Tag: detik.com

Portal-Portal Berita di Indonesia

[Ilustrasi: GotCredit – jakerust| flickr.com]

Tulisan ini tadinya adalah bagian dari tulisan tentang ulasan desain baru portal Okezone.com. Saya pikir bagian ini cukup luas untuk dijadikan tulisan tersendiri, jadi saya potong dan pindah ke sini, tentunya dengan beberapa pembaharuan.

Sampai saat ini, klasemen liga portal berita di Indonesia masih diisi oleh tim-tim lama. Memang posisinya berganti-ganti, namun Detikcom tetap nomor satu. Sisanya diisi oleh:

  • Liputan6.com (yang belakangan melesat masuk ke top 3)
  • Kompas.com
  • Tribunnews.com (juga milik Kompas, tapi kualitas beritanya menurut saya masih di bawah Kompas)
  • Merdeka.com (grup KapanLagi, yang baru diakuisi grup MediaCorp dari Singapura)
  • Okezone.com (yang baru ditinggal oleh bosnya, Roy Simangunsong. Ia sekarang menjadi bos Twitter Indonesia)
  • Viva.co.id
  • Suara.com (nah ini tergolong pendatang baru)
  • Tempo.co
  • KapanLagi.com (mm.., ini bukan portal berita sih, portal infotainment kali ya lebih tepatnya).

Saya rasa beberapa menarik untuk diulas lebih dalam:

Suara.com

Suara.com ini luar bisa. Dulu, dalam hitungan bulan, dia sudah berhasil melesat masuk dalam 40 situs paling top di Indonesia. Kemudian saya sempat lihat kayaknya mereka pernah masuk top 10 atau top 20 juga sih. Tapi hari ini saya lihat sudah keluar dari top 20. Mungkin dugaan saya dulu benar, trafik mereka kebanyakan disumbang dari digital-ads. Jadi ketika ad-placement nya sudah berkurang, ya trafiknya menurun juga. Dulu Vivanews gosipnya pernah melakukan strategi ini juga. Dalam seminggu posisinya di Alexa bisa melesat jauh. Gosip sih.

Merdeka.com / KapanLagi Networks

Merdeka.com (atau tepatnya KapanLagi Networks-nya), dulu sempat diduga bakal jadi akuisisi dengan nominal yang luar biasa. Pernah hampir diakusisi oleh EMTEK (pemilik KMK -yang menaungi Liputan6.com). Tapi di tengah jalan berbelok, merapat ke MediaCorp. Akhirnya 52% sahamnya dilepas ke MediaCorp (perusahaan asal Singapura). Berbeloknya KapanLagi ke MediaCorp ini tidak lepas dari campur tangan Andi S. Boediman (VC Ideosource, ex-CEO Plasa.com).

Nilai akuisisinya? Dari sumber yang cukup dekat dengan mereka, valuasi untuk 100% saham KapanLagi Network adalah US$ 87 juta. Tapi, MediaCorp akhirnya hanya mengambil saham KapanLagi sebesar 52% saja.

Secara nilai, valuasi 100% saham KapanLagi naik lumayan lah dibanding akusisi Detikcom 100% oleh CT Corps tahun 2010 lalu, yaitu US$ 60 juta. Kalau itungan bodo-bodoan, dengan inflasi 7% setahun, maka “harga” Detikcom kalau diakusisi tahun 2014 jadi sekitar US$ 78jt.

Grup KapanLagi ini sangat agresif. Untuk situs ala-ala BuzzFeed, mereka meluncurkan Feed.ID dan Brilion.net. Menurut saya sih kedua situs ini mirip-mirip jenis kontennya, entah kenapa dibuat 2 jenis. Tapi mungkin kalau dilihat layoutnya, mungkin Feed.ID lebih fokus ke pengguna mobile.

Selain itu, KapanLagi juga meluncurkan Techno.ID, gak tahu persisnya kapan. Ini ala-ala Trenologi.com gitu deh menurut saya.

Kompas.com

Tidak kalah, Kompas.com juga melahirkan situs semacam Trenologi (err, kombinasi Trenologi & DailySocial kali ya), namanya Nextren.com. Tapi walaupun sudah ada Nextren, mereka masih mengelola KompasTekno. Padahal demografi pengunjungnya mirip-mirip menurut saya. Ya, mungkin sekarang masih berasa mirip, nanti baru kelihatan bedanya. Kita lihat saja nanti.

Saya masih penasaran apa yang terjadi dengan Urbanesia.com setelah diakusisi oleh Kompas.com. Di sekitar tahun 2009 saya memang mendengar kabar Kompas.com ingin sekali memiliki situs directory listing. Mereka sudah pernah coba buat. Tapi entah mengapa, setelah memiliki Urbanesia, akhirnya Urbanesianya malah tutup.

Okezone.com

Okezone? Sudah diulas di sini.

Liputan6.com / KMK

KMK (Kreatif Media Karya) -grup yang menaungi Liputan6.com- juga sedang aktif-aktifnya. Selain sibuk mengejar posisi Detikcom, KMK juga melahirkan Vidio.com (semacam YouTube, tapi mereka tidak mau disebut begitu), dan Bintang.com (semacam DetikHot atau KapanLagi). Tentunya selain investasi (akusisi?) Karir.com, Bukalapak.com dan Rumah.com.

Beritagar.ID / MPI – GDP Venture

Oh iya, ada pemain yang masih cukup baru, namanya Beritagar.ID. Ini hasil gabungan Beritagar.com dengan Lintas.me, atau lebih tepatnya MPI (Merah Putih Incubator – pemilik Lintas.me) mengakuisisi Beritagar.com, lalu menggabungkan Lintas.me dengan Beritagar.ID. MPI sendiri berada di bawah bendera GDP (Global Digital Prima) – Grup Djarum. Kaskus dan Blibli.com termasuk portofolio GDP.

Disclaimer: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan MPI.

Beritagar.ID ini menarik. Sepemahaman saya, berbeda dengan portal-portal berita lain yang punya jumlah awak jurnalis yang banyak sebagai andalan pengumpulan informasi, Beritagar.ID justru mengandalkan teknologi untuk pengumpulan beritanya. Ada 2 teknologi. Satu teknologi untuk mencari dan mengolah berita, satu teknologi lagi untuk menampilkan konten yang relevan. Walaupun mengandalkan teknologi, tetapi editor akhir artikel di Beritagar.ID tetap dilakukan oleh manusia.

Yang terbesar ?

Dari segitu banyak pemain media digital, saya rasa penguasa media digital Indonesia paling besar saat ini dipegang KapanLagi Networks. Portofolio grup ini terbentang dari KapanLagi, Merdeka, Fimela, Brilio.net, Otosia, Feed.ID, Vemale, Sooperboy, Dream.co.id, Hemat.com, dll. Saya gak punya angkanya sih. Nebak-nebak doang ini.

Model Bisnis

Walaupun pemain di media digital Indonesia semakin ramai. Tetapi sepertinya model bisnisnya tidak jauh berubah.

Secara umum model bisnisnya masih di seputar ini:

  • Banner ads & contextual ads. Pada dasarnya kaya Google AdSense lah. Saya sih pake AdBlock Plus, jadi hampir gak pernah lagi menemui iklan seperti ini.
  • Advertorial / Sponsored Post
  • Native Advertising. Ini cukup baru, tapi pada dasarnya mirip-mirip advertorial sih. Bedanya kalau advertorial itu hard-selling, kalau native advertising soft selling, jadi bisa “menyatu” menjadi artikel biasa, dan seringkali pengunjung gak sadar kalau itu sebenarnya iklan.
  • Paywall. Maksudnya, buat baca artikel lengkapnya harus bayar. Dulu DetikPortal.com melakukan ini. Tapi sepertinya gak sukses, jadi gak jalan lagi. Orang Indonesia mah buat beli game iPhone aja rela nge-jailbreak (padahal sanggup beli iPhone), jadi boro-boro diminta bayar buat baca berita.

Di US model-model bisnis seperti di atas sudah semakin sulit. Tapi kalau di Indonesia mungkin masih lama sih sampai di tahap itu, jadi fokus nyari trafik aja dulu ya.

End Game

Saya yakin dari sekian banyak pemain grup-grup media digital ini, ada yang fokus “end game”-nya bukan untuk menjaga bisnisnya bertahan selama mungkin. Pasti ada yang fokusnya mengincar exit, baik itu exit diakuisisi, ataupun exit IPO.

Kalau exit diakusisi kan sudah tuh -entah memang dengan alasan sudah jadi tujuan awal atau sekadar adaptasi bisnis. Nah siapa nanti yang jadi bakal exit dengan IPO pertama kali ya?

Mengapa Terjun ke Bisnis Online (Website) ?

Saya batasi dulu, yang saya maksud bisnis online (website) dalam tulisan ini : Bisnis yang pemasukan utamanya adalah dari online (misal : dari iklan di webnya, membership berbayar, dsb). Jadi yang bisnisnya utamanya adalah jualan produk dan online-nya “cuma” jadi tempat promosi saja dan transaksi tetap offline bukanlah yang saya maksud. Untuk yang berjualan di online (e-commerce, tiket, jasa reservasi, dll) juga bukan yang saya maksud. Kalau contoh riilnya, bisnis online yang saya maksud : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, Koprol.com, Flickr.com, YouTube.com, Twitter.com, Facebook.com, Pinboard.in.

Nasihat

Oke, lanjut.. Nah jadi, sejak sekitar 5 tahun lalu, saya sering mengamati dunia bisnis online baik lokal maupun luar (tulisan2 jaman itu masih ada di blog ini). Beberapa “sabda” yang dari jaman itu hingga sekarang selalu saya dengar adalah : “Jangan ragu – ragu masuk ke bisnis online di Indonesia… Marketnya sangat besar.., potensi bisnisnya juga sangat besar.. bla..bla..”. (1)

Kemudian biasanya diikuti dengan nasihat : “Inget, bisnis online itu tidak melulu sumber pendapatannya dari iklan, masih banyak model bisnis lainnya, misal : layanan berbayar (seperti 37signals.com), konten premium (seperti DetikPortal.com), and the bla.. and the bla..” (2)

Anehnya, paradoks dengan nasihat di atas, pihak – pihak yang sama (luar negri maupun lokal) juga mempopulerkan ini : “Budget beriklan di online itu sekarang naiknya pesat sekali.., sudah naik jadi _sekian_ persen.” Atau yang seperti ini : “Ada sekian Milliar rupiah budget iklan dari perusahaan – perusahaan di Indonesia dan tiap tahun makin besar nilainya. Hampir semuanya masuknya kesitu – situ juga (portal berita), jadi peluang nya masih besar..” (3)

Skeptis

Teman – teman saya mungkin menganggap saya selalu pesimis soal dunia bisnis online Indonesia. Tapi, saya sendiri sebenarnya merasa saya mengambil sikap skeptis, tapi tetap optimis. Nah berhubungan dengan 3 poin di atas, ini yang mau saya bahas :

(1) Iya.. benar.. marketnya besar.. ada 30-40jt-an pengguna internet di Indonesia (di tahun 2006 dulu diperkirakan baru ada 18jt). Untuk poin ini saya setuju.

(2) Nah untuk poin ini saya masih skeptis. Saya jaman dulu sempat memegang teguh nasihat (2), sehingga sebegitu bencinya saya dengan banner-ads. Seperti di film The Social Network itu, mereka juga anti banget dengan banner ads toh.. (waktu nasihat itu saya dengar, Friendster masih jadi raja soc. network). Tapi nyatanya memang sumber pemasukan paling real itu ya iklan (ads), entah apapun itu bentuknya : tulisan berbayar, banner image, teks, contextual text, link dsb.  (Facebook pun sekarang memasang ads toh… Twitter juga menampilkan ads (dalam bentuk promoted hashtag)).

Iya saya tahu.. kalau efektifitas banner ads itu (katanya) cuma sekitar 2,8%, tapi itu bukankah kalau usernya nggak targeted?  Kalau ngiklan obat diabetes di situs komunitas penderita diabetes lebih efektif dong harusnya ya.. Toh.. situs e-commerce juga (katanya) tingkat konversinya juga paling pol cuma 2%.. bahkan untuk yang sekelas Bhinneka.com yang sudah dipercaya.

Pertimbangan lainnya, situs yang secara trafik memang luar biasa : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, LintasBerita.com dll, sumber pemasukannya dari iklan juga bukan? Kompas.com (yang dibackup group sebesar Kompas Gramedia) pun 70% pemasukannya disumbang oleh halaman depannya (saya lupa baca soal ini dimana), yang berarti 70% nya itu sudah pasti ads (atau saya yang salah tangkap?). Read more →