Categories
Umum

Pengalaman Menggunakan Uber: Aplikasi Pemanggil Mobil Sewaan (Bukan Taksi)

[Foto: metro.news.viva.co.id]
Sudah lama dengar tentang Uber (aplikasi pemanggil mobil sewaan, BUKAN TAKSI), tapi akhirnya baru nyobain pertama kali minggu lalu. Bermodal kode promo, dapat nominal lumayan. Kebetulan mau ke bandara. Jadi langsung kepake promonya.

Total biaya dari daerah jalan Ciledug Raya sampai Terminal 2 Soetta (via Pakubuwono – Tol dalam kota) : 102.000 (sudah termasuk biaya tol). Menurut saya ini murah, karena 2 hari sebelumnya saya ke bandara juga dengan rute yang mirip menggunakan si burung biru, totalnya sekitar 165.000, belum termasuk biaya tol.

Penggunaan Uber sih cukup mudah ya. Saya install, bikin akun, terus masukkan info kartu kredit. Setelah itu masukkan kode promo, terisi lah voucher Uber saya. Oh iya, kalau mau kode promo, pakai punya saya aja: oktosue, lumayan nanti kalian dapat voucher 75rb.

Untuk pemesanan mobil gampang sih. Cukup jalankan aplikasinya, nanti kita pilih titik dimana kita minta dijemput. Untuk masukkan tempat tujuan opsional. Jadi misal belum tahu mau kemana bisa juga. Kalau sudah memasukkan lokasi tujuan akhir, kita bisa dapat perkiraan total biayanya. Ini penting sih.

Waktu memesan kita juga bisa melihat ada berapa banyak mobil sewaan yang tersedia di sekitar lokasi penjemputan yang kita pilih. Nah, Uber secara otomatis akan “memasangkan” kita dengan mobil yang berada paling dekat dengan kita. Jadi kita gak bisa pilih-pilih. Jika sudah “dipasangkan”, akan keluar informasi siapa pengemudinya, ratingnya, jenis mobil, dan foto pengemudinya.

Oh iya jenis mobilnya ada 2: uberX (Avanza, Xenia, dan sejenisnya), dan uberBLACK (Mercy, Camry, Innova) –ini lebih mahal. Kata pengemudinya sih ada juga SuperBLACK, mobilnya Aston Martin, buka pintu aja udah 1jt biayanya. Mungkin kartu kredit saya limitnya gak masuk kriteria kali ya, jadi gak ada opsi itu.

Setelah dipesan, kadang drivernya menelpon, memastikan lokasi kita dimana. Soalnya gini. Waktu kita milih lokasi penjemputan, walaupun sudah presisi koordinatnya, kadang nama jalan yang keluar membuat ambigu. Saya pernah minta jemput di sebuah gang yang nama jalannya Tanah Kusir, tapi posisinya bukan di daerah Tanah Kusir. Si pengemudi yang “dipasangkan”, gak nelpon saya. Dia yakin aja posisinya di Tanah Kusir, akhirnya malah dia melewati lokasi penjemputan, terus menuju arah Bintaro. Karena memang makam Tanah Kusir di daerah sana. Ya sudah, saya cancel. Pesan ulang lagi deh.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Seorang pengemudinya pernah cerita, dia gak baca nama jalan, tapi posisi penjemputannya diletakkan di hotel Peninsula (Slipi). Ternyata penumpangnya tidak di situ, tapi di hotel lain. Saya enggak tahu sih, pengemudinya dimodali pulsa juga gak ya buat telpon pelanggan setiap kali ada order?

Oh iya, setelah “dipasangkan”, kita bisa memantau posisi mobil di Uber. Hampir realtime. Jadi bisa kita perkirakan bakal nyampe kapan. Kalau estimasi waktu tiba di aplikasinya sih gak usah dipercaya lah. Dia bener-bener berdasarkan jarak kayaknya. Saya pernah lihat estimasi 4 menit, padahal gak mungkin. Karena mobilnya harus muter balik jauh dulu, plus macet luar biasa.

Setelah naik, saya sih berharap gak ada lagi pertanyaan ala-ala pengemudi taksi. “Mau lewat mana, Pak?”. Karena rutenya sudah dibuat oleh Uber, terlihat jelas di peta dalam aplikasinya. Tapi ya mereka masih nanya juga sih. Yaa.., kadang maklum juga. Soalnya kadang rute yang ditampilkan kadangkala tidak mewakili kondisi sebenarnya. Pernah saya minta pengemudinya ikutin aja persis rute yang diberikan Uber. Ternyata sampa di daerah Kemang, jalan tersebut ditutup karena ada acara festival apalah gitu.

Enaknya pake Uber ini, semua pembayaran cash-less. Jadi gak perlu pegang duit. Pembayaran tol pun akan dibayarkan oleh pengemudi. Jadi bener-bener tinggal naik, terus sampai di tujuan tinggal “Makasih bang”, terus pergi deh. Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan via email, lengkap dengan peta rutenya.

Catatan:

  • Yang dicover duluan oleh pengemudi adalah biaya tol, kalau biaya parkir sih tetap dari kita.
  • Setelah “dipasangkan” dengan pengemudi, perhatikan pergerakan posisi mobil. Kalau makin jauh, kemungkinan dia salah paham lokasi penjemputan kita di mana. Jadi bisa kita telpon, atau kita cancel.
  • Kalau kata pengemudinya, jika kita cancel lebih dari 3 menit setelah dipasangkan, kita akan kena biaya sekitar 30rb. Di pengalaman saya sih, sepertinya saya cancel setelah lebih dari 3 menit, tapi tidak ada notifikasi saya kena biaya. Entahlah, males googling.
  • Nah ini penting. Di jam-jam tertentu (dan sepertinya di lokasi tertentu), tariff Uber bisa naik luar biasa. Kemarin malam saya melihat tarif Uber naik 2.5x lipat di daerah JCC Senayan. Setelah 2 menit, turun jadi 2x lipat. Saya tunggu 15 menit, siapa tahu jadi normal. Ternyata malah naik jadi 3.7x lipat. Ya sudah.., tak Uber, Go-Jek pun jadi. 😀

Jangan lupa, kalau mau kode promo pakai: oktosue, anda dapat voucher senilai 75.000 rupiah. 😀

Categories
Umum

Review Perumahan Graha Raya Bintaro

Jadi karena baca tulisan si Zam, kepikiran nulis ini. Kebetulan saya pernah survey langsung ke Graha Raya Bintaro.

Akses

Marketingnya pasti bilang dekat tol, aksesnya gampang, dll. Kalau pengalaman gue sih cukup sengsara ya.

Pintu tol yang terdekat (setahu saya) ada 2, Tol Alam Sutra, dan yang di JORR W2 (entah apa nama gerbangnya). Nah masalahnya kalau ke Tol Alam Sutra, kudu lewat Alam Sutranya. Sementara jalan tembus dari Graha Raya Bintaro ke Alam Sutra itu kecil banget. Saya naek angkot disitu, papasan angkot lain, keduanya harus saling melipir, padahal jumlah kendaraan yang lewat banyak banget. Macet lah pokoknya.

Jarak ke tol JORR W2 jauh juga. Harus melewati Pasar Ciledug, lalu via jalan Ciledug Raya. Ini jalur neraka deh. Macetnya parah beut.. Saya aja ya, waktu itu naik angkot putih kecil itu, dari pasar Ciledug ke arah Kebayoran Lama. Di tengah jalan, saking macetnya, si sopir ngomong ke kami para penumpangnya: “Maaf ya.., sampai sini saja. Nyambunga aja angkot belakang. Saya gak kuat lagi. Mau istirahat aja..”. Padahal itu angkot penuh ! Bayangin deh, sopir angkot yang hidupnya dari situ aja sampai nyerah. Dan setelah pindah ke angkot belakangnya, saya tertidur, bangun, tidur lagi, bangun lagi, dst, sampai akhirnya tiba di Kebayoran Lama. Dan sepanjang jalan itu emang gak ada apa-apa. Gak ada banjir, gak ada kecelakaan, gak truk nyangkut. Ya emang macet aja. Itu Minggu sore sekitar jam 4-an.

Kata seorang teman yang membeli rumah di sini sih, ada alternatif lain via Joglo. Nanti tembus ke Jalan Panjang. Joglo ini memang row jalan nya lebar sih, enggak kaya jalan Ciledug Raya. Tapi kalau musim hujan sering ada genangan air (baca: banjir) di situ.

Dari Graha Raya ada semacam bis shuttle nya. Tapi jumlah dan jam nya sangat terbatas. Tujuan akhirnya pun sangat terbatas. Kalau cuma buat iseng-iseng jalan-jalan di weekend mungkin cocoklah.

Nah ini terkait tulisan saya sebelumnya. Kalau andalannya cuma tol ya gini. Kalau udah macet, semua akses mati. Percuma mau naik angkot kek, shuttle bis kek, sepeda motor kek, mobil pribadi pun sama. Karena jalan yang dilalui ya sama, itu-itu juga. Alternatif KRL gak ada disini. Harus ke BSD atau ke Bintaro Jaya (Sudimara, Jurangmangu), yang jaraknya hampir sama aja dengan ke Jakarta. Kecuali kalau kalian aktifitas sehari-hari gak ke Jakarta sih ya gpp.

Lingkungan

Nah kalau soal lingkungan sih lumayan OK. Kesannya tidak se-elit BSD, atau Bintaro Jaya yang cluster mewahnya, lebih mirip ke Bintaro Jaya sektor 1-3 tapi yang cluster menengahnya. Kayakna kebutuhan sehari-hari juga sudah lengkap ya. Minimarket, resto cepat saji, makanan dan jajanan lucu-lucuan, tempat olahraga, dll cukup lengkap. Cukup bersih juga lingkungannya.

Tapi ada testimony juga dari teman yang lain. Waktu itu dia sudah mau beli rumah di sini. Sudah nego-nego, sudah janjian sama marketingnya, bahakan sudah bawa surat-surat yang diperlukan. Uang DP pun sudah siap. Dalam perjalanan menuju marketing office, dia melihat beberapa spanduk gede terpasang di lingkungan komplek tersebut yang bertuliskan “Kami menolak pembangunan [tempat ibadah] di lingkungan ini..!!!”. Ya apapun [tempat ibadah] nya itu, yang jelas teman saya langsung mati rasa seketika. Berputar haluan, dan mencari rumah lagi di lokasi lain. Kejadian ini sudah hampir 2 tahun lalu sih. Entahlah sekarang. Sewaktu saya kesana sih gak ketemu beginian.

Harga

Teman saya yang beli di kompleks Fortune, Februari 2014, tanah sekitar 85 atau 90 gitu, 2 lantai, dapat harga 800jt. Sewaktu saya kesitu (akhir 2014), mereka membuka cluster baru di kompleks yang sama. Dengan tipe yang sama persis, harganya sudah naik jadi 1,050 M (cash). Kalau KPR jadi sekitar 1,25 M. Sebagai perbandingan saja, di BSD City, cluster-cluster lama, dengan budget segitu, bisa dapat rumah dengan luas tanah 119. Tapi bangunan 1 lantai sih, dan usia bangunan sudah sekitar 7 tahun.

Ini review saya setelah 1 kali kunjungan ke lokasi ya. Ya gak beli juga sih, iseng aja, itung-itung jalan-jalan murah, ketimbang ke Bandung atau ke Jogja, haha.