Tahun 2008 kemarin memang spesial buat saya dan keluarga. Setelah 5 tahun lebih kami tidak pernah berkumpul bersama, di tahun ini kami bisa berkumpul bersama lagi. Pertama di Jogja, kemudian di Jakarta, dilanjutkan di Medan. Nah Natal kemarin hingga pergantian tahun ini pun akhirnya kami bisa berkumpul kembali lagi di rumah, di Jambi.

Menyongsong tahun baru 2009 ini sebenarnya saya sudah mencoba membuat beberapa resolusi, dari yang 1024, 1280, sampe yang 1440 :D. Tapi banyak yang tidak bisa dirancang dengan jelas karena beberapa hal yang belum ada kejelasan. Tapi tepat tanggal 31 kemarin, saya mendapat email konfirmasi yang menyatakan aplikasi S2 saya ke luar negri ditolak.. 🙁 *hiks.. padahal dah niat pengen ke luar negri. Tapi gak apalah.., teman saya pun ditolak juga.. Ha.ha..ha

Nah sepertinya besok saya sudah bisa membuat resolusi untuk tahun depan, karena bagian *luar negri* sudah bisa dicoret.. Ha..ha..

Ada banyak hal berbeda di peringatan tahun baru ini dan beberapa tahun sebelumnya. Dari semenjak saya TK, hingga tahun 1999, setahu tidak begitu banyak orang yang merayakan tahun baru dengan begitu meriah. Baru semenjak masuk ke tahun 2000 lah pergantian tahun baru dirayakan begitu meriah di berbagai tempat dan berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.

Ada berbagai macam cara orang merayakan pergantian tahun ini. Di tahun ini yang saya lihat, ada yang dengan memasang musik disco-remix di pinggir jalan, dan para muda – mudinya berjoget ria disana. Ada juga yang berjudi. Ada yang berkeliling kota dengan sepeda motor yang menggunakan knalpot super bising. Ada yang bakar ayam.. Ada yang nongkrong di warung makan, dan kemudian membuat koor spontanitas. Saya sendiri (dan juga hampir semua Jemaat Gereja saya dan beberapa Gereja lainnya) merayakannya dengan mengikuti kebaktian di Gereja, seperti tahun – tahun sebelumnya.

Banyak teman saya yang pernah datang ke rumah ketika Natal, dan mereka bingung karena di rumah saya tidak ada kue – kue dan hidangan layaknya ketika teman – teman saya merayakan hari raya agama mereka. Memang, di kalangan Batak, maupun di beberapa Gereja lainnya, kegiatan silaturahmi seperti layaknya hari raya agama lain, tidaklah dilakukan di hari Natal, tetapi justru di Tahun Baru. Karena itulah, kadangkala sebagian orang menilai kami merayakan Tahun Baru lebih meriah daripada saat Natal. Sebenarnya, karena Natal itu hubungannya lebih kepada hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, sementara Tahun Baru adalah perayaan yang hubungannya lebih ke antara manusia dengan manusia.Momen yang pas juga untuk saling bersilaturahmi. Sambil menghapus luka lama, kita buka lembaran baru.

Selamat Tahun Baru 2009…

NB: Oh iya, tahun baru di Jambi kali ini juga dimeriahkan oleh langkanya minyak tanah dan banyaknya jalan rusak parah..