Blog bukanlah Jurnalisme?

Beberapa waktu belakangan aku sempat *bermain – main* dengan dunia jurnalistik, karena emang sedang nyiapin sebuah situs (ehm.. rahasisa..). Kemudian secara tidak sengaja teringat post nya Babe Nukman tentang blog dan media mainstream yang bedanya sudah semakin tipis. Dan teringat juga beberapa artikel yang saya baca yang isinya mempertentangkan apakah blog itu jurnalisme atau bukan. Akhirnya setelah baca sana – sini, ketemu ‘satu kalimat‘ yang bisa menjawabnya dengan tepat. Saya bikin ilustrasinya seperti ini :

Pengunjung blog : “Apakah blog itu jurnalisme ?”
Labanux : “Anda tahu TV? ”

Pengunjung blog : “Tahu..”
Labanux : “Kalo radio?”

Pengunjung blog : “Tau dong..”
Labanux : “Kalo gitu saya tanya.., apakah TV itu jurnalisme? Apakah radio itu jurnalisme? ”
Pengunjung blog : “Lho kok? ”

Labanux : “Bukankah TV dan radio itu hanya media.., atau bisa dibilang hanya platform. Sama halnya dengan blog. Jadi isi dari TV, radio dan blog itu lah yang menentukan apakah itu suatu bentuk jurnalisme atau tidak..”

Pengunjung blog : “Tadi katanya cuma ‘satu kalimat‘.. ,kok panjang banget? Dasar sok tau..!!”
Labanux : “Yang punya blog sapa.., situ kok sewot..!” *klik kanan.., delete user..*

11 Comments

  1. kesummon blognya pak Nukman…

    oalah.. ternyata ini blognya “anak”nya pak Nukman toh..

    *kabur yang kenceng naik andong*

  2. zam: wah.., kalo saya jadi anaknya dah punya banyak bisnis web dimana – mana bos.. ha..ha 😀
    alfaroby : ora lucu kok.. maksute opo e?? 😀

  3. Mr Nukman : wah.. ada babe nih.. 😀
    Amang Charly : iya amang.., di internasional juga ada lifehacker.com

  4. ilustrasi itu pas…

    tv, radio dan sekelasnya, nyatanya adalah media. semalam (minggu, 3/06/07) aku baca Kompas, Effendi Gazali pelopor Newsdotcom di metro tv itu bilang, kalau media saat ini sarat consumerism dan celebrity… lah kita hanya tinggal cynism.

    Blog gimana dong…

    Memang saat ini kita sedang dilanda virus 3c, dari consumerism nuncullah 3g, apakah blog termasuk bagian dari consumerism.

    gimana… hayoo… aku rasa “That’s right brother!” …. aya, aya wae…

  5. Lebih tepatnya sih kalo menurutku, bukan cara memandangnya. Tapi apa isinya.. , nah kemudian dilanjutkan bagaimana kita memandang isinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *