Category: Umum (page 3 of 26)

Lapak DVD Bajakan

Ini poster yang terpasang di lantai dasar, mall Ratu Plaza, daerah Senayan. Padahal rata-rata orang juga tahu di lantai atas bertebaran lapak DVD bajakan.

Gak cuma di Ratu Plaza saja sih. Di Ambassador, Poins Square Lebak Bulus, ITC Permata Hijau, dll juga banyak kok yang terang-terangan buka lapak DVD bajakan. Ini artinya, pengelola gedung jelas-jelas tahu dan mengijinkan penggunaan gedungnya untuk jual beli ilegal.

Kalau terang-terangan begitu, kenapa gak ditindak? Nah, saya juga heran. Mungkin potongan tulisan dari neraca.co.id ini bisa sedikit memberikan petunjuk:

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Bigjen Pol Bambang Waskito mengatakan selama ini laporan tentang pembajakan ini hanya berupa surat dan tidak dilengkapi dengan alat bukti.”Kalau permasalahan yang tau Satgas ini, namun selama ini sering kali laporan yang masuk tidak memiliki alat bukti sehingga kami susah untuk mengusut pembajakan itu,” kata dia.

Saya gak ngerti hukum sih. Mungkin toko yang jelas-jelas menjual DVD bajakan di dalam mall itu dalam hukum gak bisa dijadikan bukti. Mungkin.. -_-

Nah, baru-baru ini pemerintah sudah membentuk Badan Ekonomi Kreatif, dikepalai oleh Triawan Munaf (ayahnya Sherina Munaf). Badan ini akhirnya membentuk Satuan Tugas Penanganan Pengaduan Pembajakan Karya Musik dan Film (Satuan Tugas Anti Pembajakan). Mari kita lihat, paling enggak, tahun 2016 nanti apakah mencari DVD bajakan makin susah, atau masih sama mudahnya?

Pengemudi Ojek Berbasis Aplikasi yang Akhirnya Tertular Penyakit Ojek Pangkalan

[Ilustrasi: Justin Poliachik – justinpoliachik | flickr.com]

Beberapa waktu lalu banyak kita dengar cerita pengemudi Gojek yang menjadi korban kekerasan dari ojek pangkalan. Pasalnya sederhana, ojek pangkalan tidak terima Gojek mengambil penumpang di “wilayah mereka”.

Banyak masyarakat yang bersimpati dengan pengemudi Gojek. Menurut sebagian orang kelakukan ojek pangkalan itu tidak pantas. “Cari makan ya harusnya adil aja, tidak perlu mengaku-ngaku sebagai penguasa wilayah tertentu. Suka-suka konsumen mau menggunakan yang mana.” Kira-kira begitu pendapat mereka.

Sampai hari ini beberapa daerah dipasangi spanduk oleh pengemudi ojek pangkalan. Isi spanduknya jelas, melarang Gojek beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu yang cukup terkenal di daerah Apartemen Kalibata City, Jakarta. Tidak bisa dipungkiri kalau itu salah satu bentuk intimidasi terhadap ojek berbasis aplikasi.

Nah, dalam tulisan saya sebelum ini, saya mengulas bagaimana dugaan saya mengenai fase perubahan ojek berbasis aplikasi (Gojek dan GrabBike) secara sosial. Ternyata bukan isapan jempol. Salah satu dugaan saya itu sudah terjadi.

Kejadiannya di area seputar salah satu apartemen di daerah Jakarta Barat. Awalnya hanya pengemudi Gojek yang mangkal disitu. Lama kelamaan mulai ramai pengemudi GrabBike. Nah karena promosi GrabBike hanya Rp 5.000 (dibanding Gojek yang 15.000), akhirnya lambat laun penghuni apartemen memilih Grab Bike.

Dulu penghuni apartemen keluar pintu belok kanan (tempat pengemudi Gojek mangkal), belakangan hampir semua belok kiri (tempat pengemudi Grab Bike mangkal). Pengemudi Gojek pun cemburu. Akhirnya salah satu dari mereka ada yang mendatangi pengemudi Grab Bike yang mangkal. Meminta agar mereka tidak lagi mangkal di situ. Ujung-ujungnya ribut, hingga berkelahi. Untung ada satpam, sehingga berhasil dilerai. Kalah jumlah, akhirnya salah satu kelompok pindah mangkal ke area menara apartemen yang lain.

Jadi, kalau dulu pengemudi Gojek diintimidasi oleh ojek pangkalan, ternyata sebagian dari mereka sudah belajar dari situ, gimana cara mengintimidasi pengojek lainnya.

Taksi

Kejadian seperti ini tidak hanya di urusan ojek sih. Di dunia taksi juga sama. Banyak titik-titik yang sudah “dikuasai” kelompok pengemudi taksi tertentu.

Salah satu contohnya, sudah jadi rahasia umum kalau nunggu kita tidak akan berhasil naik taksi Blue Bird di salah satu area dekat gerbang keluar tol Pasteur, Bandung. Pengemudi burung biru ini tidak ada yang berani ambil penumpang di situ. Karena di area itu sudah banyak nangkring taksi lokal. Cerita-cerita dari sopir sih, kadang dipukuli kalau sampai berani ngambil penumpang di daerah situ.

Yang jelas penularan penyakit seperti ini harus dicegah. Apalagi mengingat jumlah pengemudi ojek berbasis aplikasi ini sudah di sekitar angka ratus ribuan. Kalau sempat banyak yang tertular, terlalu sulit untuk mengobatinya.

Fase Pengemudi Gojek (dan GrabBike) Berikutnya

[Ilustrasi: Convention In Session, 3Am – Clark Demonstration | pond5.com]

Beberapa hari lalu saya menggunakan jasa Gojek. Pengemudinya bercerita, ada salah satu pengemudi Gojek meninggal saat membelikan pesanan seorang pelanggan. Bukan karena apa-apa, tapi memang karena sakit. Kurang jelas, sakit jantung atau “angin duduk”.

Kabar meninggalnya pengemudi ini menyebar dengan cepat di grup-grup Whatsapp para pengemudi Gojek. Dan akhirnya banyak yang datang melayat. “Kita mah pada gak kenal, Mas. Tapi ya, kita ngerasa sesama sodara aja gitu sesama pengemudi Gojek”, begitu ujar pria yang pernah bekerja sebagai staff di salah satu hotel top di Jakarta ini.

Di lain waktu, saya pernah ngobrol dengan pengemudi Gojek. Cerita soal ojek pangkalan yang menentang keberadaan Gojek, bahkan kadang sampai melakukan kekerasan kepada pengemudi Gojek. Pria muda ini lalu mengatakan, “Kita sih Mas sebenarnya bisa aja balas. Kaya yang di Sawangan itu. Sekarang gini aja, Mas, mereka yang di pangkalan itu cuma berapa orang sih? Lagian mereka kan mangkal di situ terus, kita kalau mau balas serang, gampang nyari mereka. Lagian jelas banyakan kita. Ribuan orang juga bisa kita gerakin. Mereka malah susah kan bales kita. Lah wong kita tersebar kok. Ya, gak Mas?”

Tak lama kemudian saya membaca di media online, ada konvoi ribuan pengemudi Gojek untuk mengantarkan jenazah salah satu pengemudi Gojek yang meninggal karena kecelakaan. Alasannya karena solidaritas sesama pengemudi Gojek.

Dari satu sisi, yang saya lihat belakangan ini baru jadi semacam “unjuk kekuatan” yang tidak disengaja.  Berkumpul bersama, demi solidaritas. Tapi bisa jadi belakangan, setelah sadar mereka punya kekuatan, akhirnya berubah jadi “unjuk kekuatan” beneran. Dan seperti yang dikhawatirkan beberapa pengamat di dunia online, bukan tidak mungkin nantinya ada organisasi yang merangkul mereka, atau justru mereka membuat organisasi sendiri.

Lalu bagaimana dengan GrabBike? Bisa jadi sama. Urusan cari duit di jalanan itu sejak dulu memang keras. Jika sudah semakin besar, mungkin pengemudi GrabBike dan Gojek awalnya bersatu. Mereka “unjuk kekuatan” dulu ke ojek-pangkalan yang nyata-nyata menolak keras keberadaan mereka. Fase berikutnya, di antara mereka sendiri bisa terjadi pergesekan.

Lalu muncul lah elemen berikutnya. Serikat buruh.

Di sini semakin rumit. Karena pengemudi Gojek dan GrabBike bukanlah karyawan dari Gojek ataupun GrabBike. Mereka semua pekerja lepas. Membuat serikat buruh seperti layaknya di perusahaan-perusahaan manufacturing itu mungkin bakal membutuhkan format dan kerangka aturan yang berbeda. (Disclaimer: saya bukan ahli hukum) Bisa jadi akhirnya mereka akan mulai menuntut berbagai hal.

Seperti kumpulan massa dalam format dan alasan apapun, jika tidak hati-hati bisa jadi suatu saat mereka ditunggangi kepentingan tertentu. Mudah-mudahan Gojek (ataupun GrabBike) sudah siap dengan kemungkinan ini.

70 tahun Indonesia Merdeka, Mari Berbahasa Inggris

[Foto: tania_huiny | Flickr.com]

Ini tulisan yang terlambat. Tapi lebih baik daripada tidak lah ya.

70 tahun Indonesia merdeka, seperti biasa komentar orang-orang masih sering “Ah.., apanya merdeka. Masih banyak yang gak beres, hukum kita, aparat kita, kebebasan beragama, pendidikan kesehatan, bla..bla..”.

Nah saya mau bahas di luar itu. Saya mau bahas urusan Bahasa Indonesia. Saya rasa kita paling banyak “dijajah” di sini. Dan saya rasa justru kita sendiri yang sengaja menjajah Bahasa Indonesia.

Saya kasih contoh beberapa.

Pernah ada salah satu pejabat pemerintah yang mengirimkan email ke sebuah komunitas lokal, dan memang sebagian besar isinya WNI. Isi emailnya pun memang ditujukan bagi WNI. Anehnya, isi emailnya ditulis dalam Bahasa Inggris. Jadi pejabat negara Indonesia, mengirimkan email ke warga negara Indonesia, untuk hal-hal yang berlaku bagi warga negara Indonesia, tapi dalam Bahasa Inggris.

Di lain waktu, saya pernah menonton konser salah satu artis nasional (yang sangat ngebet go-international), saya rasa anda mungkin tahu siapa yang saya maksud. Acara ini digelar di Monas, dan penontonnya saya rasa 99% WNI.

Di sela-sela lagunya, si artis ini memberikan pesan-pesan nasionalisme. Bagaimana kita harus menjaga persatuan, hidup dalam perbedaan, bangga dengan bangsa kita, bangga dengan pencapaian Indonesia, bangga dengan talenta-talenta dari Indonesia. Penutupnya, penyanyi ini mengatakan kalau kita harus bangga dengan bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Tapi semuanya itu disampaikan dalam Bahasa Inggris.

Lalu ada juga salah satu petinggi media ternama di Indonesia. Dalam salah satu tulisannya intinya dia menyesalkan kenapa orang Indonesia tidak bangga dengan Bahasa Indonesia. Suatu kemunduran dibanding jamannya dulu. Tapi tulisan itu ditulis dalam Bahasa Inggris.

Begitu juga di masyarakat.

Saya melihat anak-anak kecil berseliweran di mall-mall di Jakarta, di apartemen atau di kolam renang. Mereka kejar-kejaran, teriak-teriak, bercanda atau justru bertengkar dengan teman bermainnya, seperti anak-anak lain pada umumnya. Hanya saja mereka menggunakan Bahasa Inggris. Tapi hanya anak-anaknya saja. Orang tua mereka masih berbahasa Indonesia, kecuali ketika berbicara dengan anaknya.

Awalnya saya menduga mungkin karena mereka tinggal di luar negri dan sedang berkunjung ke Indonesia. Ternyata tidak. Mereka tidak pernah tinggal di luar negri. Hanya saja anak-anak itu disekolahkan di International School atau sejenis sekolah swasta biasa yang bahasa pengantarnya menggunakan Bahasa Inggris. Ada banyak sekali sekolah semacam ini, apalagi di Jakarta. Dan tidak jarang anak-anak ini ketika akhirnya tumbuh dewasa akhirnya sulit berbahasa Indonesia.

Dulu, istilah-istilah nasional pun dulu sepertinya sebisa mungkin diarahkan ke Bahasa Indonesia. ATM yang aslinya singkatan dari Automatic Teller Machine, disesuaikan jadi Anjungan Tunai Mandiri, misalnya. Kalau sekarang, istilah Car Free Day sepertinya sudah jadi istilah resmi. Contoh lainnya, “jalur busway”.

Di dunia startup juga sama. Startup yang didirikan oleh para pemuda Indonesia, dengan target market fokus ke Indonesia, entah mengapa antarmuka bahasanya justru menggunakan Bahasa Inggris.

Saya tahu, sebagian akan berargumentasi “Loh.. Sekarang ini era global bro. Lo harus fasih bahasa Inggris. What’s the problem with using English anyway? We are citizen of the world. Come on lah.., think global. Kalo lo mau maju, act like one, use English.”

Mungkin di Jepang dan Korea mereka mengikuti saran itu kali ya. Makanya Jepang dan Korea sangat maju. (*untuk yang gagal paham, Jepang dan Korea itu justru sangat bangga dengan bahasa mereka sendiri.)

Atau mungkin setelah 70 tahun merdeka, kita memutuskan menjadi seperti Singapura dan Malaysia saja ya? Secara de-facto menerima Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari maupun resmi.

Ulasan Novel Negeri Para Bedebah dan The Circle

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye. Saya suka genre nya. Saya bahkan baru tahu ada genre seperti ini di novel Indonesia. Saya bukan pembaca novel aktif sih, jadi harap maklum kalau kurang update. Bayangkan saja, novel ini sudah terbit 3 tahun lalu, dan saya baru tahu beberapa hari lalu. Teman-teman saya sudah tahu lama. Ada yang sudah baca sejak awal terbit. Ada yang malah kenal dengan penulisnya, Darwis (nama asli Tere Liye). Darwis dulu menjadi asisten dosen teman saya ini sewaktu kuliah.

Beberapa bulan sebelumnya saya juga membaca novel, setelah 6 tahun lebih tidak membaca novel. Novel yang saya baca berbahasa Inggris, judulnya The Circle, karya Deve Eggers. Itupun tertarik baca karena diceritakan oleh seorang teman saya.

Berawal dari ngomongin digital communication buat internal company, lalu ngalor ngidul ngomongin startup, internet dan privasi di internet lalu tersebut lah buku ini. Akhirnya teman saya itu meminjamkan novel bersampul pink ini. *Belakangan saya malah baru tahu dari internet kalau teman saya itu ternyata penulis novel juga. :O

The Circle ini berlatar belakang cerita tentang privasi di dunia internet, atau tepatnya di “Internet of Things” (IoT). Novelnya agak mengecewakan bagi saya karena alurnya terlalu lambat di depan. Saya paling malas kalau sudah baca bagian si Mae (tokoh utama) bergalau-galau ria, apalagi saat bergalau plus berkayak di teluk. Entahlah, bagi sebagian pembaca mungkin ini bagian yang disebut “pendalaman tokoh”, bagi saya sih membosankan aja.

The Circle menurut saya benar-benar mengambil Google sebagai latar perusahaan yang jadi cerita utama. Saya mengikuti cerita The Circle ini dengan membayangkan kantor Google yang sering saya lihat di foto-foto, video dan cerita-cerita. Mungkin Googleplex (kantor pusat Google di Mountain View, California) itu bukan visualisasi yang dimaksud Dave Eggers. Tapi saya memilih begitu saja. Jadi saya bisa tidak terlalu serius membaca detail deskripsi setiap bangunan yang diceritakan.

Kalau The Circle berbasis cerita tentang ribut-ribut soal privasi di Internet (yang masih sering mencuat sampai sekarang), Negeri Para Bedebah menurut saya benar-benar mengambil latar kejadian kisruh Bank Century yang heboh di sekitar 2009 itu. Untungnya saya cukup familiar dengan berbagai konsep dan istilah di dunia perbankan, ekonomi, investasi -setidaknya dalam cakupan yang disebut di novel ini. Dengan begitu saya cukup lancar mengikuti alur cerita ini.

Plot cerita Negeri Para Bedebah cukup memuaskan bagi saya, walaupun sejak awal saya sudah bisa menduga siapa tokoh pengkhianat dan musuh besarnya. Tokoh utamanya si Thomas pun too good to be true.

Tetapi tidak demikian dengan plot cerita The Circle. Tokoh utamanya sih realistis. Tetapi terlalu banyak bagian yang membuat jalan ceritanya menjadi banyak lubang. Tetapi saya cukup senang endingnya tidak seperti yang diharapkan sebagian besar orang.

Dalam Negeri Para Bedebah, menurut saya Tere Liye banyak menitipkan opini-opini pribadinya. Atau lebih tepatnya agak menggurui. Berbeda dengan Dave Eggers, yang menurut saya (tentu saja) ikut menyampaikan opini pribadinya, tetapi membuat pembacanya untuk berpikir sendiri. Singkatnya Eggers membuat kita jadi bertanya-tanya, sedangkan Darwis seperti sedang ceramah. Dan dari yang saya baca-baca di GoodReads.com, novel lanjutan Darwis itu -judulnya “Negeri di Ujung Tanduk”- lebih kental lagi dengan “ceramah” Tere Liye. Saya belum baca sih.

Nah, ada yang tahu gak novel Indonesia yang isinya bukan soal cinta-cintaan, dan plot twist-nya “sesadis” Game of Thrones? Boleh dong tinggalin komentar kalau ada ide.

Penyidikan atau Penyelidikan ?

Hampir tiap hari baca berita. Seringkali menemukan kata penyidikan dan penyelidikan. Tapi sebenarnya gak pernah benar-benar nangkep apa bedanya. Jadi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ini bedanya:

penyidikan /pe·nyi·dik·an/ n serangkaian tindakan penyidik yg diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti pelaku tindak pidana; proses, cara, perbuatan menyidik

penyelidikan /pe·nye·li·dik·an/ n 1 usaha memperoleh informasi melalui pengumpulan data; 2 proses, cara, perbuatan menyelidiki; pengusutan; pelacakan

Cukup jelas kan?

Winning and Ruling

[Ilustration: Public Domain]

Bagi sebagian orang, founder itu lebih keren. Karena dia membangun sesuatu dari nol. Bagi sebagian lagi CEO tidak kalah keren, karena dia yang memastikan apa yang sudah dibangun itu bisa bertahan dan berkembang selamanya.

Memang ada juga founder yang sekaligus menjabat CEO. Contoh yang masih hangat: Mark Zuckerberg, founder sekaligus menjabat CEO Facebook.com. Atau contoh lain yang sudah lebih senior, Jeff Bezos, founder sekaligus CEO Amazon.com.

“Winning and ruling are two different things”.

-Game of Thrones (maybe)

Saya sih percaya “winning and ruling are two different things”. Founder melakukan “winning”, CEO melakukan “ruling”. Memang sangat bagus kalau satu orang bisa keduanya. Tapi penting juga untuk menyadari kalau tidak paham keduanya sekaligus.

Kalau dibawa ke konsep pemerintahan atau politik, masih sama sih. Cuma siapa yang “win” dan siapa yang “rule” ini menjadi lebih abstrak.  Pengusaha-pengusaha kelas kakap, organisasi yang punya pengaruh besar, media massa, atau tokoh-tokoh tertentu bisa membantu seseorang untuk “win”. Tapi bisa jadi jadi setelah “win”, pihak-pihak lain lah yang sebenarnya ikut “rule”.

Pengalaman Menggunakan Uber: Aplikasi Pemanggil Mobil Sewaan (Bukan Taksi)

[Foto: metro.news.viva.co.id]

Sudah lama dengar tentang Uber (aplikasi pemanggil mobil sewaan, BUKAN TAKSI), tapi akhirnya baru nyobain pertama kali minggu lalu. Bermodal kode promo, dapat nominal lumayan. Kebetulan mau ke bandara. Jadi langsung kepake promonya.

Total biaya dari daerah jalan Ciledug Raya sampai Terminal 2 Soetta (via Pakubuwono – Tol dalam kota) : 102.000 (sudah termasuk biaya tol). Menurut saya ini murah, karena 2 hari sebelumnya saya ke bandara juga dengan rute yang mirip menggunakan si burung biru, totalnya sekitar 165.000, belum termasuk biaya tol.

Penggunaan Uber sih cukup mudah ya. Saya install, bikin akun, terus masukkan info kartu kredit. Setelah itu masukkan kode promo, terisi lah voucher Uber saya. Oh iya, kalau mau kode promo, pakai punya saya aja: oktosue, lumayan nanti kalian dapat voucher 75rb.

Untuk pemesanan mobil gampang sih. Cukup jalankan aplikasinya, nanti kita pilih titik dimana kita minta dijemput. Untuk masukkan tempat tujuan opsional. Jadi misal belum tahu mau kemana bisa juga. Kalau sudah memasukkan lokasi tujuan akhir, kita bisa dapat perkiraan total biayanya. Ini penting sih.

Waktu memesan kita juga bisa melihat ada berapa banyak mobil sewaan yang tersedia di sekitar lokasi penjemputan yang kita pilih. Nah, Uber secara otomatis akan “memasangkan” kita dengan mobil yang berada paling dekat dengan kita. Jadi kita gak bisa pilih-pilih. Jika sudah “dipasangkan”, akan keluar informasi siapa pengemudinya, ratingnya, jenis mobil, dan foto pengemudinya.

Oh iya jenis mobilnya ada 2: uberX (Avanza, Xenia, dan sejenisnya), dan uberBLACK (Mercy, Camry, Innova) –ini lebih mahal. Kata pengemudinya sih ada juga SuperBLACK, mobilnya Aston Martin, buka pintu aja udah 1jt biayanya. Mungkin kartu kredit saya limitnya gak masuk kriteria kali ya, jadi gak ada opsi itu.

Setelah dipesan, kadang drivernya menelpon, memastikan lokasi kita dimana. Soalnya gini. Waktu kita milih lokasi penjemputan, walaupun sudah presisi koordinatnya, kadang nama jalan yang keluar membuat ambigu. Saya pernah minta jemput di sebuah gang yang nama jalannya Tanah Kusir, tapi posisinya bukan di daerah Tanah Kusir. Si pengemudi yang “dipasangkan”, gak nelpon saya. Dia yakin aja posisinya di Tanah Kusir, akhirnya malah dia melewati lokasi penjemputan, terus menuju arah Bintaro. Karena memang makam Tanah Kusir di daerah sana. Ya sudah, saya cancel. Pesan ulang lagi deh.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Seorang pengemudinya pernah cerita, dia gak baca nama jalan, tapi posisi penjemputannya diletakkan di hotel Peninsula (Slipi). Ternyata penumpangnya tidak di situ, tapi di hotel lain. Saya enggak tahu sih, pengemudinya dimodali pulsa juga gak ya buat telpon pelanggan setiap kali ada order?

Oh iya, setelah “dipasangkan”, kita bisa memantau posisi mobil di Uber. Hampir realtime. Jadi bisa kita perkirakan bakal nyampe kapan. Kalau estimasi waktu tiba di aplikasinya sih gak usah dipercaya lah. Dia bener-bener berdasarkan jarak kayaknya. Saya pernah lihat estimasi 4 menit, padahal gak mungkin. Karena mobilnya harus muter balik jauh dulu, plus macet luar biasa.

Setelah naik, saya sih berharap gak ada lagi pertanyaan ala-ala pengemudi taksi. “Mau lewat mana, Pak?”. Karena rutenya sudah dibuat oleh Uber, terlihat jelas di peta dalam aplikasinya. Tapi ya mereka masih nanya juga sih. Yaa.., kadang maklum juga. Soalnya kadang rute yang ditampilkan kadangkala tidak mewakili kondisi sebenarnya. Pernah saya minta pengemudinya ikutin aja persis rute yang diberikan Uber. Ternyata sampa di daerah Kemang, jalan tersebut ditutup karena ada acara festival apalah gitu.

Enaknya pake Uber ini, semua pembayaran cash-less. Jadi gak perlu pegang duit. Pembayaran tol pun akan dibayarkan oleh pengemudi. Jadi bener-bener tinggal naik, terus sampai di tujuan tinggal “Makasih bang”, terus pergi deh. Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan via email, lengkap dengan peta rutenya.

Catatan:

  • Yang dicover duluan oleh pengemudi adalah biaya tol, kalau biaya parkir sih tetap dari kita.
  • Setelah “dipasangkan” dengan pengemudi, perhatikan pergerakan posisi mobil. Kalau makin jauh, kemungkinan dia salah paham lokasi penjemputan kita di mana. Jadi bisa kita telpon, atau kita cancel.
  • Kalau kata pengemudinya, jika kita cancel lebih dari 3 menit setelah dipasangkan, kita akan kena biaya sekitar 30rb. Di pengalaman saya sih, sepertinya saya cancel setelah lebih dari 3 menit, tapi tidak ada notifikasi saya kena biaya. Entahlah, males googling.
  • Nah ini penting. Di jam-jam tertentu (dan sepertinya di lokasi tertentu), tariff Uber bisa naik luar biasa. Kemarin malam saya melihat tarif Uber naik 2.5x lipat di daerah JCC Senayan. Setelah 2 menit, turun jadi 2x lipat. Saya tunggu 15 menit, siapa tahu jadi normal. Ternyata malah naik jadi 3.7x lipat. Ya sudah.., tak Uber, Go-Jek pun jadi. 😀

Jangan lupa, kalau mau kode promo pakai: oktosue, anda dapat voucher senilai 75.000 rupiah. 😀

Tentang Mengambil Keputusan

It’s also important to act quickly rather than overthink decisions, according to a study by Saras D. Sarasvathy of the University of Virginia’s Darden School of Business. Sarasvathy posits that one common behavior of serial entrepreneurs is their tendency to act rather than overanalyze.

https://medium.com/frankly-speaking/frankly-speaking-how-i-found-purpose-38fe929e70bb

Google Nexus 6 Turun Harga dan Nexus 5 Generasi Kedua

Berhubung Nexus 4 yang sudah saya gunakan 2 tahun lebih itu sepertinya baterainya drop, saya sedang mencari alternatif ponsel baru. Seperti pernah saya bahas dulu, saya sih pengennya tetap menggunakan Android keluaran Google, alias Nexus. Alasannya sederhana, karena ini satu-satunya seri Android yang pasti di-support 100% hardwarenya (dan harusnya paling optimal), selalu mendapat update OS paling pertama dan paling lama (bisa beberapa tahun), dan tidak penuh dengan aplikasi-aplikasi yang tidak penting -bawaan dari manufacturer nya.

Tapi, Nexus 6 belum resmi dijual di toko-toko di Indonesia. Walaupun saya pernah baca di salah satu situs ijin dari Kominfo sudah keluar untuk penjualan di Indonesia oleh beberapa distributor utama.

Beralihlah saya ke online. Di FJB Kaskus saya melihat ada beberapa orang yang jual. Harganya sekitar 8jt-an. Wow ! Mahal ya. Soalnya Nexus kan biasanya masuk ke kategori yang lumayan terjangkau (di bawah 5jt). Ya kalau lihat di toko online resminya Google sih harganya memang $649. Jadi kalau di rupiahkan harganya sekitar 8jt-an.

Lalu saya menemukan JakartaNotebook.com ternyata menjual Nexus 6. Ready stock. Harganya Rp 7.499.000, alias 7,5 juta. Nah ini lumayan miring harganya dibanding rata-rata. Mulai bimbang deh. Saya sudah hampir berangkat ke Central Park (letak tokonya JakartaNotebook), tetapi ketika cek lagi di websitenya, stocknya yang kemarin masih 3 biji, sore itu sudah habis. Dan harganya kembali ke 8jt. Gagal sudah.

*tadinya kepikiran buat beli aja, terus jual di FJB Kaskus 7,7jt. Mayanlah kan, cuan 200ribu. Hehe.

Tadi malam sewaktu mencari alternatif lain selain Nexus, saya kaget. Ternyata Google menurunkan harganya dari $649 menjadi $449. Wuooh, turun $200 cuy. Nah, untung kemarin saya gagal beli Nexus 6. Saya cek di FJB Kaskus, ada yang jual 7,7jt, baru, masih boks tertutup. Lah, jangan-jangan ini yang dibeli dari JakartaNotebook kemarin. Haha. Bakal susah tuh kejualnya.

Nah ini bikin saya kaget dengan Nexus 6. Spekulasi banyak beredar. Ada yang bilang Nexus 6 turun harga akibat banyak diprotes karena harganya yang masuk ke kelas premium. Ada yang bilang karena ukuran layar 6″ terlalu besar sehingga kurang sukses. Tapi ada juga rumor lain (yang saya juga baru tahu) yang mengatakan bahwa ini strategi Google, persiapan peluncuran Nexus 5 (2015).

Nah, betul. Nexus 5 (2015). Saya juga baru tahu Nexus 5 akan ada generasi kedua. Gosipnya bakal diluncurkan di Q4 2015. Nexus 5 (2015) ini pun ada dua jenis. Yang dibuat oleh LG layarnya 5,2″, dan yang dibuat oleh Huawei layarnya 5,7″. Menarik ini.

Eh iya, kalau dari review dan hasil test ArsTechnica sih, Nexus 6 gak segitu bagusnya juga sih. Untuk beberapa hal malah kalah dari Nexus 5. Untuk di spesifikasi yang sama mending Samsung Galaxy Note 4 malah. Beda ukuran layar sedikit sih. Note 4 layarnya 5,7″. Toh harganya relatif sama, mulai dari sekitar 7,5 juta-an. Ya kecuali anda sealiran saya yang lebih suka stock-Android.

Saya? Oh masih pake Nexus 4 aja. Siapa tahu ntar ada yang mau ngasih Nexus 6 buat review.. #kodekeras