Tag: lari

Pelajaran dari Mengikuti Lari 17km

sumber gambar: dunialari.com

5k, 10k, 17k, 22k, beberapa jarak yang sering jadi pilihan dalam acara lomba lari. Saya sendiri dulu cukup rutin lari di treadmills karena alasan yang cukup sederhana. Tapi untuk ikutan lomba lari yang sedang marak-maraknya kala itu saya masih enggan. Kayanya males aja gitu bangun subuh-subuh, pergi ke Sudirman cuman buat lari-lari. Ongkos pulang pergi taksinya aja udah berapa. Daftarnya bayar lagi, hih..!. Yeah.., I’m a cheap bastard. Haha.

*eh iya, buat yang awam ‘k’ itu maksudnya kilometer.

3K

Tapi akhirnya di Juni 2013 saya ikut lari 3K dalam acara Aquarius Sebelasthlon. Lari lucu-lucan kalau kata teman-teman saya yang sudah ikut lari 5k, 10k, dll. Kemudian di 2014, bulan Agustus akhirnya saya ikut Silverun, penyelenggaranya organisasi pengacara-pengacara pasar saham gitu deh. Entahlah apa namanya. Keduanya tentu saja gratis. Hehe.

11K

Untuk yang Silverun ini cukup jauh jaraknya, 10k. Sewaktu lari saya ikut tracking juga dengan aplikasi Endomondo di Android saya, jarak aslinya dari start sampai finish malah sebenarnya 11k lebih. Ternyata tidak seperti perkiraan saya, setelah selesai tidak capek-capek amat ya 11k itu, hehe. Entah karena saya gak ngoyo kali ya. Waktunya? 1 jam 9 menit 4 detik (kalo menurut Endomondo). Ya jelas saya bukan juaranya. Walaupun para pelari dari Kenya itu gak ikut pun, saya pasti gak bakal juara deh.

17K

Lalu, karena penasaran, dan juga karena (lagi-lagi), gratis, hehe, saya ikut Independence Run di bulan yang sama, tahun 2014. Saya pilih yang kategori 17k, karena cukup pede dengan hasil yang 11k kemarin. Saya baru tahu, ternyata lari di jalan itu tidak separah yang saya bayangkan.

Tapi, kali ini saya ceroboh. Orang-orang sering bilang, H-1 sebelum lari harus carbo loading. Biar energinya banyak. Berhubung 17k itu jarak yang jauh bagi saya, ya saya coba ikuti. Jadi jam 10 malam H-1, saya merasa saya perlu carbo-loading. Jadilah saya ke warung makan Padang terdekat. Dengan 1 rendang, 1 ayam goreng dada yang ukurannya jumbo, ketimun potong, daun singkong, gulai nangka, plus nasi porsi kuli, semuanya saya habiskan dalam tempo sekejap. Alhasil, kekenyangan membuat saya tidak bisa tidur. Berbaring saja sulit. -__-

Read more →

Tentang Kardio, Air Doang, dan Sepatu

Tahun 2011 lalu, untuk pertama kalinya saya berniat serius untuk menurunkan berat badan saya. Baju – baju dan celana yang tidak muat lagi, nafas yang kadang agak sesak ketika naik tangga, menjadi beberapa alasan saya.

Saya mulai mencoba lari – lari kecil (jogging) di treadmill. Keringatan dan ngos-ngosan pastinya. Lalu beberapa teman saya mulai berkomentar “Lo mau kurus? Jangan lari, itu cuma keringat doang, gak bakar lemak..”. Ada juga yang berkomentar “Percaya deh, mending lo ikut kelas body-pump, bakar kalori dan lemaknya banyak. Lo di treadmill cuma dapet keringat”.

Labil pasti jadinya. Karena hasil googling saya (dari sumber yang terpercaya), rata – rata justru bilang latihan kardio (latihan yang memompa jantung – lari, jalan cepat, sepedaan, dll) itu yang paling efektif membakar kalori. Dan ini artinya ujung-ujungnya efektif membakar lemak.

Setelah labil dan galau gak jelas semingguan, saya googling lebih intensif. Mencoba mencerna berbagai artikel tentang bagaimana tubuh bekerja, dll. Dan kesimpulan saya tetap seperti semula. Kardio efektif membakar lemak. Saya bahkan akhirnya niat beli sepatu khusus lari dari Nike (walaupun cari yang paling murah). Niatnya mau rajin latihan lari.

Jadi, akhirnya ini yang saya lakukan. Setelah menyadari lutut saya kurang kuat menopang tubuh saya ketika berlari (karena bobot yang berlebih), akhirnya saya memutuskan jalan cepat saja di treadmill. Iya, sepatunya judulnya sepatu lari, tapi saya pake jalan aja, hehe.

Saya rutin jalan cepat 3-4x seminggu. Setiap kali latihan rata – rata 40-60 menit. Selama jalan di treadmill, saya set agar elevasinya otomatis menyesuaikan agar detak jantung saya stabil di 150-160bpm. Bosen? Pastinya. Tapi karena inget udah niat beli sepatu, ya udah diniatin terus. 3 bulan ini saya jalankan.

Hasilnya? Well.. “cuma” turun 12kg aja sih. Artinya rata – rata bobot saya turun 4kg sebulan. Dan kalau saya lihat di cermin, saya yakin sih 12kg yang hilang itu bukan “cuma air doang”. 🙂

*(mulai bulan ke 4 dan seterusnya saya lari sih, gak jalan lagi).

Nah, sekitar 1 tahun kemudian, bobot saya total turun 18kg. Entah mengapa setelah 1 tahun enggak mau turun lagi. Kalau gak salah istilahnya plateu. Mungkin saya harus beli sepatu lari baru lagi, kaya Nike Pre Montreal Racer dari Zalora itu kali #kode. Biar komitmen lagi, dan biar nanti persentase body-fat saya bisa masuk kategori yang Fitness. Sekarang sih masih di batas Average – Fitness.

Oh iya, sebelum ada yang komentar “Itu otot lo yang habis dibakar, makanya bobot lo turun, makanya jangan kardio terus..”. Saya tambahkan catatan, massa otot saya naik terus kok. Walaupun gak sebanyak bobot badan saya yang hilang.

NOTE: Cara ini berhasil untuk saya, tapi tubuh tiap orang berbeda, jadi bisa jadi hasilnya berbeda dengan anda.

[Update – Maret 2015]

Di Agustus 2014, saya mencoba metode baru. Selama 4 bulan saya stop sama sekali kardio. Ganti latihan beban. Cuma 3x seminggu. Gak lagi stop makan malam. Dan gak lagi ngitung-ngitung kalori. Saya selalu makan sampai kenyang. Dan hasilnya berat badan tetap turun (sedikit). Tetapi kali ini yang turun bobot lemak. Persentase body fat saya turun terus.

Ini semua tanpa supplemen, obat-obat, atau metode aneh-aneh. Intinya stop (atau kurangi sebanyak mungkin) konsumsi karbo dan gula.

Nanti saya share di tulisan sendiri deh.