Page 3 of 61

Startup Kecoa dari Indonesia

[Foto: stevebethell | flickr.com]

Kebanyakan startup lokal (yang baru berdiri) yang saya baca atau temui masih versi idealis. Jadi startupnya dibangun “mungkin” setelah banyak menelan cerita di media yang kurang lebih mengatakan: “Startup X itu awalnya cuma produk iseng. Terus dikembangkan aja pokoknya. Marketnya belum ada siih bukan masalah, justru dia yang bikin marketnya. Urusan ntar duitnya dari mana, belakangan. Yang penting growth-nya bagus. Growth hacking, bro!”

Seringkali mereka lupa, startup itu (seharusnya) adalah perusahaan. Bukan proyek akhir pekan, iseng-iseng berhadiah, atau sekadar mengisi waktu luang -kaya blog saya ini.

Tapi di Echelon 2016 kemarin, saya ketemu 2 startup yang berbeda. Konsepnya jelas, tim pendirinya juga kompeten, dan ini yang paling menarik, bisnisnya memang sudah jalan dan memiliki penghasilan. Ini kalau kata saya startup dengan paket lengkap. Mereka adalah NATAProperty, dan InsanMedika. (InsanMedika bisnis offline nya sudah jalan lama sih sebenarnya).

Di Sillicon Valley kan fokus investor sudah mulai bergeser dari “startup unicorn” ke “startup kecoa”. Startup kecoa itu artinya: realistis, tidak perlu besar-besar banget growthnya, tapi sustain terus dan bisa bertahan melewati berbagai situasi ekonomi. Kaya kecoa beneran, habis perang nuklir pun kemungkinan masih bisa hidup. Bahkan kepalanya dipotong aja masih bisa hidup lama. Dan kedua startup tadi masuk kriteria startup kecoa ini menurut saya.

Kalian mau jadi yang mana? Kecoa atau Unicorn?

Mampu Bayar Pun Belum Tentu Bisa Konsultasi dengan Dokter Terkenal

[Foto: aeu04117 | flickr.com]

Suatu waktu saya pernah diberi saran yang bertolak belakang dari dua dokter spesialis di sebuah rumah sakit terkenal di daerah Jakarta Selatan. Anehnya, kedua dokter ini ruangannya hanya bersebelahan. Dokter yang pertama langsung suruh operasi, lengkap dengan penjelasan biaya-biaya dan opsi paket yang tersedia. Sementara dokter yang kedua bilang tidak apa- apa, rileks aja. Bahkan cuma dikasih obat beberapa butir saja.

Tentu saja saya tidak datang ke kedua dokter itu secara bersamaan. Saya datang ke dokter kedua untuk mencari pendapat kedua (second opinion) setelah dokter pertama tanpa blabliblu dengan super excited bilang mau memberikan tindakan operasi. Read more →

Sotoy Beli Midi Controller

[Foto: Michael Delgado | youtube.com]

Ini cerita lama sebenarnya. Di sekitar tahun 2012 saya cukup aktif ngoprek musik digital. Membuat musik ala-ala EDM, atau kadang rekaman ala kadarnya lalu ditambahkan instrumen musik digital. Dari awalnya coba-coba, belakangan setelah melihat postingan dari @nartzco, saya ikut-ikutan membeli keyboard midi controller M-Audio Keystudio 49.

Saya ingat momen ketika membeli midi controller di toko alat musik itu. Setelah saya konfirmasi mau beli, pegawai tokonya segera memasangkan midi controller nya ke komputer yang ada di sana. Lalu menjalankan software Pro Tools. Saya bengong. Read more →

Teknologi di Indonesia di Mata Ahli Ekonomi

[Foto: superamit | flickr.com]

Mungkin kalian juga sudah baca tulisan Rhenald Kasali tentang “Sharing Economy”? Tulisan ini diforward dari milis ke milis, Facebook, group WhatsApp, dll. Cukup menggugah. Karena memang di tahun 2014 pun, ulasan Wired* tentang “Sharing Economy” juga cukup menggugah.

*Tulisan Wired itu menekankan bahwa Sharing Economy itu maju karena dasarnya adalah rasa saling percaya (trust). Tapi kemudian dibantah oleh NY Magz, yang menyatakan sebenarnya dasarnya adalah terdesak kebutuhan ekonomi. It’s all about money, not trust.

Read more →

Membuat Musik Digital Menggunakan Software Open Source

[Foto: mixtribe | flickr.com]

Semasa kuliah, perangkat lunak open source seputar pengolah musik yang saya tahu hanya Audacity dan LMMS. Kalau di Windows sempat kenal Fruity Loops (sekarang berganti nama jadi FL Studio), tapi sebentar saja. Jadi saya tidak tahu banyak. Bahkan cenderung bingung dengan konsepnya, walaupun banyak yang bilang sangat mudah.

Circa 2009

Setelah di Jakarta, saya kembali ngoprek membuat musik di laptop menggunakan Linux. Perangkat lunak yang saya gunakan:

  • Seq24 (sequencer): Untuk merekam part-part midi.
  • ZynAddSubFX: Synthesizer. Kalau di dunia VST semacam Sylenth1 atau Nexus lah.
  • Hydrogen: Drum machine
  • QjackCtl (JACK audio connection Kit): Semua tool tadi disentralisasi di sini, jadi bisa dimulai secara bersamaan.
  • Audacity: Semacam Photoshop tapi buat audio post-processing (record, cut, multitrack, change pitch / tempo, convert, dll). Sampai sekarang saya masih sering pakai, baik di Windows maupun Mac.

(Sayang saya tidak ketemu screenshot yang sempat saya ambil waktu itu). Read more →

6 Pelajaran dari Transfer Domain Antar Registrar

[Foto: pgs| flickr.com]

Baru-baru ini saya mentransfer domain saya ke registrar lain. Diperpanjang di sana untuk 10 tahun, lalu saya transfer balik ke registrar saya.

*Ngapain sih domainnya ditranfer ke registrar lain cuma untuk perpanjang 10 tahun?

Karena di registrar itu ada voucher yang gak kepakai.

Tetapi setelah berhasil diperpanjang 10 tahun, ternyata domain itu tidak bisa ditransfer balik begitu saja. Saya baru tahu kalau dalam transfer domain antar registrar itu ada yang namanya “Initial 60 Days“. Jadi sebuah domain tidak bisa ditransfer jika baru diregister atau diperpanjang dalam 60 hari terakhir.

Oh iya, ini beberapa hal yang perlu diketahui untuk transfer domain antar registrar:

  1. Whois Privacy (Protected Whois) harus dimatikan.
  2. Pastikan alamat kontak email di Whois domain tersebut masih aktif dan bisa diakses. Karena konfirmasi akan dilakukan ke alamat email tersebut.
  3. Unlock domain tersebut (biasanya secara default domain itu di-lock agar tidak bisa ditransfer).
  4. Pastikan anda tahu Auth Code / EPP Key domain tersebut. Kode ini akan diminta di registrar yang baru.
  5. Setelah proses transfer, akan ada proses konfirmasi ke email pemilik akun sebelumnya. Ini bisa memakan waktu beberapa hari. Dalam kasus saya kemarin, butuh waktu hampir seminggu.
  6. Selama proses transfer, konfigurasi Nameserver masih menggunakan registrar lama.

Perlu diingat, tentu saja akan tetap ada resiko transfernya gagal.

 

Habis Reset Android atau Ganti Ponsel Baru, Begini Cara Mindahin WhatsApp-nya

[Foto: santaolalla | flickr.com]

Setelah reset Android atau ganti ke ponsel Android baru, biasanya pasti mulai install-install lagi kan? Umumnya salah aplikasi yang wajib di-instal itu WhatsApp. Tapi seringkali, habis install terus baru inget, laah.. kemana percakapan (chat) yang kemarin ya? Kok jadi kosong semua gini. Padahal kadangkala ada saja beberapa pesan penting di dalamnya yang masih kita perlukan. Entah itu pesan teks, gambar ataupun video.

Backup WhatsApp ke Google Drive? Bisa sih.. Tapi kalau isinya udah banyak (video, gambar, teks) dan udah lama, besarnya bisa ratusan MB. Lumayan kan kalau harus ngupload segitu langsung dari ponsel ke internet?

Sebenarnya masih ada cara lainnya, dan ini gak perlu lewat internet, yang penting prasyarat 3 ini ada semua:

  1. Ponselnya (iya lah ya..)
  2. Kabel data
  3. Komputer (bisa Windows, Mac, ataupun Linux)

Caranya?

Singkatnya.

  1. Backup Chat di WhatsApp, hapus file yang tidak perlu, folder WhatsApp nya di-zip, terus pindahin ke komputer.
  2. File zip dari folder WhatsApp tadi di copy balik ke ponsel baru ataupun di ponsel yang baru di-reset tadi. Ekstrak. Pastikan struktur foldernya benar (PhoneStorage – WhatsApp – file2 lainnya), bukan seperti ini : PhoneStorage – WhatsApp – WhatsApp – file2 lainnya.
  3. Install WhatsApp. Nanti file backup ini akan dikenali otomatis.
  4. Restore.
  5. Kelar deh.

Kurang detail? Nyoh, baca aja di Labana.ID.

Xiaomi Redmi Note 3 – Tidak Perlu Earphone atau Headset untuk Mendengarkan Radio FM

Beberapa alasan sederhana membuat saya pindah dari Asus Zenfone 2 ke Xiaomi Redmi Note 3. Tentunya alasan selain 7x bolak-balik ke service center Asus sih.

Belakangan saya menemukan alasan lain kenapa saya menyukai ponsel ini. Ternyata tak saya tidak perlu mencolokkan headset/earphone ke ponsel ini untuk mendengarkan radio FM. (Bukan radio internet loh ya). Bukan fitur penting sih, tapi kadangkala saya ada di situasi di mana headset, earphone ataupun colokan speaker dengan jack 3.5mm susah dijangkau. Di saat seperti ini fitur ini sangat berguna.

Saya tidak tahu kalau fitur ini ada atau tidak di ponsel lain, tetapi pengalaman saya beberapa kali menggunakan Android, baru kali ini yang nemu begini. Bahkan di masa-masa jaya Nokia, semua yang saya temui harus menggunakan headset baru bisa dengerin radio FM nya.

Cuma emang tampilannya super polos gitu sih aplikasinya. Aselik.

Pengemudi Uber Ini Ternyata Ayah dari Siti Saniyah (Kontestan The Voice Indonesia)

Hari ini Taksi BlueBird gratis 24 jam. Tapi tadi di Kuningan saya sulit sekali menemukan taksi yang kosong. Akhirnya kembali lagi naik Uber, tak sampai 5 menit sudah dijemput.

Singkat cerita. Setelah ngobrol soal heboh demo pengemudi taksi kemarin, tiba-tiba si pengemudi (namanya Pak Medi) loncat ke topik lain.

Pak Medi (PM): Suka nonton The Voice, Pak?

Saya: Nonton awal-awal doang sih, Pak. Di YouTube. Saya inget ada tuh yang nyanyi-nyanyi seru sama Agnez Mo pas audisi.

PM: Nah, anak saya lolos tuh, Pak. (Ujarnya dengan bangga)

Saya: Hah?! Serius, Pak? Siapa namanya? Read more →

Tantangan Besar bagi MindTalk / Digaku

Beberapa waktu lalu Abang Edwin menulis di blognya perihal pengunduran dirinya dari jabatannya sebagai CEO Ansvia (PT yang menaungi MindTalk.com / Digaku). Saya melihatnya di Linkedin. Kami sempat sedikit “berdiskusi” juga di Linkedin soal MT ini.

*mungkin ada yang masih ingat, di tahun 2011 saya pernah mengulas MindTalk.com saat awal-awal baru diluncurkan. Secuplik sejarahnya ada di sana. Mungkin bagus juga baca dulu detailnya, lalu kembali ke sini.

Slack

Seperti saya sebutkan di review saya dulu, konsep awal MT/Digaku sebenarnya cenderung lebih mirip MIRC ketimbang Facebook Group. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mereka akhirnya memutuskan untuk berubah menjadi social media interest-based. Kalau menurut saya sih pada dasarnya ini adalah Kaskus versi modern.  Read more →