Tag: detikcom

Satu Orang System Analyst untuk Dua Portal Berita Terbesar Indonesia

Baru saja saya melihat tulisan Suara Kebon Sirih dari OkeZone.com, di bagian akhir tertulis nama RBS, yang disitu tertulis sebagai System Analyst OkeZone.com, begitu juga di halaman tentang redaksi. Eh.., sebentar.. sebentar.., sepertinya saya pernah membaca nama ini. Dan benar ternyata, di Detikcom RBS juga tercatat sebagai System Analyst mereka.. Dulu sepertinya beliau memulai karir sebagai web developer disana.

Wow.. keren ya, satu orang bekerja sebagai system analyst di dua portal berita besar di Indonesia.. 😀 he..he..

*sepertinya salah satu dari mereka lupa mengupdate data timnya.

Strategi Mengalahkan Detikcom?

DetikComSaya pernah menulis tentang Mengapa tidak (belum) ada media online yang mengalahkan Detik, dan tulisan ini disambung oleh Pak Nukman. Dengan begitu topik ini dibahas oleh orang luar Detikcom, dan mantan orang Detikcom. Tapi rasanya masih ada yang kurang. Bukankah lebih seru kalau orang dalam Detikcom juga ikut berpendapat 😀 ?

Dan ternyata, bung Donny BU justru menuliskan resepnya dalam blognya. Jadi lengkap sudah yang membahas topik ini, orang luar Detikcom, mantan orang Detikcom, dan orang Detikcom sendiri (yang juga pernah menjadi mantan orang Detikcom).

Ada yang mau “membeli resep” bung Donny BU?

Lowongan Desainer Web Suara Merdeka Cyber News

Satu lagi Media Online yang diseriuskan (setelah Kompas) : SuaraMerdeka.com. Sekarang website SuaraMerdeka dengan nama Suara Merdeka Cyber News digarap lebih serius. Walaupun entah mengapa saya masih melihat nuansa Detikcom pada situs ini (?).

Tentunya mereka tidak berhenti sampai disitu, tapi masih terus berkembang. Karena itu kalau anda tertarik untuk bergabung bersama mereka untuk mengembangkan portal ini, silahkan simak lowongan dari Suara Merdeka Cyber News ini : Read More

MyDetik.com – Siapa yang mau beli?

DetikComSaya baru denger sedikit cerita dari bung Pogung177 tentang temannya (di Jogja) yang dikirimi surat dari Pengadilan Amerika, karena penggunaan merek dagang salah satu perusahaan di Amerika tersebut. Merek dagang tersebut digunakan oleh teman dari bung Pogung177 ini sebagai ID di salah satu affiliate di internet.

Heran? Begitu terlindunginya merek dagang disana. Mungkin itu sebabnya Google, ataupun Yahoo tidak segera memborong domain yang berkaitan dengannya. Misal : yahoo-corporation.com, mygoogle.com, my-yahoo.com, dll tidak ada yang memilikinya (dan masih tersedia). Soalnya walaupun anda bisa memiliki domain ini, anda tidak bisa menggunakannya untuk kepentingan bisnis. Karena ini mengandung merek dagang mereka. Bisa – bisa anda dituntut karena masalah ini (seperti kasus di atas tadi).

Di Indonesia

Kita lihat di skala lokal. Saya baru saja melihat di Planet Ubuntu-ID, ada BlogDetik.com. Semacam layanan blogging seperti WordPress.com (bisa dibilang persis, karena keduanya pake engine yang sama WordPress-MU). Bisa dibacanya hebohnya disini, disini, dan disini, serta disini.

Sepintas saya tertarik dengan domainnya : BlogDetik.com. Sebelum ini juga ada DetikLelang.com, DetikForum.com. Hmm.., berarti jangan – jangan seluruh domain yang berbau detik sudah diborong? Saya pun iseng – iseng melakukan cek. Dan hasilnya :

MyDetik.com, DetikBuku.com, DetikPhone.com, TokoDetik.com, dan mungkin masih banyak lagi : TERSEDIA. Artinya belum ada yang memiliki. Dan berarti siapa saja bisa memiliki..

Saya tidak tahu apakah di Indonesia sama seperti diluar mengenai masalah merek dagang. Apakah penggunan merek dagang di dunia online bebas dipakai? Kalau saya sih ambil pikiran sederhananya saja. Beli saja lah domainnya, siapa tau nanti Detikcom pengen pake.., jual dengan harga tinggi.. Ha..ha..ha 😀 (piss to Detik..)

NB : Semua available domain tersebut masih tersedia sewaktu tulisan ini saya buat. Jika setelah ini ada yang menjadi tidak available, berarti salah siapa? He…he (tapi bukan saya lho yang beli domainnya, sumpah..!)

Meninggalnya Soeharto, Hidupnya Media Berita Online

Mantan presiden RI ke-2, Soeharto telah meninggal dunia. Seluruh media ramai memberitakannya. Mulai dari media radio, televisi, cetak, dan tentunya media online tidak ketinggalan.

Saya tidak ingin membahas polemik seputar kematian Soeharto. Yang menjadi perhatian saya adalah media yang memberitakannya. Mulai dari kabar meninggalnya Soeharto di RSPP 27 Januari lalu, sekitar pukul 13.00, bisa dikatakan tidak ada siaran lain di seluruh stasiun televisi. Seluruh stasiun televisi memberitakan setiap detik momen – momen yang terjadi seputar kematian Soeharto. Praktis, masyarakat Indonesia tidak punya pilihan lain selain melihat berita ini. Bahkan hari ini (28 Januari), mulai dari pukul 07.00 (bahkan mungkin dari sebelumnya), hampir sama sekali tidak ada siaran lain di televisi selain detik – detik menjelang pemakaman Soeharto tersebut.

Lalu, apakah selama dua hari ini (27-28 Januari), tidak ada kejadian penting lainnya di Indonesia maupun dunia? Tentu saja ada. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi terbaru lainnya? (Selain informasi seputar wafatnya Soeharto). Media berita online jawabannya. Walaupun berita utama di Detikcom, Kompas.com, OkeZone, dll masih seputar wafatnya Soeharto, tetapi media – media online ini memiliki kanal – kanal (channel). Dan kanal ini masih tetap aktif memberikan informasi. Misal saja : techno.okezone.com, detikinet.com.

Interaksi

Media berita online memang memiliki beberapa keterbatasan di banding media televisi, diantaranya adalah visualisasi (audio maupun video) secara realtime, jangkauannya yang untuk saat ini masih terbatas di Indonesia. Tetapi media berita online juga memiliki kelebihan yang luar biasa : Interaksi. Di media televisi, anda tidak bisa memilih mana yang ingin anda tonton (tidak bisa berinteraksi). Pilihannya hanyalah ganti channel, atau matikan televisi. Sedangkan di media online tidak demikian. Kalau anda tidak suka berita di headline, anda bisa masuk ke kanal – kanal yang tersedia. Seperti yang kita alami dua hari ini, ketika semua televisi memberitakan (hampir non-stop) kematian Soeharto, para pelaku bisnis tetap bisa mengikuti berita tentang bisnis di Bisnis.com, para pelaku IT bisa tetap mendapatkan informasi dari Detikinet.com, dst. Memang media televisi menyajikan alternatif berita lain melalui fasilitas Newsticker (teks berjalan di bagian bawah layar televisi). Tetapi informasi yang bisa diberikan disini pun sangat terbatas.

Jadi kalau anda (mungkin termasuk saya) ingin bergerak di media online, ini adalah salah satu nilai lebih dari media online. Masih banyak nilai lebih lain yang bisa digali, apalagi dihubungkan dengan kata kunci utamanya : interaksi.

OkeZone.com – Redesign

OkeZone.comMelanjutkan postingan sebelumnya (tentang redesign situs Kompas.com). Ternyata OkeZone.com juga sudah meredesign situsnya (argh… saya baru tahu). Padahal di tulisan saya sebelumnya tersebut saya sempat menuliskan bahwa OkeZone.com masuk dalam desain yang belum sekelas media berita online luar negri.

Sama seperti Kompas.com, OkeZone.com pun memiliki tipikal desain yang tak jauh beda dengan situs – situs luar yang saya jadikan perbandingan di tulisan sebelum ini. Sepertinya memang desain seperti ini menjadi standar desain media berita online. Dan sampai kapankah Detikcom bertahan dengan desainnya yang sekarang ini? Ia memang memberikan website dengan desain yang lebih bersih dan rapi, tetapi untuk mengaksesnya anda harus berlangganan. Bukan masalah biaya yang saya tekankan, tetapi kalau media berita online lainnya memberikannya secara gratis, mengapa harus bayar?

Satu hal lagi yang saya suka dari OkeZone adalah setting kanal (channel) nya. Memang dari awal saya tahu untuk setiap kanal ada subdomainnya. Misal, kanal Techno (techno.okezone.com), kanal Economy (economy.okezone.com), dst. Tetapi dulu subdomain tersebut hanya merupakan redirect ke dalam OkeZone.com sendiri. Jadi halaman yang anda tuju tidak benar – benar berada pada subdomain tersebut.

Lain halnya dengan sekarang. Tiap subdomain dari kanal – kanal OkeZone, memang berada pada subdomain tersebut (dari sisi user). Memang di sisi server sendiri belum tentu isi dari tiap kanal (subdomain) berada pada masing – masing web folder dari subdomain. Hal ini umum dan cukup mudah dilakukan dengan CMS Drupal. Tetapi berhubung OkeZone.com (dulu) menggunakan Joomla , saya sendiri tidak tahu bagaimana teknik yang mereka gunakan. (update : Sepertinya OkeZone.com tidak menggunakan Joomla lagi sekarang, tetapi membangun sendiri, dengan basis Framework CodeIgniter).

Tidak sampai disitu saja, sekarang OkeZone sudah Search Engine Friendly (SEF). Jadi sepertinya bakal lebih mudah di index oleh search engine. Suatu hal yang (ternyata) belum diterapkan oleh Kompas.com. Kita lihat saja nanti, sepertinya Kompas.com juga tidak mau ketinggalan. Apalagi statusnya sekarang masih Beta.

Kompas.com dan OkeZone.com semakin memperbaiki diri untuk bersaing di dunia media berita online. Tetapi bagaimana dengan “raja”-nya media berita online Indonesia saat ini? Saya yakin mereka juga berbenah, tetapi bukan di sisi yang bisa dilihat langsung oleh user. Kita lihat saya bagaimana persaingan ini akan berlangsung.

Note : Artikel ini sudah 3 kali diupdate, menyesuaikan dengan beberapa informasi yang dicross-check.

Kompas.com Beta – Redesign Situs Kompas Mengikuti Standar Media Online Luar

Saya tidak tahu sudah berapa lama Kompas.com merubah desain situsnya. Tetapi saya baru melihatnya tadi malam. Suatu hal yang saya nilai layak dipuji. Di saat media – media berita online lainnya menjadikan Detikcom sebagai acuan (meniru?), Kompas melakukan terobosan baru. Saya sudah lama mengidamkan (karena tak sanggup untuk membuat) untuk melihat ada portal media berita online di Indonesia yang memiliki kualitas desain setara desain web media berita online luar.

Memang seperti apa sih desain standar media berita online luar negri? Silahkan kunjungi situs berikut : The Onion, CNN, Reuters, BusinessWeek, Guardian, dll. Tidakkah anda lihat persamaan model desainnya? Dan di Indonesia, setahu saya baru Kompas.com yang memakai desain seperti ini. Salut buat tim Kompas.com.

Mau perbandingan media berita online Indonesia? Detikcom, Inilah, Kedaulatan Rakyat, Republika, MetroTVNews, Suara Pembaruan, dll. Sangat jauh saya rasa kualitas desainnya.

Saat tulisan ini dibuat Kompas.com sendiri masih berstatus Beta. Jadi seharusnya mereka bisa lebih lagi.

Yang jadi pertanyaan saya, apakah ini yang disebut – sebut mega portal nya Kompas?

Innchannels.com – Portal Berita Baru di Tahun 2007

Innchannels.comDapet dari blognya Pak Nuk, ternyata tahun 2007 lalu ada Portal Berita baru. Tapi formatnya sepertinya bukan breaking news, tapi berupa berita feature. Portal ini beralamat di Innchannels.com. Beberapa hal yang jadi perhatian sederhana saya :

  • Domain. Kok domainnya ribet. Coba saja anda beritahu alamat web ini pada rekan anda. Sebagian besar orang yang saya temui ketika memberi tahu alamat portal ini pasti bertanya, ” Hah? INCANEL? Gimana nulisnya?”. Bandingkan kalo saya mengatakan ke orang lain Kompas.com, Detik.com. Jarang disusul dengan pertanyaan seperti tadi. Dan saya pun tidak perlu memberi tahu ejaan sebuah kata.-
  • Logo. Kenapa logonya mirip dengan CNN yah? Terinpirasi atau ..?
  • Siapa Mereka? Anda ingin tahu? Coba saja buka halaman About Us nya. Dan apa isinya? KOSONG. Sebuah website portal yang profesional dengan konten yang bagus. Tetapi tidak sempat mengisi halaman About Us nya. Aneh..

Tetapi terlepas dari itu, saya puas dengan desain dan isi dari situs ini. Walaupun sedikit masih terinfluence Detikcom. Baik dari penempatan iklan, dan penempatan tulisan. Tetapi setidaknya tidak dibombardir oleh iklan di seluruh halamannya.

Mengapa Tidak Ada Media Online yang Mengalahkan Detik? [2]

DetikComTulisan Part[1] ku dikutip sama Pak Nukman (CEO Virtual Consulting). Aku sendiri sebenarnya tidak berniat membuat part [2] nya, tetapi setelah baca komentar di blognya Pak Nukman, aku tergelitik untuk membuat tulisan keduanya. *Ceritanya nyambung komentar saya di Blog Pak Nukman nih. Jadi ada baiknya baca komentar itu dulu, baru sambung kesini..

Untuk OkeZone, Kompas, Perempuan.com, dll saya pernah dengar kabar dari temen2 kalo orang2 dibelakangnya juga mantan orang Detik. CMIIW deh.. Tapi tetap gak menang tuh?

Kalau saya bilang, memang butuh “figur” baru yang bisa mengalahkannya. Bukan mee-too dari Detik. Atau sekadar mengisi kelemahan Detik. Lalu bagaimana? Read More

Mengapa Tidak Ada Media Online yang Mengalahkan Detik?

Ini menyambung tulisan saya sebelumnya.

DetikComSebenarnya bukan tidak ada media online yang dibangun dengan mengisi celah – celah yang “dibiarkan” terbuka oleh Detik. Salah satu contohnya (seperti saya tulis sebelumnya) : OkeZone.com. Ya.., selain ini memang nggak ada sih kayanya. Karena yang lainnya (Kompas, Tempo, Media-Indonesia, dll) bukan “murni” dari dunia Online. Mengapa mereka masih belum bisa mengalahkannya?

Jawabannya cukup sederhana. Harus diakui Portal berita itu hidupnya dari iklan. Dan kalau portal berita itu sudah ideal (mengisi celah – celah Detik tadi). Tentu dia bakal mencari pengiklan. Tetapi apa kata pihak pengiklan ketika portal berita yang ideal tadi ditawarkan? Read More

Detikcom yang Tidak Pakai Iklan

DetikComPernah saya baca tulisan begini : “Detik.com itu situs iklan yang ada beritanya !”. Kejam memang. Tapi di satu sisi saya rasa sudah seharusnya memang Detik menanggapi hal ini. Bung Ronny sendiri dalam tulisannya “Detikcom dituntut semua penghuni Apartemen Taman Anggrek”. Memberi kritik yang cukup tajam. Sekaigus mempertanyakan, mengapa tidak ada media lain yang mengisi celah dari Detikcom ini.

Detik banyak iklannya, benar. Detik sering salah tulis, benar. Detik beritanya tidak akurat, sering juga. Detik tidak ada RSS nya, benar juga. Detik teknologi webnya kuno (gak web 2.0), mmmm… bener juga. Dst.. dst… Kalau diteruskan jadi sangat panjang. Lalu sebegitu banyak celah yang diberikan Detik, mengapa belum ada media berita online yang mengalahkan Detik? Bahkan OkeZone yang di-backing-i oleh grup MNC saja belum bisa?

Sebagian besar orang yang mengakses internet di Indonesia, bukanlah advance user. Jadi mereka sudah cukup puas dengan apa yang disajikan oleh Detik.com. Dan semakin orang akrab dengan internet (biasanya juga orang yang taraf hidupnya cukup), tentu tingkat kepuasannya akan media juga meningkat. Ia tidak mau apa yang dia baca dijejali dengan iklan. Maka Agrakom pun melahirkan DetikPortal.com yang isinya “katanya” tidak pakai iklan, dan isinya lebih akurat. Tetapi, untuk bisa mengakses isinya anda harus berlangganan. Biayanya seingat saya Rp.50ribu per bulan.

Pay more to get more.. (mungkin gitu kali ya semboyannya Detik)

Oh iya.., tulisan ini bersambung.. baca tulisan saya berikutanya..

Inilah yang Mengalahkan KOMPAS

Masih seputar trafik lagi. Pada dasarnya aku cuma pengen tahu, siapa yang mengekor paling dekat terhadap trafik dari Detik (sebagai pemegang trafik tertinggi untuk situs anak negri). Akhirnya kepikiran untuk membandingkannya dengan beberapa “situs porno original Indonesia”, dan beberapa forum. Mereka yang saya bandingkan (menggunakan Alexa.com) adalah :

– Detik.com, Kaskus.us, Kompas.com, 17ta****.com, Dunia***.com

Sebenarnya selain ini masih ada BlueFame.com, tetapi berhubung maksimalnya query yang bisa dimasukkan, terpaksa grafiknya tidak bisa saya tampilkan disini.

Terlepas dari nilai moral, atau layak tidaknya konten situs yang saya sebutkan, saya hanya tertarik pada trafiknya. Dan inilah hasilnya :

porn.jpg

Bagi saya sih ini fakta yang mengejutkan. Ternyata Kaskus.us betul – betul berada tepat dibawah Detik, dan jauh di atas Kompas. Suatu hal yang saya rasa cukup mengejutkan. Perlu diingat Kaskus.us sendiri membernya sebagian besar adalah anak muda. Padahal emula saya tidak mengira bahwa masih ada situs anak negri lain yang traffiknya berada di antara Kompas dan Detik.

Selain itu, yah.., fakta yang saya rasa tidak mengejutkan adalah trafik untuk situs porno Indonesia terbukti tinggi.. *emang di negara lain enggak..?!*

Jadi jika anda ingin beriklan di internet, dan target pasar anda adalah anak muda (laki – laki khususnya), mungkin Kaskus bisa menjadi salah satu pilihan.

NB: Bukan berarti saya mempromosikan situs porno, sekali lagi saya hanya tertarik dengan trafiknya.