Anak Ahensi dan Client-nya

Karyawan di Digital Agency, atau biasa disebut juga “anak ahensi”, harusnya memang exist lah ya di media sosial. Client nya? Belum tentu. Jadi, tak jarang sejak dulu saya menemukan anak ahensi suka post di medsos mereka tentang client-client mereka (#nomention pastinya). “Eh begoo.. kalau kirim email jam 3 pagi, ya siapa yang bacaaa gembel..” “Oh … Continue reading Anak Ahensi dan Client-nya

Tak Pindah Kota

“Hubungan gue sama cowo gue itu ya sama aja kaya hubungan lo nyett”, ujar Irene sambil membereskan meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Sebagian besar karyawan di lantai ini sudah pulang. Tidak sampai 5 orang yang masih tersisa. Dengan hanya lampu penerangan di meja, wajah Haran hanya terlihat samar-samar di depan meja Iren. … Continue reading Tak Pindah Kota

Para Gadis dan DNS Server

“Eh nanti lunch di mall yuuk cyiin..” “Yukk.. yuk.. Mumpung gue agak santai nih. Email gue sepi.” “Jalan sekarang aja apa ya? Gue udah beres sih..” “Yukk, cusss..” Para gadis-gadis AE (Account Executive) sumringah bersiap berangkat ke mall. Hanya berjumlah 5 orang, mereka cukup menggunakan 1 mobil. Waktu masih menunjukkan pukul 11.15. Tim IT yang … Continue reading Para Gadis dan DNS Server

Kita Juga Menikmati Hasil Korupsi Pajak Loh

Malam itu Bulha dan Haran hanya tinggal berdua di salah satu pojok Hard Rock Cafe. Teman-teman mereka yang lain sudah pulang duluan. “Faktor U” kalau kata orang-orang. Sementara Bulha dan Haran masih menunggu penampilan band di cafe ini sekali lagi.

Seperti biasa, bulan Maret adalah bulan pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Sambil menunggu band kembali naik panggung, kedua warga Jakarta “kelas menengah ngehe” ini berbincang soal Pajak Penghasilan.

Bulha (B), Haran (H)

B: Lo udah kirim SPT bro?

H: Udah lah. Via online aja. Sekarang gampang kok. Lo udah?

B: Ah.., kalo gue sih gak mau laporin. Gak sudi gue. Gak rela gue gaji gue dipotong pajak. Toh ujung-ujungnya dikorupsi juga sama orang pajak.

H: Loh? Lo mau lapor ato enggak, ya tetep aja gaji lo udah dipotong.

B: Hah?? Kok bisa udah dipotong duluan? Ya gak bisa gitu dong Ran.

(Iya, ini yang sering orang salah kaprah. Dikira kalau habis laporin SPT, baru duitnya dipotong)

H: Yee.. Kan lo kerja di perusahaan nih. Tiap bulan gaji lo kan dipotong pajak penghasilan, dengan hitungan asumsi tahunan. Potongan PPh ini disetorin ke Dirjen Pajak oleh perusahaan atas nama lo. Perusahaan yang bantuin lo setorin pajak. Nah buktinya apa? Itu, lembar Bukti Potong Pajak. Form A apalah itu namanya. Itu yang dilaporin di SPT. Gitu loh Bul..

B: Ooo.. iya juga ya. Ahh.. tapi tetep aja gue benci sama mereka. Duit gue dipotong tiap bulan. Eh dikorupsi juga ujung-ujungnya. Kita-kita ini yang kerja mati-matian, mereka yang nikmatin. Ngehe lah.

H: Eh jangan salah. Bisa jadi, kita juga nikmatin hasil korupsi Bul.

B: Ya kagaklah.. Gue kan gak kerja di Pajak. Begimane caranye gue bisa ngorupsi duit pajak?

H: Emang lo pikir mereka korupsinya dengan ngambil duit orang-orang yang disetorin ke pajak?

Continue reading “Kita Juga Menikmati Hasil Korupsi Pajak Loh”

Macet-Macet Jakarta dan Kencing di Tangga Halte

Walau bergoyang-goyang kesana kemari, Bulha dan Haran tetap asyik bercerita di dalam bis TransJakarta koridor VIII yang penuh sesak di pagi hari. Begitu sesaknya hingga mereka berdua tidak mendapat kursi, dan harus berdiri. Tetapi berbeda dengan Bulha yang berpegangan dengan kedua tangan, Haran hanya berpegangan dengan satu tangan. Entah apa isi tas plastik di tangan … Continue reading Macet-Macet Jakarta dan Kencing di Tangga Halte

Direktur, CEO, Komisaris, Pemilik Saham dan Nasib Karyawan

Di sela waktu yang sedikit senggang menjelang jam pulang kantor, Bulha dan Haran ngabur sebentar buat jajan siomay di gang sempit sebelah kantor mereka. Seperti kelas menengah lainnya di Jakarta, obrolan tentang karir sering keluar di waktu – waktu seperti ini. Bulha: Ran, gue pikir jadi karyawan di perusahaan gede bakal enak. Ternyata gak ya. … Continue reading Direktur, CEO, Komisaris, Pemilik Saham dan Nasib Karyawan

Mengapa Bulha Menjadi Anggota DPRD

Berikut profil Bulha : Profesi : Pemilik saham di berbagai bisnis kecil dan menengah (ternak lele, toko handphone, developer rumah, warnet, dll). Non-Profesi : Aktif di berbagai organisasi keagamaan, dan kepemudaan. Status : Beristri, anak 1. Lingkaran sosial : Dekat dengan berbagai tokoh penting di berbagai lapisan (berkat kemampuan bersosialisasi dan keaktifkan di berbagai organisasi). … Continue reading Mengapa Bulha Menjadi Anggota DPRD

Programmer Sukses

Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan … Continue reading Programmer Sukses

Komputer, Komputer dan Komputer Lagi

Bulha dan Haran duduk di pinggir jembatan baru di bilangan Pogung Kidul. Sebuah jembatan baru yang menghubungkan jalan di sepanjang selokan Mataram dengan Jalan Monjali.  Sambil sesekali nge-Plurk via handphone Motorla c650 nya, Haran menampakkan mimik wajah yang gelisah. Sepertinya ada beban berat yang ingin diungkapkannya kepada Bulha.

Haran : “Bul, kok aku rasane pengen unplugged dari dunia komputer yo..”

Bulha : “Lah ngopo-e Ran?”

Haran : “Bosan, dab..! Gini deh.. aku tanya kamu sekarang. Kerjamu apa?”

Bulha : “Programmer..”

Haran : “Hobimu apa?”

Bulha : “Mmm.. main game online.”

Haran : “Kalo ada waktu senggang kamu ngapain?”

Bulha : “Biasanya sih ngerancang arsitektur web yang pengen kubuat.. Kalo enggak bikin sampler di Fruity Loop”

Haran : “Kamu gak pernah sosialisasi sama orang po?”

Bulha : “Ya pernahlah.. Hampir tiap saat malah.. Lewat Facebook, Plurk, Twitter, YM.. Macem – macemlah, dab.. Toh pacarku juga kerjanya graphic desainer, jadi kita selalu komunikasi via YM. Gak ada masalah tuh.”

Haran : (menirukan icon DOH nya Plurk) “Itu yang tak maksud.. Semua waktumu diisi dengan komputer..”

Bulha : “Ya.. ya.. gak juga. Tapi kan emang kerjaku programmer. Jadi tiap hari di depan komputer, ya aktifitasku jelas seputar itu dong.. Tapi kalo libur kan aku bisa bermain dengan duniaku sendiri..”

Haran : “Emang kalo lagi liburan kamu ngapain?”

Bulha : “Resolusi ku untuk liburan tahun ini sama dengan tahun kemarin, belajar seni..” (diucapkan dengan gaya yang mantap, pede, dan berapi – api, mirip kaya teman – temannya yang ikut MLM)

Haran : “Wuah.. Boleh tuh resolusinya.. Seni opo ki dab? Bikin band reggae, kursus nari ato apa nih?”

Bulha : “Yo ora lah.. Aku sudah ngerencanain, nanti setiap libur di tengah tahun pertama ini aku bakal belajar disain bergaya Realism dengan The Gimp sama Inkscape, nah tengah tahun kedua aku belajar seni Surrealism lewat animasi dengan Flash”

Haran : “Arrghhh.. Iki sing tak maksud tadi.. Kerja di komputer, hobi di komputer, kalo ada waktu senggang main komputer, sosialisasi via komputer, menghabiskan waktu liburan dengan komputer.. Kalo valentin-an, ngirim icon Coklat ke pacarmu lewat Facebook, kalo temen ulang tahun, ngasih gambar kue ultah lewat email.. Edan kowe ki..!” Continue reading “Komputer, Komputer dan Komputer Lagi”

Dialog Kenyataan

[Suasana yang sangat terasa berbeda ketika pulang kampung adalah dialog – dialog khasnya]

*ilustrasi, saduran dari berbagai dialog

Bulha : “Ran.. Wuaah.. Akhirnya pulang kampung juga kamu.”

Haran : “Iya Bul, kangen rumah. Eh, denger – denger anak si Mimin dah jadi PNS sekarang ?”

Bulha : “Iya.. Kan si Mimin dah lama nabung.”

Haran : “Nabung? Emang kalo nabung di Bank ada undian hadiahnya bebas tes PNS ?”

Bulha : “Ya enggak.., kalo dia gak nabung dari dulu, mau cari duit darimana dia buat “melicinkan” proses masuk anaknya si Mimin itu”.

Haran : “Waduhh.. Segitunya, beneran ?”

Bulha : “Ya iyalah.. Investasi itu namanya.. Coba aja itung, dengan model 30jutaan, hidup mu dan anak – anakmu terjamin seumur hidup. Walopun kecil, tapi pasti.”

Haran : “Investasi yang balik modalnya lebih pasti ya? He..he..”

Bulha : “Iya.. Soalnya kalo ngelicinin masuk TNI ato POLRI kan pasarannya kurang lebih sama. Tapi, ntar bisa aja suatu saat dikirim perang atau tugas di daerah konflik kan? Terus, harus kasih “uang penjamin” lagi biar gak dikirim ke daerah konflik.” Continue reading “Dialog Kenyataan”