Tag: detikcom (page 1 of 3)

Portal-Portal Berita di Indonesia

[Ilustrasi: GotCredit – jakerust| flickr.com]

Tulisan ini tadinya adalah bagian dari tulisan tentang ulasan desain baru portal Okezone.com. Saya pikir bagian ini cukup luas untuk dijadikan tulisan tersendiri, jadi saya potong dan pindah ke sini, tentunya dengan beberapa pembaharuan.

Sampai saat ini, klasemen liga portal berita di Indonesia masih diisi oleh tim-tim lama. Memang posisinya berganti-ganti, namun Detikcom tetap nomor satu. Sisanya diisi oleh:

  • Liputan6.com (yang belakangan melesat masuk ke top 3)
  • Kompas.com
  • Tribunnews.com (juga milik Kompas, tapi kualitas beritanya menurut saya masih di bawah Kompas)
  • Merdeka.com (grup KapanLagi, yang baru diakuisi grup MediaCorp dari Singapura)
  • Okezone.com (yang baru ditinggal oleh bosnya, Roy Simangunsong. Ia sekarang menjadi bos Twitter Indonesia)
  • Viva.co.id
  • Suara.com (nah ini tergolong pendatang baru)
  • Tempo.co
  • KapanLagi.com (mm.., ini bukan portal berita sih, portal infotainment kali ya lebih tepatnya).

Saya rasa beberapa menarik untuk diulas lebih dalam:

Suara.com

Suara.com ini luar bisa. Dulu, dalam hitungan bulan, dia sudah berhasil melesat masuk dalam 40 situs paling top di Indonesia. Kemudian saya sempat lihat kayaknya mereka pernah masuk top 10 atau top 20 juga sih. Tapi hari ini saya lihat sudah keluar dari top 20. Mungkin dugaan saya dulu benar, trafik mereka kebanyakan disumbang dari digital-ads. Jadi ketika ad-placement nya sudah berkurang, ya trafiknya menurun juga. Dulu Vivanews gosipnya pernah melakukan strategi ini juga. Dalam seminggu posisinya di Alexa bisa melesat jauh. Gosip sih.

Merdeka.com / KapanLagi Networks

Merdeka.com (atau tepatnya KapanLagi Networks-nya), dulu sempat diduga bakal jadi akuisisi dengan nominal yang luar biasa. Pernah hampir diakusisi oleh EMTEK (pemilik KMK -yang menaungi Liputan6.com). Tapi di tengah jalan berbelok, merapat ke MediaCorp. Akhirnya 52% sahamnya dilepas ke MediaCorp (perusahaan asal Singapura). Berbeloknya KapanLagi ke MediaCorp ini tidak lepas dari campur tangan Andi S. Boediman (VC Ideosource, ex-CEO Plasa.com).

Nilai akuisisinya? Dari sumber yang cukup dekat dengan mereka, valuasi untuk 100% saham KapanLagi Network adalah US$ 87 juta. Tapi, MediaCorp akhirnya hanya mengambil saham KapanLagi sebesar 52% saja.

Secara nilai, valuasi 100% saham KapanLagi naik lumayan lah dibanding akusisi Detikcom 100% oleh CT Corps tahun 2010 lalu, yaitu US$ 60 juta. Kalau itungan bodo-bodoan, dengan inflasi 7% setahun, maka “harga” Detikcom kalau diakusisi tahun 2014 jadi sekitar US$ 78jt.

Grup KapanLagi ini sangat agresif. Untuk situs ala-ala BuzzFeed, mereka meluncurkan Feed.ID dan Brilion.net. Menurut saya sih kedua situs ini mirip-mirip jenis kontennya, entah kenapa dibuat 2 jenis. Tapi mungkin kalau dilihat layoutnya, mungkin Feed.ID lebih fokus ke pengguna mobile.

Selain itu, KapanLagi juga meluncurkan Techno.ID, gak tahu persisnya kapan. Ini ala-ala Trenologi.com gitu deh menurut saya.

Kompas.com

Tidak kalah, Kompas.com juga melahirkan situs semacam Trenologi (err, kombinasi Trenologi & DailySocial kali ya), namanya Nextren.com. Tapi walaupun sudah ada Nextren, mereka masih mengelola KompasTekno. Padahal demografi pengunjungnya mirip-mirip menurut saya. Ya, mungkin sekarang masih berasa mirip, nanti baru kelihatan bedanya. Kita lihat saja nanti.

Saya masih penasaran apa yang terjadi dengan Urbanesia.com setelah diakusisi oleh Kompas.com. Di sekitar tahun 2009 saya memang mendengar kabar Kompas.com ingin sekali memiliki situs directory listing. Mereka sudah pernah coba buat. Tapi entah mengapa, setelah memiliki Urbanesia, akhirnya Urbanesianya malah tutup.

Okezone.com

Okezone? Sudah diulas di sini.

Liputan6.com / KMK

KMK (Kreatif Media Karya) -grup yang menaungi Liputan6.com- juga sedang aktif-aktifnya. Selain sibuk mengejar posisi Detikcom, KMK juga melahirkan Vidio.com (semacam YouTube, tapi mereka tidak mau disebut begitu), dan Bintang.com (semacam DetikHot atau KapanLagi). Tentunya selain investasi (akusisi?) Karir.com, Bukalapak.com dan Rumah.com.

Beritagar.ID / MPI – GDP Venture

Oh iya, ada pemain yang masih cukup baru, namanya Beritagar.ID. Ini hasil gabungan Beritagar.com dengan Lintas.me, atau lebih tepatnya MPI (Merah Putih Incubator – pemilik Lintas.me) mengakuisisi Beritagar.com, lalu menggabungkan Lintas.me dengan Beritagar.ID. MPI sendiri berada di bawah bendera GDP (Global Digital Prima) – Grup Djarum. Kaskus dan Blibli.com termasuk portofolio GDP.

Disclaimer: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan MPI.

Beritagar.ID ini menarik. Sepemahaman saya, berbeda dengan portal-portal berita lain yang punya jumlah awak jurnalis yang banyak sebagai andalan pengumpulan informasi, Beritagar.ID justru mengandalkan teknologi untuk pengumpulan beritanya. Ada 2 teknologi. Satu teknologi untuk mencari dan mengolah berita, satu teknologi lagi untuk menampilkan konten yang relevan. Walaupun mengandalkan teknologi, tetapi editor akhir artikel di Beritagar.ID tetap dilakukan oleh manusia.

Yang terbesar ?

Dari segitu banyak pemain media digital, saya rasa penguasa media digital Indonesia paling besar saat ini dipegang KapanLagi Networks. Portofolio grup ini terbentang dari KapanLagi, Merdeka, Fimela, Brilio.net, Otosia, Feed.ID, Vemale, Sooperboy, Dream.co.id, Hemat.com, dll. Saya gak punya angkanya sih. Nebak-nebak doang ini.

Model Bisnis

Walaupun pemain di media digital Indonesia semakin ramai. Tetapi sepertinya model bisnisnya tidak jauh berubah.

Secara umum model bisnisnya masih di seputar ini:

  • Banner ads & contextual ads. Pada dasarnya kaya Google AdSense lah. Saya sih pake AdBlock Plus, jadi hampir gak pernah lagi menemui iklan seperti ini.
  • Advertorial / Sponsored Post
  • Native Advertising. Ini cukup baru, tapi pada dasarnya mirip-mirip advertorial sih. Bedanya kalau advertorial itu hard-selling, kalau native advertising soft selling, jadi bisa “menyatu” menjadi artikel biasa, dan seringkali pengunjung gak sadar kalau itu sebenarnya iklan.
  • Paywall. Maksudnya, buat baca artikel lengkapnya harus bayar. Dulu DetikPortal.com melakukan ini. Tapi sepertinya gak sukses, jadi gak jalan lagi. Orang Indonesia mah buat beli game iPhone aja rela nge-jailbreak (padahal sanggup beli iPhone), jadi boro-boro diminta bayar buat baca berita.

Di US model-model bisnis seperti di atas sudah semakin sulit. Tapi kalau di Indonesia mungkin masih lama sih sampai di tahap itu, jadi fokus nyari trafik aja dulu ya.

End Game

Saya yakin dari sekian banyak pemain grup-grup media digital ini, ada yang fokus “end game”-nya bukan untuk menjaga bisnisnya bertahan selama mungkin. Pasti ada yang fokusnya mengincar exit, baik itu exit diakuisisi, ataupun exit IPO.

Kalau exit diakusisi kan sudah tuh -entah memang dengan alasan sudah jadi tujuan awal atau sekadar adaptasi bisnis. Nah siapa nanti yang jadi bakal exit dengan IPO pertama kali ya?

Ulang Tahun ke 17 – Detik.com Generasi Baru

Hari ini Detik.com merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Arifin Asydhad, pimred Detik.com menyatakan di usia Detikcom ke 17 tahun ini, mereka akan mulai melakukan serangkain perubahan dan perbaikan. Namun, secara sekilas (saya bukan pengunjung regular Detik), selain meluncurkan tampilan barunya, saya kurang tahu inovasi signifikan baru apa yang dikeluarkan Detik.com.

Arifin mengatakan bahwa sekarang adalah era generasi baru Detikcom, dNewGeneration istilahnya. Generasi baru detikcom yang lebih menonjolkan hal-hal yang positif, inspiratif, inovatif, kreatif, dan solutif. Dengan pernyataan ini, mungkin mayoritas perubahan signifikannya adalah di sisi konten kali ya. (dibanding Okezone yang meluncurkan Warkop, Rubik, dan Metube)

Setidaknya pernyataan alumni Fakultas Peternakan UNPAD ini menguatkan itu:

Ini mungkin semacam reaksi atas maraknya konten-konten ala BuzzFeed yang menyembah pageviews dan visitors itu kali ya. Apalagi media-media online yang mencari sensasi dengan membuat berita-berita seolah-olah benar, judul kontroversial, dengan sarat muatan SARA dan partisan. Namun, karena saya bukan pengunjung reguler Detik, saya gak bisa tahu perubahannya. Mungkin yang sering ngunjungin Detik bisa ngerasain ada perbedaan dari konten-kontennya? Karena sebenarnya perubahan ini sudah dilakukan sejak 1 tahun terakhir katanya.

Saya dulu pembaca reguler Detik. Tetapi (di sekitar tahun 2007/2008), saya merasa kontennya makin lama makin sering data dan faktanya gak akurat. Isinya pun pendek-pendek. Tapi memang kecepatan pemberitaannya (buat saya) nomor satu dibanding yang lain. Menurut saya, buat apa beritain cepat-cepat kalau isinya “serampangan”. Apalagi kalau beritanya sensitif (menyinggung SARA), bisa berabe akibatnya kalau gak cek silang dan dapat info dengan benar.

Saya sempat menduga itu terjadi karena operasional yang kurang terkontrol. Tapi ternyata ini memang diamini oleh petinggi Detikcom kala itu. Menurut bos Detik kala itu, memang itu lah positioning mereka. Sebagai portal berita yang paling cepat memberitakan. “Detik ini juga!” Kalau memang gak akurat, tinggal di-update di -sepotong- berita berikutnya saja. Sementara saya penganut aliran kuno jurnalisme, “Get it first. But first, get it right..” Saya merasa Kompas.com (kala itu) lebih mendingan. Jadilah saya berpindah ke Kompas.com hingga sekarang. Nah, sejak itu saya kurang tahu lagi apakah Detik.com masih seperti yang dulu, atau sudah berubah. **I know, Kompas.com sih gak segitunya juga sebenarnya.

Disclosure: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan Kompas Gramedia. Tapi cerita di atas terjadi sebelum masa hubungan kerja saya dengan Kompas Gramedia.

Persaingan portal-portal berita masih berlangsung ketat. Sejauh ini, Detikcom masih memang posisi puncak. Tapi mudah-mudahan tetap bisa makin berkualitas dan berinovasi. Di US, media-media online sedang bergumul habis-habisan untuk mencari cara mendapatkan revenue tanpa mengorbankan idealisme jurnalismenya. Di Indonesia cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Bersiaplah sebelum itu terjadi. Atau sebenarnya di Indonesia juga sudah terjadi?

Happy sweet seventeen Detik.com.

Geliat Okezone.com – Redesign, Platform Citizen Journalism dan Forum, serta Performa Bisnisnya

Okezone.com kembali tampil dengan desain baru. Gak baru-baru banget sih, desainnya di akhir 2014 hampir-hampir mirip ini juga sepertinya. Tapi ini jelas udah jauh beda dengan desainnya di tahun 2008.

Ketika mengunjungi Okezone.com, di bagian atas kita pertama kali akan disuguhkan dengan banner raksasa. Eye catching. Tapi menurut saya terlalu besar malah. Emang lebar yang pas itu seperti di Kompas.com, Detik.com dan Liputan6.com ya. (Ini juga saya baru sadar, mereka hampir sama semua dimensi ukurannya). Tapi saya curiga mereka bisa kompak ukuran banner image-nya segede itu bukan semata-mata demi kenyamanan mata deh.

Sepanjang karir saya, saya mengurusi website. Membuat layout foto dengan ukuran wide itu tantangannya lebih ke operasional. Seringkali susah menemukan image yang cocok yang wide kaya gitu. Sampai hari ini saya pun masih kerepotan dengan hal itu. Curiga nih portal-portal berita lain juga mengalami hal ini, makanya kompak pakai ukuran banner foto segitu.

Contoh screenshot di atas itu misalnya Kenapa foto ayam (apa tikus ya?) ada 2? Karena kalau fotonya satu aja dan wide, jadinya kepotong. Atau misal Okezone sendiri deh mau beritain desain barunya. Kan harus masang screenshotnya dong. Pusing deh tuh bikin image nya biar wide gitu. Hehe.

Lewat dari banner gede itu, scroll ke bawah, tampilannya seperti di atas. Saya suka sih. No comment untuk ini. Well done. Taste designer nya oke nih.

Cuma saya belum tahu. Apakah Okezone sudah mempersiapkan satu slot khusus untuk berita yg super-breaking-news. Kalau di Kompas.com, ada tuh di bawah menu yg atas. Kalau lagi ada breaking news, akan ada satu bar baru. Di bar baru ini breaking news nya akan di post.

Kalau di salah satu portal berita di US (aduh saya lupa apa namanya), lebih gila lagi. Layoutnya bisa diatur suka-suka, besar kecil, sampai urutan kontennya. Jadi jika ada berita yang lagi mau di highlight, atau ada breaking news, bisa segera ubah layout. Dan itupun dengan layoutnya tetap “responsive”. Mumet dah front end developernya. Haha. Ini kalau bang Roy Simangunsong (bos Okezone, -ex Yahoo) denger, bisa jadi dia pengen juga tuh bikin kaya gitu. 😀

*catatan: Semua screenshoot di tulisan ini saya buat saat mengaktifkan plugin AdBlock. Jadi saya gak tahu aslinya apakah ada banner iklan berjejal di sana-sini atau tidak.

Rubik

Nah ini nih salah satu platform baru dari Okezone, namanya Rubik. Eh, beneran baru kan ya? Atau saya yang kuper?

Apa itu Rubik? Singkatnya: Kompasiana-nya Okezone. Kalau Detik kan sudah punya DetikBlog, DagDigDug punya Politikana.com, Kompas cukup sukses dengan Kompasiana-nya, maka Okezone pun gak mau ketinggalan.

Ini layoutnya dan desainnya oke sih menurut saya. Belum explore lebih dalam sih. Tapi ada satu hal yang mengganggu banget. Ketika klik salah satu tulisan, tidak akan ke load halaman baru. Tapi artikelnya ditampilkan dengan pop-up. Mungkin terinspirasi dari Beritagar.com.

Gak tau ya, kalau saya sih gak suka model begini. Gak nyaman aja. Salah satu alasannya, kalau internet sedang lambat, atau mungkin server webnya yang sedang ngadat, loading artikelnya kan jadi keputus. Terus kalau sudah gitu, mau refresh halamannya susah. Kalau kita refresh, ya yang di-reload keseluruhan halaman depannya tadi. Karena pop up gak bisa di-refresh. Alasan lain? Err.. saya lupa. Dulu beberapa kali saya alami waktu buka-buka Beritagar.com.

Platform Rubik ini sudah sewajarnya dibangun Okezone. Situs-situs di luar juga melakukan ini. Kompasiana terbukti rame (rame juga fitnah di dalamnya). Mudah-mudahan gak jadi tempat ajang fitnah seperti Kompasiana di masa pilpres kemarin. Apalagi bos besarnya MNC (pemilik Okezone) terafiliasi dengan partai.. Eh, apa sih partai dia sekarang? Udah pindah lagi kemana sekarang? Atau bikin baru ya?

Warung Kopi

Apa itu WarungKopi Okezone? Singkatnya: Kaskus-nya Okezone. Tapi Kaskus++ kali ya. Karena ada fitur yg cukup menarik yang di Kaskus (setahu saya) gak ada: Kongkow. Ntar saya bahas ya.

Mirip seperti Kaskus, di sini bisa bikin New Thread, atau istilahnya mereka “Pesen Meja”. Ada sub-sub forum. Lalu ada FJB (forum jual beli) ala Kaskus. Namanya? FJB juga. Di FJB Okezone ini nominal harga ditampilkan dengan dua digit di belakang koma. Jadi misal 1 juta, jadinya: Rp 1.000.000,00. Entah kenapa. Karena selain nyaru di mata, toh di Indonesia gak ada nominal di bawah 1 Rupiah.

Oh iya istilah buat membernya: Warkoper.

Kalau di Kaskus ada cendol, di WarungKopi adaa.. Kopi Master. Jadi kalau di Kaskus orang sering minta “ijo-ijonya dong gan”, di sini mungkin nanti jadi “minta coklat-coklatnya dong bree..”, atau “bre.., jangan lupa Torabika nya ya bree..”.

*Itu profil Sutan Bathoegana saya dapat di halaman official Tour nya Warkop ini. Nekat juga nih. Hehe. Awas.., jangan sampai nanti “Kenaaaak barang tuu…”.

Salah satu fitur di Warung Kopi ini adalah Kongkow – “Tempat Ngobrol bareng bersama artis idola secara live”. Tapi halaman Tour nya (screenshot di atas), tertulis “Hangout with Chelsea Islan”. Kenapa bukan “Kongkow bersama Chelsea Islan” aja ya? Biar align gitu.

Di Kongkow ini, bisa live chat dengan idola/artis. Nanti Warkop akan menginformasikan kapan ada sesi Kongkow (eh Hangout?) dengan idola/artis yang sudah mereka jadwalkan. Kita bisa ikutan join. Plus ada video chat juga. Tapi untuk video chat ini, kalau gak salah nanti cuma dipilih beberapa orang saja. Entahlah, saya lupa detailnya. Males buka lagi tournya, panjang cuy.. Haha.

Tour Rubik dan Warung Kopi

Nah dari tadi saya sebut soal Tour. Nah ini harus saya beri big applause buat Okezone. Di Rubik dan Warung Kopi, pertama kali kita kunjungi akan keluar pop up yang mengajak kita Tour ke dalam, melihat apa-apa saja fitur yang disajikan di dalam. Ala-ala Facebook kalau ngeluncurin fitur baru gitu. Ini bagus banget sih untuk memperkenalkan produk/platform baru. Good job.

Cuma tetep ada catatan, hehe. Di Rubik, kalau selesai Tour, terus kita pengen ngulang, saya gak nemu gimana caranya bisa ikut Tour lagi. Kalau di Warkop, menunya selalu tersedia di samping kiri.

Satu lagi, di Warkop, sewaktu saya coba, di akhir tour URL-nya malah salah, masuk ke nomor rumah paling legendaris, 404. Entahlah sekarang sudah diperbaiki atau belum.

Okezone di Masa Pilpres

Salah satu momen yang saya ingat, setelah KPU mengumumkan pemenang pilpres -breaking news paling heboh malam itu. Okezone sama sekali enggak memberitakan lho (entah kalau 1 jam berikutnya atau besoknya). Malam itu saya lihat dari atas sampai bawah, gak ada beritanya yang menyinggung soal ini. Vivanews sih masih memberitakan, tapi gak di highlight. Sayang saya gak screenshot waktu itu.

Ahh jadi inget tragedi Vivanews yang berujung manajemennya sampai pada cabut. Itu loh tragedi “sebelum ayam berkokok..” 😉

Itu memang masa-masa kelam media massa di Indonesia.

 

Okezone.com Secara Bisnis

Dulu saya pernah dengar Okezone.com secara bisnis belum begitu bagus. Kalau melihat laporan tahunan 2014 MNC Media Investment (Linktone), sepertinya masih, karena penghasilannya turun.

Revenue Okezone.com tahun 2014 (sudah termasuk VAS business-nya) adalah US$ 3,1 juta (sekitar Rp 41 miliar). Ini turun dibandingkan revenue nya tahun 2013, US$ 3,9 juta (sekitar Rp 51 miliar). Padahal laba bersih Detikcom tahun 2010 saja sudah Rp 20 miliar (laba bersih lho, bukan revenue). Target laba bersih Detikcom 2011 lebih gila lagi, Rp 40 miliar. Tapi saya gak tahu, ini akhirnya terealisasi atau tidak. Jadi gak heran kalau saya dengar kabar bang Roy mau merebut posisi Liputan6.com sebagai portal berita nomor 2 saat ini (peringkat di Alexa hari ini).

Secara kepemilikan, saya agak bingung dengan Okezone.com ini. Di laporan tahunan MNC disebutkan kepemilikannya atas Okezone adalah 99,90%. Tapi di laporan tahunan Linktone, disebutkan kepemilikannya 49,9% dipegang oleh JPMorgan Chase Bank, N.A. Sedangkan MNC International Ltd. hanya memiliki 47,7% sahamnya. Jadi sebenarnya gimana sih?

Portal Berita di Indonesia

Bagian ini sudah saya pindah menjadi tulisan tersendiri.

 

Suara.com – Dalam Hitungan Bulan Masuk 40 Situs Terbanyak Dikunjungi di Indonesia

Masih ingat Suara.com ? Portal berita ini tergolong pendatang baru, baru diluncurkan di sekitar Maret 2014 lalu. Dan dalam hitungan bulan, hari ini (Oktober 2014) saya lihat di Alexa, peringkatnya sudah di posisi 40 untuk Indonesia. Ini artinya Suara.com adalah situs yang jumlah pengunjungnya tertinggi nomor 40 se-Indonesia (setidaknya versi Alexa).

Dulu saya sempat menduga kalau sumber trafik mereka akan sangat banyak didongkrak oleh SEO, berhubung brand “Suara.com” sendiri sepertinya belum seperti Detikcom. Dari info di Alexa tersebut memang awal-awal terlihat sumber trafik kebanyakan dari search (hampir 20% dari total trafik), tetapi ternyata belakangan hanya sekitar 5% nya saja dari hasil search.

Lalu darimana Suara.com bisa mencapai trafik sebesar itu dalam waktu singkat? Dugaan ngasal saya sih sebagian disumbang dari digital-ads. Cukup sering saya melihat iklan mereka di Facebook. Dan belakangan sudah cukup sering terlihat ada teman-teman saya yang share berita dari Suara.com. Cukupkah digital-ads menyumbang trafik begitu besar sehingga bisa mendongkrak trafik sebesar itu? Menurut saya sih tidak. Tapi saya tidak tahu darimana lagi sumber trafiknya itu berasal. Ya, bisa jadi memang pengunjung organiknya sendiri sudah tumbuh besar. Entahlah.

Tim redaksi Suara.com sendiri sepertinya juga mengalami perubahan (perkembangan), dan nama Yan Gunawan yang dulu tertera di halaman Redaksi sekarang tidak tertera lagi. Tetapi sepertinya Yan Gunawan tetap menjadi salah satu (?) pemilik portal berita ini.

Lalu akan kemana kah Suara.com setelah mencapai ranking 40 di Indonesia? Mari kita lihat nanti. 😉

 

Hoax, Geram Sangat

Gara – gara ada yang posting berita ngawur di sebuah milis, Detik.com pun mengeluarkan pernyataan klarifikasi. Salah satu potongan kalimatnya :

Seperti berita palsu mengenai BCA ini, hingga Kiamat pun, tentu Anda tidak akan menemukannya di indeks berita detikfinance tanggal 5 Oktober 2008.”

Wow..! Gak nyangka kalimat nya seperti itu. Geram sekali sepertinya. 😀

Btw, ini memang jadi masalah yang bisa dibilang konyol tapi krusial juga di negri kita ini. Dari berbagai milis yang saya ikuti, masih sering saya dapat email – email HOAX yang sudah basi (sudah beredar sejak lebih dari 3 tahun lalu). Tapi anehnya masih saja banyak orang yang percaya. Baik itu tentang isu obat – obatan, politik, agama, makanan, minuman, kesehatan, bantuan sosial, sampai isu – isu sederhana seperti peringatan akan sebuah kebiasaan kita sehari – hari.

Banyak email yang saya terima di milis yang saya ikuti itu justru diforward oleh orang – orang yang notabene sudah berpendidikan tinggi (sebagian ada yang sedang kuliah / lulus dari universitas terkenal di luar negri sana).

Sepertinya budaya online di Indonesia harus sedikit diubah. Membaca artikel di internet (terutama forward-an yang gak jelas asal – usulnya), saya rasa harus dengan sikap skeptik. Bisa kacau kita kalau percaya begitu saja apa yang kita baca di internet.

Detik.com mengambil langkah bagus dengan segera memberi klarifikasi terhadap Hoax seperti itu. Sayangnya banyak perusahaan besar di Indonesia (maupun perusahaan PMA), yang tidak perduli dengan Hoax tersebut. Jadi para anggota milis pun percaya saja dengan tulisan tersebut, karena mereka tidak melihat ada sanggahan dari objek pembicaraan.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Saya pribadi masih bingung. Tapi saya membiasakan diri untuk segera membalas email yang nyata – nyata hoax. Saya coba beri pengertian kalau email yang dikirim itu adalah Hoax (kalau bisa disertai link penguat), setelah itu saya minta si pengirimnya mengirim kembali ke semua orang yang sudah dia forwardkan email tersebut.

Berhasil? Entahlah.. Saya rasa si pem-forward pun malas mengirimkannya kembali. Karena itu sama saja mengakui ke seluruh orang yang dia kirimi sebelumnya, bahwa dia telah memforward informasi yang tidak benar.

Good job Detik.com..!

NB: Masalah selanjutnya, ketika kita menginformasikan bahwa sebuah forward-an itu adalah Hoax, biasanya ada saja anggota milis yang lalu mengirim balasan : “HOAX itu apa?”. Hmm…

Detikcom, Kompas, 12 Tab Firefox dan Prosesor

Persamaan Detikcom dan Kompas : sama – sama portal berita besar, sama – sama sudah mengganti wajah, sama – sama punya banyak iklan, sama – sama terus memperbaiki kualitas. Baguslah.. Keep the good work..!

Tapi, masih ada satu lagi nih persamaannya : iklannya banyak yang dalam bentuk animasi flash. Nah.. ternyata inilah yang membuat Firefox saya seringkali hang. Karena iklan dalam bentuk animasi flash yang banyak itu menyedot prosesor di notbuk saya. Memang sih, prosesor saya cuma Core Duo 1,66 Ghz dengan RAM 1 GB.

Load prosesor kalau membuka Detik & blog ini (2 tab di Firefox) :

Detik Proc

Load kalau buka Kompas & blog ini (2 tab di Firefox);

Kompas Proc

Dan ini load prosesor notbuk saya sewaktu buka 12 situs dalam 12 tab Firefox, dan salah satu diantaranya sedang memutar video YouTube :

12 Tab

Hmm.. sepertinya memang saya yang harus upgrade prosesor nih, biar bisa baca berita – berita Indonesia terupdate.

Btw, Detik menghilangkan iklannya yang dalam bentuk frame atas bawah itu. Nice.. bagus sekali, soalnya memang kurang sedap dilihat. Salut buat Detik.. Tapi kok Kompas sekarang malah pasang banner model gitu ya?

Detikcom Ganti Wajah

Akhirnya.. setelah OkeZone, dan Kompas, Detik.com mengganti wajah juga…

Detik Wajah Baru

Dan seperti didengungkan sebelumnya, ciri khas Detikcom nya tidak hilang. Ciri khasnya : Iklannya buuanyaak.. 😛 he..he..

Tapi tetep deh, salut buat tim Detikcom.

Sedikit pembuka dari Om Donny BU.

Restu Detikcom untuk Media Online Baru

Banyak media online baru bermunculan. Ada yang melakukan re-brand, ada yang benar – benar baru, dan ada juga yang baru akan muncul. (Ada juga lho yang kabarnya bermasalah sebelum launching, karena masalah seputar aliran dana, hi.. hii.. hi..) . Oh iya, kabar – kabarnya Telkom pun mau masuk ke bisnis seputar ini.

Lalu bagaimana tanggapan dari Detikcom (sebagai media online nomor satu di negri ini)? Pak Budiono Darsono (Pimred Detikcom) pun memberikan tanggapan. Simak tanggapan beliau diblognya.

Susahnya Web 2.0 di Indonesia

Adakah web 2.0 buatan anak negri ini yang sukses mendulang Rupiah?

Cobalah tengok kisah Fupei.com yang begitu sulitnya berjuang untuk bisa berhasil seperti MySpace, Friendster atau Facebook di Amerika sana.

Bandingkan dengan Detikcom, Bisnis.com, Kompas.com, PortalHR.com dll yang bisa sukses mendulang Rupiah di jagad maya. Ya mungkin karena memang mereka punya kekuatan yang luar biasa : trafik yang sangat tinggi, atau target audience yang jelas (dan berkelas). Sepertinya situs model portal seperti inilah yang lebih menghasilkan, kalau istilah saya, ini bisnis online yang model korporat.

Saya jadi ingat salah satu omongan dosen saya : Indonesia ini kadang – kadang terlalu cepat mengadaptasi suatu perkembangan di luar negri. Padahal seringkali Indonesia ini belum membutuhkannya, atau belum siap terhadap apa yang mau diadaptasi.

Dia mencontohkan Nokia Communicator yang banyak dimiliki oleh anak – anak muda, yang bahkan cara mensetting GPRS di perangkat mobile nya pun tidak tahu. Rame – rame beli HP dengan fasilitas Video Call, padahal tiap isi pulsa cuma 25ribu.

Lalu begitu semangatnya orang – orang datang ke pameran komputer, untuk membeli komputer dengan spesifikasi setara untuk komputer designer animasi 3D di luar negri sana. Padahal komputer itu hanya digunakan untuk mengcopy & edit – edit dikit membuat laporan kuliah, menonton film bajakan, mendengarkan mp3 yang juga bajakan, dan sisanya main game pastinya juga bajakan.

Apakah ini juga yang terjadi dengan web 2.0 di Indonesia? Apakah memang belum saatnya web 2.0 di Indonesia berkembang (dan mendulang Rupiah)? Tak heran kalau banyak web developer lebih tertarik dengan program Affiliate Marketing, Pay per Post, Google AdSense, jual beli link, dsb.. Karena usaha dan modal yang dikeluarkan tidak sebesar jika kita membangun layanan web 2.0 sendiri, tetapi hasilnya sama, atau bahkan lebih besar.

Saya cukup miris membaca betapa rendahnya tawaran investor lokal atas website yang dikembangkan oleh Sanny Gaddafi (Sagad) (27), Melinda Yumin (23), dan Bahder Johan ini.

Entahlah, saya tidak mengerti dunia perbisnisan korporat, saya cuma punya pengalaman 14 tahun mengurusi pembeli di toko keluarga kami. Jadi tidak sebanding ilmunya. Apakah memang begitu kecil nilai bisnis yang ada pada dunia web 2.0 Indonesia? Ataukah ini hanya kasuistik (pada Fupei) saja?

Melihat Trafik Semua Situs di Statbrain.com

Sampai saat ini cukup sulit menemukan layanan gratis yang menyediakan data trafik kunjungan suatu situs, yang bisa diakses secara umum. Memang ada Alexa, ataupun Compete, tetapi ini cuma untuk website yang trafiknya cukup besar. Tetapi beruntung, tanpa sengaja saya menemukan situs lain lagi yang menyediakan layanan data trafik suatu situs, yaitu Statbrain.com.

Sebagai perbandingan, trafik Detikcom, Kompas.com, dan OkeZone jika dibandingkan di Alexa, hasilnya bisa dilihat disini. (ada ulasannya juga)

Sementara itu dari Statbrain hasilnya :

  • Detikcom : 2,270,139 visits per day ! (edan…)
  • Kompas.com : 505,650 visits per day
  • OkeZone.com : 340,218 visits per day
  • Kaskus.us : 2,281,183 visits per day (ternyataDetikcom kalah ya?)

Tapi saya cukup kaget waktu melihat ini :