Tag: kompas.com

Akun Twitter Satu Arah (Update)

Bulan Maret 2012 lalu saya menulis tentang Twitter Satu Arah. Intinya, menurut saya tidak semua akun social media (dalam hal ini Twitter) bisa digunakan untuk komunikasi dua arah. Ada yang memang cocok untuk satu arah saja (broadcast).

Di tulisan saya itu saya mengambil contoh akun @kompasdotcom (sekarang berganti jadi @kompascom). Kesimpulan saya rasanya lebih pas kalau akun seperti @kompascom punya akun terpisah untuk komunikasi dua arah.

Nah, sepertinya tim Kompas.com juga sepikiran dengan saya. 17 Juni 2012 lalu, meluncurlah twit pertama dari akun @OrangeDotterz . Ini adalah akun resmi dari Kompas.com yang fokusnya lebih ke kuis, kontes, promo dan aktifitas lainnya. Bahasanya pun sangat casual, dinamis, dan sangat khas para pengguna Twitter Indonesia.

image

Well done Kompas.com

*Kalau saya boleh usul, mungkin lebih baik  lagi kalau nama OrangeDotterz nya diganti dengan yang lebih mudah diucapkan lidah Indonesia dan lebih gampang diinget. Misal : Oranger, TimOranye, Horanye (hore oranye *hahaha..), atau apalah gitu.. 😛

Tentang Twitter Satu Arah

Saya sering membaca tulisan dari orang – orang yang berkecimpung di dunia digital, yang “mengecam” maraknya perusahaan yang menggunakan asset digital (Facebook, Twitter, YouTube), dll tetapi hanya satu arah. Menurut mereka, social media itu harusnya dua arah. Penggunaan satu arah itu, salah kaprah.. Perusahaan – perusahaan ini harusnya aktif menggunakan Facebook, Twitter dan YouTube nya untuk merespon komunikasi yang datang dari user.

Menurut saya tidak begitu. Tidak semua social-media harus dua arah. Ada beberapa tipe penggunaan social media yang satu arah saja sudah cukup. Saya fokuskan disini untuk Twitter.

Sebagai contoh, saya mengikuti akun @kompasdotcom. Alasan saya mengikuti akun ini, karena ketika saya melihat timeline Twitter saya, pada dasarnya saya ingin tahu apa yang terjadi “saat ini”. Entah itu dari lingkungan teman – teman saya, atau dunia yang saya sukai (musik, open source, dll). Nah, jika saya mengikuti akun @kompasdotcom, harapannya saya juga bisa mendapatkan informasi apa yang terjadi “saat ini” di taraf lebih luas. Saya sendiri memang berasumsi bahwa twit dari @kompasdotcom memang bertujuan untuk “hanya” menyampaikan berita saja.

Analogi saya adalah seperti ketika ada rekan kantor yang nyolek saya sambil bilang “Eh.., tau gak, tadi ada pesawat alien jatuh di Sulawesi”. Kalau saya tertarik, saya akan tanya, info darimana? Lalu rekan saya itu memberitahukan darimana dia dapat infonya. Kalau dikembalikan ke contoh akun @kompasdotcom tadi, jika saya ingin tahu lebih lanjut, saya klik link yang diberikan.

Dengan jumlah pengikut (follower) yang sampai 1juta lebih, dan dengan sistem Twitter yang “menerima input” nya hanya via “mention”, secara praktis, tidak mungkin akun Twitter @kompasdotcom tersebut menjadi media komunikasi dua arah. Semua twit yang me-mention akun @kompasdotcom akan masuk ke “tab mention”, sulit dibedakan, mana yang memberi input, cuma komentar sambil numpang RT, atau sekadar mention iseng. (para “social-media-admin” pasti mengerti ribetnya hal ini). Kecuali, kalau bentuk Twitter seperti Plurk, dimana setiap “status” ditanggapi dalam kolom komentar masing – masing “status”, ini masih agak masuk akal.

Lalu bagaimana jika ada user yang mau memberikan input ke Kompas.com via Twitter? Anggap saja, misal selama 1 jam terakhir semua link yang di-twit @kompasdotcom error semua (beneran pernah kejadian), maka akun mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan info ini? Hmm..,kalau dulu sih saya mention akun bosnya Kompas.com, om @etaslim 😛 (maaf ya om, kalau habis ini jadi banyak yg mention).

Nah, mungkin untuk kasus di atas ini perlu dibuatkan akun satu lagi, misal : @kompas_admin. Akun @kompas_admin ini yang bertugas sebagai akun yang me-respon input dari user. Setiap mention ke akun ini, masuk ke sebuah sistem (bisa saja sesederhana forward ke email Corporate Affairs Kompas.com). Dari sistem ini, tim internal Kompas.com bisa mengekskalasi ke bagian – bagian terkait, untuk kemudian direspon lagi via Twitter. (sepertinya ribet memang, tetapi biasanya perusahaan – perusahaan besar itu memiliki protokol komunikasi yang cukup ketat, jadi maklum saja). Bagaimana pengikut akun @Kompasdotcom bisa tahu ada akun @kompas_admin? Ya selama beberapa waktu harus sering dipromosikan lewat akun @kompasdotcom. Setelah pengikutnya aware, maka tinggal diinfokan secara periodik (misal sehari 1 kali).

Jadi, Kompas.com maintain 2 akun dong? Ribet beneeeerr.. Ya dengan kondisi seperti di atas, setidaknya ini menjadi solusi. Mungkin teman – teman punya solusi yang lebih baik? Silahkan share di bawah.

CATATAN : Akun @kompasdotcom ini cuma contoh, untuk akun portal berita lainnya pun kurang lebih sama.

[disunting kembali barusan, postingnya via email, pemisah alinea nya berantakan tadi]

Mengapa Terjun ke Bisnis Online (Website) ?

Saya batasi dulu, yang saya maksud bisnis online (website) dalam tulisan ini : Bisnis yang pemasukan utamanya adalah dari online (misal : dari iklan di webnya, membership berbayar, dsb). Jadi yang bisnisnya utamanya adalah jualan produk dan online-nya “cuma” jadi tempat promosi saja dan transaksi tetap offline bukanlah yang saya maksud. Untuk yang berjualan di online (e-commerce, tiket, jasa reservasi, dll) juga bukan yang saya maksud. Kalau contoh riilnya, bisnis online yang saya maksud : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, Koprol.com, Flickr.com, YouTube.com, Twitter.com, Facebook.com, Pinboard.in.

Nasihat

Oke, lanjut.. Nah jadi, sejak sekitar 5 tahun lalu, saya sering mengamati dunia bisnis online baik lokal maupun luar (tulisan2 jaman itu masih ada di blog ini). Beberapa “sabda” yang dari jaman itu hingga sekarang selalu saya dengar adalah : “Jangan ragu – ragu masuk ke bisnis online di Indonesia… Marketnya sangat besar.., potensi bisnisnya juga sangat besar.. bla..bla..”. (1)

Kemudian biasanya diikuti dengan nasihat : “Inget, bisnis online itu tidak melulu sumber pendapatannya dari iklan, masih banyak model bisnis lainnya, misal : layanan berbayar (seperti 37signals.com), konten premium (seperti DetikPortal.com), and the bla.. and the bla..” (2)

Anehnya, paradoks dengan nasihat di atas, pihak – pihak yang sama (luar negri maupun lokal) juga mempopulerkan ini : “Budget beriklan di online itu sekarang naiknya pesat sekali.., sudah naik jadi _sekian_ persen.” Atau yang seperti ini : “Ada sekian Milliar rupiah budget iklan dari perusahaan – perusahaan di Indonesia dan tiap tahun makin besar nilainya. Hampir semuanya masuknya kesitu – situ juga (portal berita), jadi peluang nya masih besar..” (3)

Skeptis

Teman – teman saya mungkin menganggap saya selalu pesimis soal dunia bisnis online Indonesia. Tapi, saya sendiri sebenarnya merasa saya mengambil sikap skeptis, tapi tetap optimis. Nah berhubungan dengan 3 poin di atas, ini yang mau saya bahas :

(1) Iya.. benar.. marketnya besar.. ada 30-40jt-an pengguna internet di Indonesia (di tahun 2006 dulu diperkirakan baru ada 18jt). Untuk poin ini saya setuju.

(2) Nah untuk poin ini saya masih skeptis. Saya jaman dulu sempat memegang teguh nasihat (2), sehingga sebegitu bencinya saya dengan banner-ads. Seperti di film The Social Network itu, mereka juga anti banget dengan banner ads toh.. (waktu nasihat itu saya dengar, Friendster masih jadi raja soc. network). Tapi nyatanya memang sumber pemasukan paling real itu ya iklan (ads), entah apapun itu bentuknya : tulisan berbayar, banner image, teks, contextual text, link dsb.  (Facebook pun sekarang memasang ads toh… Twitter juga menampilkan ads (dalam bentuk promoted hashtag)).

Iya saya tahu.. kalau efektifitas banner ads itu (katanya) cuma sekitar 2,8%, tapi itu bukankah kalau usernya nggak targeted?  Kalau ngiklan obat diabetes di situs komunitas penderita diabetes lebih efektif dong harusnya ya.. Toh.. situs e-commerce juga (katanya) tingkat konversinya juga paling pol cuma 2%.. bahkan untuk yang sekelas Bhinneka.com yang sudah dipercaya.

Pertimbangan lainnya, situs yang secara trafik memang luar biasa : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, LintasBerita.com dll, sumber pemasukannya dari iklan juga bukan? Kompas.com (yang dibackup group sebesar Kompas Gramedia) pun 70% pemasukannya disumbang oleh halaman depannya (saya lupa baca soal ini dimana), yang berarti 70% nya itu sudah pasti ads (atau saya yang salah tangkap?). Read more →

Detikcom, Kompas, 12 Tab Firefox dan Prosesor

Persamaan Detikcom dan Kompas : sama – sama portal berita besar, sama – sama sudah mengganti wajah, sama – sama punya banyak iklan, sama – sama terus memperbaiki kualitas. Baguslah.. Keep the good work..!

Tapi, masih ada satu lagi nih persamaannya : iklannya banyak yang dalam bentuk animasi flash. Nah.. ternyata inilah yang membuat Firefox saya seringkali hang. Karena iklan dalam bentuk animasi flash yang banyak itu menyedot prosesor di notbuk saya. Memang sih, prosesor saya cuma Core Duo 1,66 Ghz dengan RAM 1 GB.

Load prosesor kalau membuka Detik & blog ini (2 tab di Firefox) :

Detik Proc

Load kalau buka Kompas & blog ini (2 tab di Firefox);

Kompas Proc

Dan ini load prosesor notbuk saya sewaktu buka 12 situs dalam 12 tab Firefox, dan salah satu diantaranya sedang memutar video YouTube :

12 Tab

Hmm.. sepertinya memang saya yang harus upgrade prosesor nih, biar bisa baca berita – berita Indonesia terupdate.

Btw, Detik menghilangkan iklannya yang dalam bentuk frame atas bawah itu. Nice.. bagus sekali, soalnya memang kurang sedap dilihat. Salut buat Detik.. Tapi kok Kompas sekarang malah pasang banner model gitu ya?

Susahnya Web 2.0 di Indonesia

Adakah web 2.0 buatan anak negri ini yang sukses mendulang Rupiah?

Cobalah tengok kisah Fupei.com yang begitu sulitnya berjuang untuk bisa berhasil seperti MySpace, Friendster atau Facebook di Amerika sana.

Bandingkan dengan Detikcom, Bisnis.com, Kompas.com, PortalHR.com dll yang bisa sukses mendulang Rupiah di jagad maya. Ya mungkin karena memang mereka punya kekuatan yang luar biasa : trafik yang sangat tinggi, atau target audience yang jelas (dan berkelas). Sepertinya situs model portal seperti inilah yang lebih menghasilkan, kalau istilah saya, ini bisnis online yang model korporat.

Saya jadi ingat salah satu omongan dosen saya : Indonesia ini kadang – kadang terlalu cepat mengadaptasi suatu perkembangan di luar negri. Padahal seringkali Indonesia ini belum membutuhkannya, atau belum siap terhadap apa yang mau diadaptasi.

Dia mencontohkan Nokia Communicator yang banyak dimiliki oleh anak – anak muda, yang bahkan cara mensetting GPRS di perangkat mobile nya pun tidak tahu. Rame – rame beli HP dengan fasilitas Video Call, padahal tiap isi pulsa cuma 25ribu.

Lalu begitu semangatnya orang – orang datang ke pameran komputer, untuk membeli komputer dengan spesifikasi setara untuk komputer designer animasi 3D di luar negri sana. Padahal komputer itu hanya digunakan untuk mengcopy & edit – edit dikit membuat laporan kuliah, menonton film bajakan, mendengarkan mp3 yang juga bajakan, dan sisanya main game pastinya juga bajakan.

Apakah ini juga yang terjadi dengan web 2.0 di Indonesia? Apakah memang belum saatnya web 2.0 di Indonesia berkembang (dan mendulang Rupiah)? Tak heran kalau banyak web developer lebih tertarik dengan program Affiliate Marketing, Pay per Post, Google AdSense, jual beli link, dsb.. Karena usaha dan modal yang dikeluarkan tidak sebesar jika kita membangun layanan web 2.0 sendiri, tetapi hasilnya sama, atau bahkan lebih besar.

Saya cukup miris membaca betapa rendahnya tawaran investor lokal atas website yang dikembangkan oleh Sanny Gaddafi (Sagad) (27), Melinda Yumin (23), dan Bahder Johan ini.

Entahlah, saya tidak mengerti dunia perbisnisan korporat, saya cuma punya pengalaman 14 tahun mengurusi pembeli di toko keluarga kami. Jadi tidak sebanding ilmunya. Apakah memang begitu kecil nilai bisnis yang ada pada dunia web 2.0 Indonesia? Ataukah ini hanya kasuistik (pada Fupei) saja?

Melihat Trafik Semua Situs di Statbrain.com

Sampai saat ini cukup sulit menemukan layanan gratis yang menyediakan data trafik kunjungan suatu situs, yang bisa diakses secara umum. Memang ada Alexa, ataupun Compete, tetapi ini cuma untuk website yang trafiknya cukup besar. Tetapi beruntung, tanpa sengaja saya menemukan situs lain lagi yang menyediakan layanan data trafik suatu situs, yaitu Statbrain.com.

Sebagai perbandingan, trafik Detikcom, Kompas.com, dan OkeZone jika dibandingkan di Alexa, hasilnya bisa dilihat disini. (ada ulasannya juga)

Sementara itu dari Statbrain hasilnya :

  • Detikcom : 2,270,139 visits per day ! (edan…)
  • Kompas.com : 505,650 visits per day
  • OkeZone.com : 340,218 visits per day
  • Kaskus.us : 2,281,183 visits per day (ternyataDetikcom kalah ya?)

Tapi saya cukup kaget waktu melihat ini :

TheJakartaPost.com – Redevelop, Redesign & Get Defaced ?

Ok.. ok.., gak usah protes, memang gak di deface kok. Cuma diselipkan tulisan saja. Awalnya saya baru tahu kalau web The Jakarta Post baru ganti desain dari blognya bung Aria Rajasa. Iseng – iseng lihat webnya, dan penasaran situs ini dibangun pakai apa. Seperti biasa, saya lakukan cara kuno buat tahu apa engine dibelakang web ini (bahasanya apa, frameworknya, atau CMS nya) yaitu dengan memberi halaman error. Eh taunya malah “saya jadi berita” di situs ini.

The Jakarta Post

Ini bukan hasil rekayasa skrinsut. URL-nya? Maaf, saya tidak bisa memberikan URL nya, takutnya malah disalahgunakan untuk yang aneh – aneh.

Mungkin developernya agak sedikit khilaf 😛 saja. Mudah – mudahan segera diperbaiki.

Btw, TheJakartaPost sudah mulai berbenah juga berarti, mengikuti jejak Kompas.com dan OkeZone.com, saya masih menunggu pendahulu mereka yang satu itu untuk berbenah juga (atau memang tidak akan ya?).

Perang media online
semakin seru tampaknya. Anda ikut?

Meninggalnya Soeharto, Hidupnya Media Berita Online

Mantan presiden RI ke-2, Soeharto telah meninggal dunia. Seluruh media ramai memberitakannya. Mulai dari media radio, televisi, cetak, dan tentunya media online tidak ketinggalan.

Saya tidak ingin membahas polemik seputar kematian Soeharto. Yang menjadi perhatian saya adalah media yang memberitakannya. Mulai dari kabar meninggalnya Soeharto di RSPP 27 Januari lalu, sekitar pukul 13.00, bisa dikatakan tidak ada siaran lain di seluruh stasiun televisi. Seluruh stasiun televisi memberitakan setiap detik momen – momen yang terjadi seputar kematian Soeharto. Praktis, masyarakat Indonesia tidak punya pilihan lain selain melihat berita ini. Bahkan hari ini (28 Januari), mulai dari pukul 07.00 (bahkan mungkin dari sebelumnya), hampir sama sekali tidak ada siaran lain di televisi selain detik – detik menjelang pemakaman Soeharto tersebut.

Lalu, apakah selama dua hari ini (27-28 Januari), tidak ada kejadian penting lainnya di Indonesia maupun dunia? Tentu saja ada. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi terbaru lainnya? (Selain informasi seputar wafatnya Soeharto). Media berita online jawabannya. Walaupun berita utama di Detikcom, Kompas.com, OkeZone, dll masih seputar wafatnya Soeharto, tetapi media – media online ini memiliki kanal – kanal (channel). Dan kanal ini masih tetap aktif memberikan informasi. Misal saja : techno.okezone.com, detikinet.com.

Interaksi

Media berita online memang memiliki beberapa keterbatasan di banding media televisi, diantaranya adalah visualisasi (audio maupun video) secara realtime, jangkauannya yang untuk saat ini masih terbatas di Indonesia. Tetapi media berita online juga memiliki kelebihan yang luar biasa : Interaksi. Di media televisi, anda tidak bisa memilih mana yang ingin anda tonton (tidak bisa berinteraksi). Pilihannya hanyalah ganti channel, atau matikan televisi. Sedangkan di media online tidak demikian. Kalau anda tidak suka berita di headline, anda bisa masuk ke kanal – kanal yang tersedia. Seperti yang kita alami dua hari ini, ketika semua televisi memberitakan (hampir non-stop) kematian Soeharto, para pelaku bisnis tetap bisa mengikuti berita tentang bisnis di Bisnis.com, para pelaku IT bisa tetap mendapatkan informasi dari Detikinet.com, dst. Memang media televisi menyajikan alternatif berita lain melalui fasilitas Newsticker (teks berjalan di bagian bawah layar televisi). Tetapi informasi yang bisa diberikan disini pun sangat terbatas.

Jadi kalau anda (mungkin termasuk saya) ingin bergerak di media online, ini adalah salah satu nilai lebih dari media online. Masih banyak nilai lebih lain yang bisa digali, apalagi dihubungkan dengan kata kunci utamanya : interaksi.