Dasar Memilih Distro Linux

“Gunakan Linux untuk bekerja.., bukan pilih Linux untuk dikerjai.”

Kurang lebih begitu tag line yang saya pakai dalam memilih distro Linux. Dan saya tekankan, ini buat orang yang make Linux buat keperluan produksi (pengguna komputer sehari – hari). Bukan bagi para sys-admin, ataupun system engineer.

Intinya, pilihlah salah satu distro Linux. Sehingga dengan Distro itu kita bisa bekerja. Bukan justru dengan memilih distro tersebut justru Linux yang menjadi kerjaan. Setiap saat harus dihadapkan dengan konfigurasi sistem, seting ini itu, compile ini itu.., dsb.

Saya rasa mungkin ini yang perlu dikenalkan bagi pengguna Linux baru. Terus, detail bagaimana cara memilih distronya bagaimana? Ok, nanti aku tulis dalam tulisan tersendiri. Tunggu saja…

18 Comments

  1. Saya rasa mungkin ini yang perlu dikenalkan bagi pengguna Linux baru. Terus, detail bagaimana cara memilih distronya bagaimana? Ok, nanti aku tulis dalam tulisan tersendiri. Tunggu saja…

    saya rasa juga nih mas maaf mending jelasin gimana linux tuh soalnya banyak yang belum terbiasa…kan lebih popular windows..aku juga pertama belajar bingungnya minta ampun…btw postingan bagus mas

  2. Betul sekali Pak!! Tapi kalo saya diskusi sama maniak Linux, entah di kantor ato kampus, pasti mereka justru bangga kalo mereka “dikerjain” ama sistem Linux nya. Apalagi pengguna Slackware, makin sulit makin bangga mereka. Sedangkan pengguna Ubuntu bangga kalo mereka harus sedikit-sedikit masuk terminal buat ketik command. Dan kebanyakan mencibir PclinuxOS 2007 yg katanya terlalu mudah…. 🙁

  3. @Adham : Nah.., ini lebih mantep lagi tag line nya.. Siip.. sipp. aku suka itu.. 😀

  4. @Yayang : working for OS…, kayaknya enggak deh.. Itu dulu.. Tapi kalo ternyata nanti potensi bisnisnya gede, why not.. Ha..ha

  5. @dianna : untuk itu lah aku bikin tulisan ini..
    @jampiroqie : yah, begitulah kalau anda berhadapan dengan seorang geeks komputer. Saya juga sempat jadi orang yang kaya gitu, dan sebagian besar newbie sepertinya juga begitu. Tapi perlu dicatat.., si Linus Torvalds sendiri tidak suka distro yang sulit diinstal, sulit dikonfigurasi, apalagi sulit digunakan..

  6. ooo.. ternyata masi kata pengantar tho.. 😀
    tp apakah selalu utk menuju distro linux ‘pilihan yg nyaman’ itu mesti melalui jalan berliku ya..susah jg utk setia, masing2 punya kelebihan dan kekurangan (gak ampe fanatik sih..)..

    bakalan menarik nih tulisannya.. 🙂

  7. wah… saya tunggu cara memilihnya kalau ada… Tapi menurut saya orang2 sudah bisa memilih sendiri distros yang cocok. Asalkan distronya sudah memenuhi kebutuhan orang. cari ajah di distrowatch.com

  8. Saya sebagai admin server memilih OS Linux CentOS aka RHEL gratisan, jika dan hanya jika aplikasi yang saya mau tidak bisa jalan di FreeBSD sebagai OS server utama pilihan saya. Selain itu ogah pegang Linux lain. Capek.

  9. kalian mengomentari apasih kog gua gak nyambung blas, ikutan boleh gak?!!
    aku penggemar dan pemake topimerah tapi gak pernah faham gaya OS ini, gimana ada yang bisa nolongin gua nggak yha???

  10. Tips Membuat memori Virtual

    Meskipun secara teori Linux dapat berjalan di memori 2 MB, tapi lebih
    besar memori akan lebih banyak yang dapat Anda kerjakan. sistem X-
    Windows tidak mau berjalan jika memorinya lebih kecil dari 8 MB.Untuk
    menciptakan tambahan memori virtual sebanyak 8 MB, ketikkan (sbg
    root) :
    # dd if=/dev/zero of=/swapfile bs=1024 count=8192
    # mkswap /swapfile 8192
    # sync
    # swapon /swapfile

    Tambahkan pada baris terakhir di /etc/rc.d/rc.local untuk membuat swapfile
    tersedia diwaktu yang akan datang ketika Anda booting, atau tambahkan
    baris ini di /etc/fstab :

    /swapfile swap swap defaults

    Semoga bermanfaat.

    Salam dari kami :
    KOMUNITAS PELAJAR ILMU KOMPUTER INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *