, yang juga karya Yogie Nugraha. Sama, bertema BIN (Badan Intelejen Negara) juga. Berikutnya ada novel Tiga Sandera Terakhir (tentang penyanderaan di Papua) dan Halaman Terkahir (kisah tentang Jendral Polisi Hoegeng).

Minat Masyarakat Indonesia

Saya kurang tahu soal minat atau genre favorit novel-novel di Indonesia. Tapi sepertinya, genre yang saya bahasa di sini ini tidak terlalu diminati di Indonesia. Buktinya, selain novel karya Tere Liye tadi (yang penulisnya lebih dikenal karena novel lainnya yang bertema cinta/religi), novel-novel di atas tadi sulit sekali ditemukan di toko buku (ini spesifik Gramedia sih). Selalu stok kosong. Saya cuma berhasil menemukan Sudut Mati saja.

Untungnya sih, judul-judul lainnya yang saya sebut di atas masih tersedia di Google Play Store. Di situlah akhirnya saya membeli novel tadi.

Sebenarnya ada beberapa judul novel lagi sih yang sempat masuk radar saya. Tapi karena tidak bisa saya temukan di toko buku maupun di Google Play store, akhirnya terpaksa saya lewatkan. Ini membuat saya bertanya-tanya, kenapa novel-novel yang tidak bisa saya temukan itu tidak dimasukkan saya ke Play Store ya? Ya kan gak ada ongkos biaya apa-apa (kayaknya). Siapa tahu ada lumayan banyak orang seperti saya yang lebih suka beli di Play Store. Lumayan kan?

*kenapa gak beli buku fisik di online shop saja? Saya males nanyain satu-satu ke penjualnya, stoknya masih ada atau enggak. Karena banyak yang majang di website, sebenarnya stoknya gak ada.

Btw, kalian ada tahu judul-judul novel Indonesia lainnya yang masuk  genre ini? Share dong di kolom komentar.

]]>
https://www.labanapost.com/2018/03/general/novel-novel-thriller-indonesia/feed/ 4
Plugin WordPress Jahanam https://www.labanapost.com/2017/08/general/plugin-wordpress-jahanam/ https://www.labanapost.com/2017/08/general/plugin-wordpress-jahanam/#respond Wed, 09 Aug 2017 09:51:35 +0000 https://labanapost.com/?p=2254 Lama saya baru sadar kalau tulisan-tulisan lama di blog ini tidak lagi bisa diakses. Baru sadar setelah iseng-iseng baca tulisan-tulisan lama saya sendiri. Secara naluri otomatis saya menyalahkan plugin-plugin baru yang saya pasang. Termasuk menyalahkan update WordPress terbaru.

Utak-atik sana-sini, lama baru ketemu apa penyebabnya.

Ternyata karena plugin Facebook OpenGraph, Twitter Card, dkk. 😐

]]>
https://www.labanapost.com/2017/08/general/plugin-wordpress-jahanam/feed/ 0
Bereksperimen dengan Logic Pro X Membuat Dance Music https://www.labanapost.com/2017/07/music-guitar/bereksperimen-dengan-logic-pro-x-membuat-dance-music/ https://www.labanapost.com/2017/07/music-guitar/bereksperimen-dengan-logic-pro-x-membuat-dance-music/#respond Thu, 20 Jul 2017 16:33:15 +0000 http://labanapost.com/?p=2248 Selama beberapa tahun saya terbiasa menggunakan Digital Audio Workstation (DAW) yang bernama Ableton. Ketika masih di Windows, ataupun ketika sudah berganti ke laptop Mac. Kekurangannya, hampir semua instrumen bawaan Ableton tidak pernah saya gunakan. Mentok saya cuma gunakan untuk membuat white-noise.  Jadinya sangat bergantung dengan VST.

Setelah install ulang Mac saya dengan OS terbaru (Sierra), saya memutuskan berganti ke Logic Pro X. Agak berat sebenarnya, karena Logic ini hanya tersedia di Mac. Jika suatu saat nanti saya berganti ke OS lain, otomatis program ini tidak bisa saya gunakan lagi.

Saya nyaman sekali menggunakan Ableton sebenarnya. Tapi selain kekurangan di atas, harga Ableton juga mahal, $799, kalau dikonversi ke Rupiah menjadi sekitar Rp 10 juta.

FL Studio saya tidak begitu familiar, cuma pernah coba sehari atau 2 hari jaman kuliah dulu. Harganya sama dengan Logic sebenarnya, itu sudah termasuk berbagai instrumen VST. Sayangnya FL Studio tidak tersedia untuk Mac. Dulu sih mereka pernah meluncurkan versi Betanya untuk Mac. Tapi entah mengapa gak lanjut.

Anyway, akhirnya saya akhirnya membeli Logic Pro. $199, dirupiahkan kemarin menjadi Rp2,99 jt. Tapi ini sudah dilengkapi berbagai instrumen dan sampler. Selain itu kita bisa download sekitar 80GB sound sample dan loop, gratis, free royalti, resmi dari Apple. Jadi enggak perlu beli sample sound seperti Vengeance dkk, yang harganya justru lebih mahal dari Logic.

Setelah coba-coba selama sebulanan (yes, this is my first time using Logic), akhirnya berhasil jadi 1 lagu, genrenya dance music. Saya juga gak tahu ini genre Electro House, atau apa. Saya cuma pehobi amatiran. Kalau suka silahkan didownload via situs-situs downloader YouTube itu. 😀

Gimana, enak lagunya?

]]>
https://www.labanapost.com/2017/07/music-guitar/bereksperimen-dengan-logic-pro-x-membuat-dance-music/feed/ 0
Harga Gadget Tiada Batas https://www.labanapost.com/2017/03/general/harga-gadget-tiada-batas/ https://www.labanapost.com/2017/03/general/harga-gadget-tiada-batas/#respond Wed, 29 Mar 2017 19:13:55 +0000 http://labanapost.com/?p=2243 10 tahun lalu, kalau denger ada henpon seharga sepeda motor, orang-orang pasti komentar “Gila..!”. Orang-orang kelebihan duit aja tuh yang bakal beli segitu.

Sekarang, harga ponsel bahkan ada yang lebih mahal daripada harga sepeda motor baru. Tapi orang-orang biasa aja.

Iya, dulu sih memang ada juga ponsel harga selangit. Tapi itu karena casing-nya berlapis emas. Atau ada juga karena yang diberi hiasan berlian. Lah kalau jaman sekarang, emang ponselnya yang segitu. Harganya hampir 20 juta.

Coba aja cek harga resmi iPhone 7 dan iPhone 7 plus di Indonesia, rentang harganya di belasan juta. Tapi walaupun semahal itu, nyatanya pre-ordernya laris loh. Siapa bilang di “rezim” sekarang ekonomi Indonesia menurun? Tuh, buktinya. Mantaplah pokoknya Indonesia. Haha.

]]>
https://www.labanapost.com/2017/03/general/harga-gadget-tiada-batas/feed/ 0
Dokter 5-Menitan https://www.labanapost.com/2017/03/general/dokter-5-menitan/ https://www.labanapost.com/2017/03/general/dokter-5-menitan/#respond Wed, 29 Mar 2017 07:36:13 +0000 http://labanapost.com/?p=2240

[Ilustrasi: pixabay.com]

Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta.

  1. Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit.
  2. Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik itu dokter umum, maupun dokter spesialis. Biasanya lapor dulu ke suster di poli tersebut lalu diukur berat badan dan tekanan darah. Nah di sini bisa nunggu sampa 30 menit lebih. Saya pernah sampai 1 jam lebih.
  3. Ketemu dokter, ditanya apa keluhannya. Tapi ketika saya jawab, dia sibuk nulis-nulis, atau kalau rumah sakitnya udah modern, dokternya sibuk ngetik-ngetik sendiri di komputer, sambil jawab pendek “Ooh.. Hmm.. Gitu ya..” Terus lanjut disuruh baring, atau “coba duduk, matanya lihat atas”, atau “coba buka mulutnya”. Dipegang bentar, atau disenter bentar, terus sudah. Kurang lebih cuma 5 menitan.
  4. Dokter balik ke mejanya. Sibuk lagi nulis, atau ketik-ketik di komputer. Bisa 5 menitan. Ujungnya bilang “Jadi, saya resepin ini ya.. bla..bla..bla. Diminum aja seminggu dulu, terus nanti kontrol lagi ke sini.” Sudah.
  5. Keluar ruangan, laporan ke suster. Disuruh ke kasir. Sampai kasir kadang nunggu lagi, kadang enggak. Tergantung rumah sakitnya, pengaturan kasirnya bagus atau enggak. Ada lho rumah sakit yang untuk bayar di kasirnya saya harus nunggu 30 menit lebih. Sebabnya? Karena hanya ada 1 orang kasir untuk SEMUA pasien di rumah sakit itu.
  6. Selesai bayar di kasir, ke bagian farmasi/apotek. Ada yang sudah pake sistem komputer, nomor antrian ada di layar, ada juga yang dipanggil manual satu-satu. Nah kalau obatnya racikan, siap-siaplah bawa power bank buat mainan henpon. Biasanya lama banget baru jadi obatnya. Bisa 1 jam, bahkan saya gak jarang sampe 2 jam.

Jadi kalau ditotal, saya bisa menghabiskan waktu 4 jam di rumah sakit. Kalau sakitnya berat sih ya sudahlah ya, demi sehat. Tapi kalau cuma flu, diare, rasanya kok lebih tersiksa kalau ke rumah sakit. 4 jam itu waktu di rumah sakitnya aja loh, belum termasuk waktu perjalanan.

Kalau saya sih yang paling bikin kesel, dari 4 jam itu, konsultasi dengan dokternya cuma 5 menit. Seringkali mereka gak menjelaskan apa-apa. Padahal tujuannya saya pengen tahu ini sakitnya apa, cuma sakit biasa atau lain, penyebabnya apa, gimana biar gak tambah parah, gimana jaganya biar gak terulang lagi, dll. Menurut saya itu basic yang sangat perlu.

Gak jarang juga diagnosanya ngaco. Saya pernah didiagnosa “punya tenaga dalam” oleh dokter di sebuah rumah sakit terkenal (dan mahal) di daerah Jakarta Selatan. Tenaga di dalam hati buat nonjok maksud lo? 😐

Dokter 5-menitan ini sih yang menurut saya layak digantikan bot Artificial Intelligence. Pengacara kan sudah mulai tuh diganti sama bot, dokter 5-menitan gini sekalian juga lah.

Catatan: Inget ya, gak semua dokter kaya gitu. Saya juga ketemu kok dokter yang baek. Yang mau menjelaskan dengan baik apa dan kenapa sakitnya. Terus menelaah satu-satu keluhan saya, sampai bisa kasih kesimpulan diagnosa yang meyakinkan.

]]>
https://www.labanapost.com/2017/03/general/dokter-5-menitan/feed/ 0
Cara Install SSH Client di Windows https://www.labanapost.com/2017/02/linux/cara-install-ssh-client-di-windows/ https://www.labanapost.com/2017/02/linux/cara-install-ssh-client-di-windows/#respond Wed, 22 Feb 2017 03:34:04 +0000 http://labanapost.com/?p=2233 Cygwin? Compile sendiri? PuTTY?

Nope.

Install Git for Windows saja bro. That’s it. Di dalamnya (C:\Program Files\Git\bin) sudah ada ssh.exe.

[Update April 2018]

Sekarang letak ssh.exe nya berubah jadi di “C:\Program Files\Git\usr\bin”.

Yes, you are welcome.

]]>
https://www.labanapost.com/2017/02/linux/cara-install-ssh-client-di-windows/feed/ 0
Nekat Upgrade Ubuntu Natty (11.04) ke Yakkety (16.04) https://www.labanapost.com/2017/02/linux/nekat-upgrade-ubuntu-natty-11-04-ke-yakkety-16-04/ https://www.labanapost.com/2017/02/linux/nekat-upgrade-ubuntu-natty-11-04-ke-yakkety-16-04/#respond Wed, 22 Feb 2017 03:30:02 +0000 http://labanapost.com/?p=2214 Note: Ditulis Agustus 2016 lalu, tapi baru dipublish Februari 2017. Lupa kalau ada di draft. 

Sudah lama laptop pribadi saya berganti ke Macbook. Bukan ngikut trend sih, dan bukan karena alasan banyak “tech guy” yang pake Macbook juga. Tapi karena dulu sempat mau agak serius ngulik bikin music di komputer dengan software. Kinerja perangkat-perangkat pendukung proses nguliknya (MIDI Controller, External Soundcard, dll), serta kualitas hasil prosesnya jauh lebih baik di Macbook. Mungkin karena hardware dan sistem operasi Mac memang relasinya 1:1, jadi optimasinya tinggi.

Barusan saya ngebongkar laptop lama saya, Compaq HP, sistem operasinya masih Ubuntu Linux Natty 11.04. Ubuntu Natty 11.04 ini dirilis bulan April tahun 2011 silam. Sejak sekitar awal tahun 2012, laptop ini sudah tidak pernah saya sentuh lagi.

Sekarang Ubuntu terbaru sudah keluar, 16.04 dengan nama Yakkety Yak. Nah saya mau coba upgrade dari Ubuntu 11.04 (Natty) ini ke Ubuntu 16.04 (Yakkety). Beresiko jadi kacau balau sih OS nya kayaknya. Tapi ya bodo amat lah. Toh komputer ini sudah saya jadikan VM, sewaktu-waktu kalau saya butuh masih bisa saya jalankan via VirtualBox di Macbook saya.

Secara garis besar, saya rasa kalau langsung upgrade dari Natty ke Yakkety, pasti bakal broken sistemnya. Jadi saya kan upgrade per rilis. Dari Natty ke Oneiric, Prices, Quantal, dan seterusnya, hingga ke Yakkety.

Ini proses yang saya lakukan:

1. Update apt source list.

Ternyata repository Natty udah pada dihapus di beberapa repository lokal yang saya coba. Di “Kambing”, Gunadarma dan Repo UGM, semua udah gak ada. Tapi dari Ubuntu ternyata masih disediain: old-releases.ubuntu.com.

deb http://old-releases.ubuntu.com/ubuntu/ natty main restricted universe multiverse
deb http://old-releases.ubuntu.com/ubuntu/ natty-updates main restricted universe multiverse

2. sudo apt-get update

laban@labanux:~$ sudo apt-get update
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Ign http://old-releases.ubuntu.com natty InRelease
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Ign http://old-releases.ubuntu.com natty-updates InRelease
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Get:1 http://old-releases.ubuntu.com natty Release.gpg [198 B]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Get:2 http://old-releases.ubuntu.com natty-updates Release.gpg [198 B]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Get:3 http://old-releases.ubuntu.com natty Release [39.8 kB]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release
Get:4 http://old-releases.ubuntu.com natty-updates Release [39.8 kB]

….

3. sudo apt-get upgrade

Ini ceritanya biar aman dulu. Ternyata yang perlu didownload banyak banget. Haha. Totalnya 171 MB. Sikatlah.

laban@labanux:~$ sudo apt-get upgrade
[sudo] password for laban:
Reading package lists... Done
Building dependency tree
Reading state information... Done
The following packages have been kept back:
firefox firefox-globalmenu libsyncdaemon-1.0-1 linux-generic linux-headers-generic linux-image-generic
python-ubuntuone-client ubuntuone-client ubuntuone-client-gnome
The following packages will be upgraded:
bind9-host bluez bluez-alsa bluez-cups

4. uname -a dan liat versi

Mau ngecek aja

laban@labanux:~$ uname -a
Linux labanux 2.6.38-15-generic #61-Ubuntu SMP Tue Jun 12 19:15:11 UTC 2012 i686 i686 i386 GNU/Linux

laban@labanux:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 11.04 \n \l

5. Restart.

Sebenarnya katanya Linux gak butuh restart kalau habis install atau upgrade software. Cuma pengalaman-pengalaman dulu, tetap aja beda. Ada saja yang agak aneh kalau belum restart. Jadi, saya restart saja deh.

laban@labanux:~$ sudo reboot

 

6. sudo do-release-upgrade

Tadinya mau jalanin “sudo apt-get dist-upgrade”. Tapi dapat notifikasi kalau mau upgrade ke versi Ubuntu berikutnya, pake “do-release-upgrade”. Walaupun saya pakai Ubuntu bertahun-tahun, bahkan dari sejak versi pertamanya, saya baru tahu ada command ini. Katrok.

laban@labanux:~$ sudo do-release-upgrade
Checking for a new ubuntu release
Your Ubuntu release is not supported anymore.
For upgrade information, please visit:
http://www.ubuntu.com/releaseendoflife

54 installed packages are no longer supported by Canonical. You can
still get support from the community.

23 packages are going to be removed. 278 new packages are going to be
installed. 1344 packages are going to be upgraded.

You have to download a total of 818 M. This download will take about
24 minutes with your connection.

Fetching and installing the upgrade can take several hours. Once the
download has finished, the process cannot be cancelled.

Continue [yN]  Details [d]y

Hajarrrr….

Saya jawab Yes aja untuk semua prompt yang muncul.

7. Cek hasil

Sedari tadi itu saya lakukan via SSH dari Mac. Kali ini saya langsung ke laptop HP nya, liat desktopnya. Berasa aneh karena kaya semua font nya di zoom. Entahlah kenapa begitu.

laban@labanux:~$ uname -a
Linux labanux 3.0.0-32-generic #51-Ubuntu SMP Thu Mar 21 15:51:26 UTC 2013 i686 i686 i386 GNU/Linux

laban@labanux:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 11.10 \n \l

Nah saya bingung juga apalagi yang mau dicek di sini. Semua setingan server di sini (Nginx, Apache, Tomcat, SOLR, dll) saya sudah lupa. Port nya di mana aja juga lupa. Haha. Jadi selama desktopnya bisa ke-load, ya sudah asumsi saya beres.

8. sudo do-release-upgrade

Oke.., lanjut upgrade lagi ke Ubuntu Precise Pangolin (12.04)

Screen yang muncul miriplah sama yang pertama.

9. Cek lagi

laban@labanux:~$ uname -a
Linux labanux 3.2.0-106-generic #147-Ubuntu SMP Tue Jun 28 21:27:50 UTC 2016 i686 i686 i386 GNU/Linux
laban@labanux:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 12.04.5 LTS \n \l

10. Upgrade langsung antar LTS

Nah di sini saya baru sadar kalau 12.04 itu versi LTS. Setelah googling, katanya versi LTS itu bisa langsung loncat ke LTS berikutnya. Versi LTS berikutnya adalah 14.04, lalu 16.04. Jadi seharusnya saya bisa langsung loncat dari 12.04 ke 14.04 terus ke 16.04. Gak perlu lagi “do-release-upgrade” dari 12.04 ke 12.10 ke 13.04 ke 13.10 dst.. sampai ke 16.04.

Tapi anehnya, by default upgrade yang ditawarkan adalah ke 12.10, bukan 14.04 (LTS).

Welcome to Ubuntu 12.04.5 LTS (GNU/Linux 3.2.0-106-generic i686)

* Documentation:  https://help.ubuntu.com/

New release '12.10' available.
Run 'do-release-upgrade' to upgrade to it

Setelah googling sebentar, dapat tips untuk menjalankan ‘sudo do-release-upgrade -c -d’.

laban@labanux:~$ sudo do-release-upgrade -c -d
[sudo] password for laban:
Checking for a new Ubuntu release
New release '14.04.5 LTS' available.
Run 'do-release-upgrade' to upgrade to it.

Nah baru deh, kedetect 14.04 Trusty (LTS).

laban@labanux:~$ sudo do-release-upgrade
Checking for a new Ubuntu release
Get:1 Upgrade tool signature [198 B]
Get:2 Upgrade tool [1,156 kB]
Fetched 1,156 kB in 0s (0 B/s)
authenticate 'trusty.tar.gz' against 'trusty.tar.gz.gpg'
extracting 'trusty.tar.gz'

Yes berhasil. Saya do-release-upgrade lagi ke 16.04.

Saya login ke Desktop. Cek sekilas sepertinya semua berjalan normal.

11. Matikan GDM (Gnome Display Manager) & Otomatis Terkoneksi ke Wifi
Karena laptop ini mau saya jadikan server saja, saya mau matikan desktopnya. Seingat saya ini bisa dilakukan dengan membuat GDM tidak otomatis dijalankan.

Googling sebentar, katanya ada konfigurasi Grub yang harus saya utak-atik. Pokoknya seingat saya bagian “splash” diganti jadi “text”. Lalu mengubah sedikit konfigurasi systemd agar GDM tidak diload.

Selain itu saya mengubah konfigurasi /etc/network/interfaces agar otomatis terkoneksi ke hotspot tanpa perlu login.

12. Semua Error

Setelah restart, ternyata malah booting gagal. Gak tahu kenapa. Saya coba pakai command ‘c’ di pilihan boot Grub untuk mengembalikan “text” ke “splash”. Tapi tetap gagal. Kayaknya karena systemd nya. Bubar sudah. Nyesel saya ngapain utak-atik setingan GDM.

13. Install Ulang via USB

Karena kesalah tadi, dan saya sudah males mikir, saya install ulang laptop saya. Saya pakai Unetbootin di Mac untuk membuat bootable USB. Saya pakai Ubuntu Desktop 16.04 yang versi amd64, karena mikirnya toh laptop saya sudah 64 bit. USB saya 4GB.

Gagal.

Saya pakai USB lain, 64 GB. Error juga. Padahal tipe filesystemnya sudah FAT. Tapi saya gak tahu ini FAT32 atau FAT yang lain, di Mac gak kelihatan.

Saya coba lagi pakai USB 2GB. Masih error juga.

Akhirnya saya kombinasi: 3 USB tadi, dengan iso Ubuntu 16.04, 14.04, 12.04, amd64, i386. Semingguan (di waktu agak lowong). Gagal semua. Termasuk akhirnya saya pakai iso Ubuntu 11.04 i386 (versi Ubuntu di laptop saya yang berjalan mulus sebelum saya utak-atik tadi). Tapi gagal juga.

Sampai akhirnya saya bawa laptop Windows 10 ke rumah. Format USB 4GB ke FAT32. Lalu dengan Unetbootin, bikin USB bootable Ubuntu 11.04 alternate. Akhirnya berhasil.

14. Upgrade lagi ke 12.04

Karena memang ini iseng saja. Setelah selesai install ulang 11.04, saya do-release upgrade lagi ke 11.10, lalu ke 12.04. Tapi kali ini stop sampai di sini. Saya curiga spesifikasi laptop tua saya sudah gak kuat untuk 14.04, apalagi 16.04.

 

Setelah ini, saya jadikan laptop saya server, biar bisa akses file pribadi di rumah darimana saya. Tapi belakangan malah ribet buka-buka FTP atau Filesharing. Jadinya saya malah pakai Box.com saja. Setelah semua perjuangan upgrade dan install ulang laptop ini, ujung-ujungnya nangkring di rak juga nih laptop.

]]>
https://www.labanapost.com/2017/02/linux/nekat-upgrade-ubuntu-natty-11-04-ke-yakkety-16-04/feed/ 0
Koneksi Ubuntu Server ke Wifi Hotspot dengan WPA Key https://www.labanapost.com/2016/08/linux/koneksi-ubuntu-server-ke-wifi-hotspot-dengan-wpa-key/ https://www.labanapost.com/2016/08/linux/koneksi-ubuntu-server-ke-wifi-hotspot-dengan-wpa-key/#respond Sun, 21 Aug 2016 16:07:26 +0000 http://labanapost.com/?p=2219 Sudah lama gak maenan dengan Ubuntu server. Ada komputer lama yang nganggur jadi mau eksperimen dijadiin server. Entah karena apa, tampilan dekstopnya error, jadi masuk ke konsol dengan Ctrl+F2.

Lalu saya bingung, gimana caranya koneksi ke WiFi di rumah dengan command line. Dulu jaman di kampus pernah sih, dengan iwlist + iwconfig. Tapi itu karena wifi hotspotnya gak berpassword. Dan ternyata iwconfig gak support koneksi ke hotspot dengan WPA Key (yang sudah jadi standar dimana-mana).

Ternyata caranya simpel saja, dikutip dari sini:

Edit file /etc/network/interfaces, isinya:

auto wlan0
iface wlan0 inet dhcp
wpa-ssid <nama hotspot wifi Anda>
wpa-psk <password wifi Anda>

*kalau nama hotspot anda ada spasi, gunakan tanda petik, misal: “Wifi Pangeran Cinta”

Setelah itu jalankan perintah untuk merestart wireless lan Anda:

sudo ifdown wlan0 && sudo ifup -v wlan0

Setelah itu coba lookup DNS:

nslookup google.com

Harusnya hasilnya kurang lebih begini:

Server:        8.8.8.8
Address:    8.8.8.8#53

Non-authoritative answer:
Name:    google.com
Address: 74.125.200.139
Name:    google.com
Address: 74.125.200.101
Name:    google.com
Address: 74.125.200.100
Name:    google.com
Address: 74.125.200.102
Name:    google.com
Address: 74.125.200.113
Name:    google.com
Address: 74.125.200.138

Selamat mencoba.

]]>
https://www.labanapost.com/2016/08/linux/koneksi-ubuntu-server-ke-wifi-hotspot-dengan-wpa-key/feed/ 0