Category: Linux (page 3 of 14)

Tips Menghilangkan Paket Desktop Ubuntu kembali jadi Minimal

Ceritanya, saya lagi mau coba oprek satu OS untuk keperluan eksperimen buat server. Nah paling aman tentunya dijalanin secara virtual (bukan hard install di atas PC/Laptop). Untuk virtualization-nya saya pakai VirtualBox.

Masalahnya saya enggak punya ISO Ubuntu server. Adanya iso Ubuntu Desktop. Jadilah ISO ini yang saya pakai untuk dipasang di VirtualBox.

Karena versi desktop, jadi banyak software – software yang tidak saya butuhkan. Nah saya ingin membuat paket – paket desktop ini. Ingin mengembalikannya ke versi base saja. Lalu nanti baru nanti saya install paket server yang saya perlukan.

Saya tadinya berpikir, ah gampang, tinggal jalankan ini : sudo apt-get remove ubuntu-desktop. (beberapa tulisan di internet juga menyatakan demikian) Hmm.. Ya, pake ubuntu-desktop memang dihapus. Tapi sayangnya itu cuma paket meta aja. Tidak benar – benar paket softwarenya.

Mungkin sebagian besar dari anda berpikir sama dengan saya, jika saya menghapus suatu paket desktop yang esensial, pasti software – software desktopnya juga akan terbawa dihapus. Masalahnya apa nama paketnya ini? Setelah mencari – cari dan sedikit menebak – nebak, ketemulah dia. Ini paketnya : libgtk2.0-0

Jadi, setelah saya jalankan : sudo apt-get purge libgtk2.0-0 semua (atau setidaknya sebagian besar) program desktop Ubuntu dihapus. Sekarang Ubuntu di VB saya sudah minimalis, tambahkanlah garam dan sambal secukupnya, hidangkan selagi hangat 🙂

SEO Expert Bersertifikasi dari Google ?

Ok, ini topik basi di seputar dunia SEO sebenarnya. Tapi tetap saja masih banyak yang tidak mendapatkan informasi dengan jelas.

Sudah sejak lama di kalangan para pentolan SEO underground Indonesia, banyak yg heran dengan mereka yg mengaku sebagai ahli SEO, dan mengaku *bersertifikasi dari Google*.  Dan sudah sejak lama juga, di kalangan industri pun, banyak yg percaya bahwa ada beberapa perusahaan resmi, yang punya sertifikat SEO dari Google.

Lalu apakah Google memang mengeluarkan sertifikasi untuk “SEO Experts” (atau sinonim lain) ?

Jawaban dari Matt Cutts (head of Google’s Webspam team) : “I don’t think Google has officially endorse any SEO certification as far as I’m aware of”.
Link : http://www.youtube.com/watch?v=fW6ZA4MMHZg

Dalam wawancaranya yg lain :
Q : Some SEO firms cold call saying they can rank people in first place. Can they guarantee this?
Matt Cutts : Not on Google. No one can guarantee this, not even Google, since our ranking algorithms are often updated.

Link : http://www.search-marketing.info/newsletter/articles/matt-cutts.htm

Yang ada itu sebenarnya adalah Google AdWords Certification Program. Apa itu? cekidot gan :  http://www.google.com/intl/en/adwords/professionals/
Dan jelas, itu bukanlah program sertifikasi untuk Ahli SEO.

😉

Kalau mau tahu lebih jelas, jangan tanya saya, silahkan tanya bung Pogung 😀

Cari Developer Itu Susah Kawan !

Masih berkaitan dengan Indonesia di TechCrunch. Ada banyak poin yang bisa dijadikan catatan. Saya menyoroti satu hal : Ternyata yang sulit di Indonesia itu adalah mencari developer, bukan pendanaannya !

…Instead, the pain point is finding developers. In Indonesia, developers are considered an entry level position, not a lucrative career path. Most companies have to invest six months or so in training the talent they need, making scaling up a challenge.

Hah?! Dengan sekian banyak website bertema programming dan development (khususnya web), belum lagi milis – milis. Ternyata susah mencari developer?!!

Oohoo.. Bukan berita baru sebenarnya. Tanyakan pada mereka yang mencari programmer, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan programmer berkualitas? Sebuah perusahaan dari grup bisnis yang sangat besar di Indonesia, dalam waktu 6 bulan pun masih belum bisa mendapatkan satu orang programmer web, dengan spesifikasi standar.

Lalu apa penyebabnya ? Saya coba rangkum. (silahkan tambahkan di kolom komentar kalau anda punya masukan baru)

Gaji

Isu sangat sensitif ini. Dan seringkali jadi pertimbangan utama (ya sama lah dengan lowongan kerja lainnya). Ada yang menawarkan standar salary yang tidak masuk akal untuk standar hidup di Jakarta. Tapi berhubung perusahaan ini punya label nama yang mentereng, banyak yang rela mengantri (sebelum akhirnya pun mengantri untuk resign).

Ada juga yang minta minimal requirement kaya dewa (yah.., para developer pasti tahulah), tapi dengan gaji standar UMR.

Nama Besar

Lalu, apa tidak ada yang menawarkan gaji besar? Ohh ada.. Tapi minimal requirement nya tinggi ya? Tidak juga..  Tapi kok gak dapet – dapet programmernya?

Nah sama juga seperti lowongan kerja lainnya. Nama besar penting. Kalau perusahaan ini masih baru (khususnya startup) mereka yang punya kualitas tinggi pun tetap akan membandingkannya dengan lowongan sejenis dari perusahaan yang punya nama besar. Apalagi kalau multinational company. Apalagi kalau oil & gas company.. (jujur..!) Read more →

Programmer Sukses

Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan alun – alun utara, Jogja.

Bermaksud mengisi kesunyian karena Haran tak kunjung datang, Bulha bertegur sapa dengan gadis ini.

Bulha : Wah.. fotografer nih mbak?

Si Mbak : Ahh.. enggak kok. Cuma hobi aja. Keliling – keliling nyari objek bagus. Ini juga baru belajar.

Bulha : Oo.. Potongannya udah cocok lho mbak jadi fotografer profesional.

Si Mbak : (Tersenyum seraya membidikkan lensa kameranya ke arah turis domestik berwujud alay yang sedang heboh berfoto ria di depan monumen bersejarah itu.)

Bulha : Emang kerja dimana mbak?

Si Mbak : Oh.. saya programmer kok mas. Freelance.

Bulha : Emm.., sama kaya saya dulu. Dulu saya freelance juga di Jogja. Tapi sekarang kerja di Jakarta, programmer di bank swasta.

Si Mbak : Whuee.. asoy tuh gajinya, ha..ha..

Bulha : Gak juga standar kok. Eh, freelance sendirian ato ada timnya, Mbak?

Si Mbak : Sendiri aja. Tapi kadang kalo loadnya berat, ya di outsource ke temen – temen freelancer lainnya juga. Terutama desain. Selera desain saya jelek.., he..he.. (lalu memanggil si empunya angkringan, memesan susu jahe).

Bulha : Kenapa gak bikin tim aja, Mbak?

Si Mbak : Buat apa?

Bulha : Ya.., nanti kan bisa jadi lebih besar resource nya.

Si Mbak : Terus?

Bulha : Ya terus bisa ngambil proyek lebih banyak lagi. Gak kecapekan.

Si Mbak : Proyek lebih banyak buat apa?

Bulha : Ya biar pendapatan makin gede. Ntar bisa jadi perusahaan malah.

Si Mbak : Lah terus?

Bulha : Nah.., kalau udah jadi perusahaan kan enak. Ada timnya sendiri, punya anak buah. Sistemnya udah bekerja.

Si Mbak : Kalau sistem udah bekerja?

Bulha : Nah Mbak kan bisa jadi lebih nyantai. Bisa nerusin hobi fotografi. Keliling – keliling nyari objek bagus, nongkrong di angkringan sambil minum susu jahe..

Si Mbak : Lah ini saya lagi ngapain? (saat membidikkan kameranya, si empunya angkringan mengantarkan susu jahe pesanannya).

Bulha : *bengong*

Cuma sekadar sudut pandang lain. Hidupmu, pilihanmu.

NB : Cerita ini saya dengar dari kakak saya, tidak tahu siapa yang menulis aslinya. Cerita aslinya tentang nelayan. Saya sesuaikan jadi bertema IT.

Gunakan Partisi Terbesar di Server Amazon EC2

Untuk yang pernah menggunakan (me-launch) instance baru di Amazon EC2, biasanya mendapatkan setingan partisi default : 10 GB untuk sistem operasi, dan sisanya di /mnt. Beberapa waktu lalu saya juga membuat instance baru di Amazon EC2. Kali ini bukan Debian, tapi Ubuntu 10.04. Instance kali ni merupakan instance yang large : Prosessor AMD 64 (virtual tentunya), RAM 7,8GB, dan hardisk 400GB-an (lupa pastinya). AMI yang saya gunakan, yang resmi dari Canonical.

Sama seperti instance untuk server Debian. 10 GB digunakan untuk sistem operasi, dan sisanya (414 GB) dimount ke partisi /mnt.  Nah berhubung website ini membutuhkan banyak space, dan space terbesar justru berada di /var, maka /mnt itu akan saya ganti jadi /var.

Catatan : /var banyak makan space, karena di dalamnya ada direktori untuk script web (/var/www), direktori untuk data MySQL (/var/lib/mysql), dan jangan lupa LOG ! Kasus saya dulu partisi utama cepat penuh justru karena Log Apache (Thanks to agan Yuda Nugrahadi atas petunjuknya). Ah iya, Log apache terletak di /var/log/apache2/

Nah. Kembali ke topik. Jadi ini langkah – langkah yang saya lakukan agar space 414 GB itu menjadi direktori /var sistem.

1. Login ssh ke server (karena pakai Amazon EC2, jangan lupa gunakan file key pairing nya *.pem, atau kalau tidak mau repot lakukan : ssh-add fileKey.pem).

2. sudo -s (biar jadi root)

3. pico /etc/fstab.

ganti baris :

/dev/sdb    /mnt    auto    defaults,comment=cloudconfig    0    0

jadi :

/dev/sdb    /var    ext3    defaults    0    0

4. rsync -avz /var/* /mnt/

5. mv /var  /var-old

6. umount /dev/sdb

7. mount /dev/sdb

8. Kalau mau lebih yakin : reboot

Nah langkah – langkah di atas berjalan dengan baik untuk 2 server yang saya sempat senggol. Tapi cukup riskan juga sebenarnya. Jika tidak yakin, jangan coba – coba.. He..he..

Aplikasi Mobile untuk 21 Cineplex

Sebenarnya kalau di Nokia E series, udah ada aplikasi resmi dari OVI Store untuk melihat jadwal, lokasi dan harga tiket film di jaringan 21 Cineplex. Tapi saya rasa aplikasi itu masih jauh dari nyaman. Kesannya tidak seperti native application. Ya, karena memang beberapa bagian akhirnya memang cuma menjadi shortcut ke web mobilenya. Ujung – ujungnya detail film dan jadwal harus tetap dibuka di browser mobile.

Beruntunglah ada bung Cahyo Wicaksono, yang telah membuatkan aplikasi mobile serupa. Ada dua versi, yang Java version, dan Blackberry. Saya pakai yang Java version. Dan sejauh ini, hasilnya sangat memuaskan. Ini baru native application. Mangstab gan..!

Silahkan download disini aplikasinya, gratis.

Tabungan Bapak dan Tabungan Anak

Di sebuah pedesaan di daerah Pleret (sekitar setengah jam dari pusat kota Jogja). Seorang ayah sedang memperhatikan dari kejauhan anaknya paling bungsu yang sedang ngoprek Karmic Koala. Tetangga sebelah rumah duduk disebelahnya, dan masih gak habis pikir dengan pola pikir si bapak.

Tetangga : “Mas.. sampeyan dulu gimana kok bisa nyekolahain anak yang pertama dulu sampe lulus kuliah. Padahal kita sama – sama cuma buruh di peternakan sapi..”

Si Bapak : “Tabunganku seumur hidup, tak habisin semua buat kuliah dia dulu..”

Tetangga : “Hah??! Sampeyan kok berani.. ?”

Si Bapak : “Ah.., buktinya setahun habis dia kerja, tabungannya dua kali lipat dari tabunganku seumur hidup.. ”

Sekadar motivasi bagi yg masih berjuang di bangku kuliah (ataupun sudah bekerja).. Kalau orang tua kita berani total.., kita juga harus total.. 😉

Review eZ Publish CMS

Sudah 2 bulan ini saya berkutat dengan CMS eZ Publish ini. CMS ini free, sama seperti Drupal, WordPress ataupun Joomla. Bedanya karena tidak berbasis pengembangan oleh komunitas, dokumentasi terkait relatif sulit didapatkan.

Beberapa perbedaan eZ Publish dengan CMS opensource lainnya :

  1. Dikembangkan oleh perusahaan (eZ Systems AS, berbasis di Norwegia)
  2. Extension (modul/plugin) yang masuk ke situs resmi eZ direview dulu dengan ketat oleh eZ Systems. Jadi tidak semua extension kiriman dari komunitas otomatis di approve dan masuk situs resmi mereka.
  3. Fitur yang disediakan secara default sangat banyak (Custom Field *sejenis CCK kalau di Drupal*, Polling, Newsletter, Multiple Site, Single sign on, dll).
  4. Secara default memang bisa digunakan sebagai satu CMS untuk beberapa situs. Tapi arti satu CMS disini tidak cuma scriptnya. Jadi bukan cuma satu script untuk beberapa situs sekaligus, melainkan satu CMS itu secara sistem bisa mencakup beberapa situs sekaligus.
  5. Secara default support multiple database (*mmm.. database cluster kali ya istilahnya).
  6. Secara default Cache nya aktif.. *ehm.. super duper aktif malah gan..!
  7. Banyak konfigurasi yang disimpan tidak di database, melainkan di file INI.
  8. Templating menggunakan *bahasa* sendiri, yang mirip – mirip Smarty.
  9. Secara default ada fitur *social network* (saya belum telusuri lebih jauh, tapi setahu saya sangat basic)
  10. Advance user access limitation
  11. Secara default menyediakan fitur Drafting dan Versioning content
  12. Fitur RSS Import tersedia secara default
  13. Semua konten adalah node.. (bahkan user dan kategori *dalam eZ istilahnya Folder* pun adalah node)
  14. Fitur auto resize image sesuai konfigurasinya sangat membantu (Berbahagialah jika anda menggunakan Linux, ImageMagick adalah kuncinya disini)
  15. Menyatakan diri sebagai CMS yang enterprise.. *bagi saya Drupal dan WordPress sih enterprise juga…, apalagi sangat banyak situs besar yang menggunakan kedua CMS ini (eZ Publish justru sangat jauh jika dibanding kedua CMS itu)

Yang saya rasa kurang pas :

Demi kemudahan manajemen sistem, fitur custom field secara default tersedia. Tapi tidak seperti Drupal yang CCK nya menggenerate table baru, eZ Publish memasukkannya dalam field – field di table MySQL. Akibatnya, setiap query content melakukan query SQL yang cukup berat, karena JOIN query berlapis – lapis yang dihasilkan. Read more →

Kali Ini, Jangan Mati Dulu

Dulu waktu kecil banget (sekitar umur 3 tahun *kata nyokap), di rumah ada kucing, tepatnya kucing betina. Nah nih kucing akhirnya punya anak, tanpa tau siapa bapak anak – anaknya (one night stand kali ya?). Salah satu dari anak kucing itu akhirnya gue pelihara. Dalam waktu beberapa minggu, tu anak kucing mati. Karena…, gue cemplungin ke sumur.. *yee namanya juga anak umur 3 tahun kan.

Sekitar kelas 2 SD, di sekolah waktu itu lagi musim banget temen – temen melihara ikan hias. Banyak abang – abang yg jual di pinggir pagar sekolah waktu itu. Gue akhirnya dibeliin bokap juga. Gue pelihara tu ikan, gue taruh di toples.. *maklum orang susah, kagak punya akuarium. Dan dalam waktu sebulan tu ikan mati.

Berikutnya waktu gue kelas 4 SD. Gue melihara kura – kura kecil. Gue beli di pasar ikan waktu habis main – main di pasar. Tapi gue ngeboong ke bokap, bilangnya tu kura – kura dikasih sama si penjual. *gue takut dimarahin karena ngeluarin duit buat beli kura – kura. Ya bokap gue jelas tau tabiat anaknya yg suka ngeboong *tapi ngegemesin* ini. Dan iya.., selang 2 bulan kura – kuranya juga mati. Karena gue taruh di kolam bebek di belakang rumah (maksudnya biar refreshing, berenang di kolam alami). Alhasil si kura – kura jadi mainan kawanan bebek tak berhati nurani itu, sampe mati..!

Waktu SMP ganti lagi. Salah seorang guru di SMP ngasih anak anjing kecil. Di rumahnya udah banyak soalnya. Anjingnya lucu. Gue kasih nama Pasven.. Dan sebenarnya punya piaraan anjing itu impian gue banget dari kecil. Cuma ortu gak ngasih. Berhubung ini dikasih guru gue, ortu gak enak kan mo nolak..

Dan ini yang paling sakit. Udah sekitar 6 bulan tuh gue main – main sama Pasven. Tiba – tiba suatu siang dia diem aja di samping rumah. Terus ngeluarin suara kaya kesakitan gitu. Lah gue juga bingung kan dia kenapa. Walopun gue kadang dikatain anjing *ehm*, bukan berarti gue bisa ngomong sama anjing beneran. Jadi ya gue liatain aja tuh anjing ngerang – ngerang. Makin lama makin pelan. Sampe akhirnya dia mati.. Man..! gue sedih banget waktu itu. Kata tetangga gue sih si Pasven diracun. Gak tahu deh siapa yang ngeracun. *jaman itu belum musim bikin TPF man.., apalagi Tim 8 !  Dan sumpah gue gak pernah melihara buaya..

Gitu deh, waktu kecil, semua yang gue rawat, gue pelihara pada gak berumur panjang. Nah waktu awal tahun kuliah akhirnya gue punya *piaraan* baru. Kata orang – orang namanya blog. Dan baru kali ini sesuatu yang gue rawat dan urusin, bisa bertahan selama ini. Gak nyangka udah 5 tahun umurnya, tepat 19 November kemaren. Met ultah ya blog…

Beberapa minggu lalu gue juga sempet kelimpungan gara – gara terjadinya error pada web dan domain silaban.net *IDWebhost tidak memberi kompensasi atas kesalahan mereka itu..:( * Gue pikir blog gue bakal mati di usianya yang masih balita. Untungnya domain silaban.net nya akhirnya selamat dari masa kritis, dan blog gue kembali nongol.

Moga – moga tetep bisa terus ngeblog, walaupun isinya makin hari makin gak jelas. *bangga*

// Hari ini saya menulis menggunakan sebutan orang pertama GUE, karena belakangan itu yang sering terdengar..

Upgrade Ubuntu yang Tak Pernah Berhasil dengan ‘apt-get dist-upgrade’

Seperti biasa, ritual 6 bulanan selalu saya lakukan ketika ada rilis Ubuntu baru terbit. Oh tidak.., tidak.. saya bukan seorang penggila Ubuntu yang begitu menggilanya ingin menginstall Ubuntu begitu ada rilis baru. Saya melakukannya karena tiap rilis Ubuntu masih menyisakan beberapa masalah yang belum selesai. Karena itu setiap rilis baru saya selalu install.

Dan seperti juga pernah tertulis di blog ini, saya sudah kapok melakukan upgrade ketika ada rilis Ubuntu baru. Karena dari pengalaman yang sudah – sudah tidak pernah ada yang berjalan mulus. Ini memaksa saya mengambil pilihan install baru, fresh install, instal bersih.. *ya.. apapun lah sebutannya.

Tapi, berhubung kali ini, di bulan November ini, dan di rilis Karmic Koala ini, saya ada satu laptop lagi.. *ihiiy.. berima.. 😀 *, maka saya pun beranikan untuk melakukan upgrade. Bukan install ulang.

Langkah – langkahnya :

1. Di laptop satu lagi (yg sudah menggunakan Karmic Koala, fresh install), diinstall apt-mirror.

2. Tancapkan hardisk eksternal, set di /etc/apt/mirror.list biar repository nya disimpan di hardisk eksternal. *ya.. saya memang agak ndak sabar menunggu rilis DVD repo, jadi saya mirror saja repo ubuntu itu ke hardisk eksternal *cuma 27 GB kok :D, dan cuma butuh waktu 4 jam (hanya saja, akibatnya sekarang koneksi ke kambing.ui.ac.id dilimit oleh sang admin.., ha..ha..)

3. Di laptop utama, tancapkan hardisk eksternal, sesuaikan /etc/apt/sources.list.

4. sudo apt-get update

5. sudo apt-get dist-upgrade

6. Tunggu beberapa hari.. , lalu hidangkan selagi hangat.. *ehm.., beberapa jam maksudnya.. Saya sambil baca komik soalnya..

7. Selesai

8. Restart

9. Sepertinya normal – normal saja..

10. 3 hari kemudian.., kenyataan mulai terungkap. Totem-xine hilang, di install ulang dibilang udah terinstall, ndak bisa muter video.., dst.. dst..

[UPDATE] Totem-xine memang sudah ditiadakan untuk Karmic dan seterusnya.. Yang ada disitu cuma paket transisi (via ak)

11. Curiga dist-upgrade memang tidak bisa diandalkan.

12. Nulis keluhan di blog *alias tulisan ini..

Nah.. jadi sebenarnya dist-upgrade itu memang tidak baik digunakan di desktop ya? Soalnya katanya kalau di versi server (no GUI), aman – aman saja.. Baiklah.., setidaknya sekarang saya kapok kedua kalinya untuk tidak melakukan upgrade jika ada rilis Ubuntu baru..

Temenku sampai berhari – hari menuliskan status di YM : Karmic Kualat, demi banyaknya error akibat rilis Karmic ini.

*nyiapin sekardus biskuit untuk menemani fresh install Karmic Koala…

Karmic Koala mu gimana?